PSN Bali Telusuri Jejak Aksara Nusantara hingga Aksara Bali
Seminar Eksplorasi Paleografi Nusantara yang digelar PSN Bali di Denpasar membahas hubungan Devanagari, Pranagari, dan aksara daerah, sekaligus menegaskan peran Aksara Bali dalam ritual keagamaan dan pewarisan budaya.
Oleh Asyinta Sastra
Editor: Mursyid Sonsang
· 3 menit baca
Denpasar — Pinandita Sanggraha Nusantara (PSN) Bali menggelar Seminar Eksplorasi Paleografi Nusantara di Aula Kantor PHDI Provinsi Bali, Denpasar, pada Sabtu, 19 September 2026. Kegiatan yang membahas perjalanan aksara Nusantara itu diikuti 187 pendaftar, dengan 44 peserta hadir secara luring dalam format hibrida.
Seminar menghadirkan tiga narasumber, yakni Prof. Dr. Drs. I Made Surada, MA; Dr. I Nyoman Rema, S.S., M.Fil.H; dan Drs. Ketut Sudarsana. Menurut laporan salah satu media lokal, peserta tidak hanya berasal dari Bali, tetapi juga para pengurus dan koordinator wilayah PSN dari sejumlah daerah lain.
Ketua PSN Bali Pinandita Wayan Dodi Arianta mengatakan kajian aksara penting bagi pinandita dan anggota PSN karena berkaitan dengan pemahaman terhadap warisan leluhur. Ia menekankan bahwa pengetahuan tentang aksara tidak cukup hanya mencakup kemampuan membaca dan menulis, tetapi juga perlu disertai pemahaman mengenai sejarah serta nilai yang dikandungnya.
“Melalui seminar ini, kita diharapkan dapat mengenal dan memahami jejak sejarah aksara Nusantara, sehingga mampu menjaga warisan leluhur serta menularkannya kepada generasi muda,” kata Dodi dalam seminar itu.
Simbol organisasi dan jejak aksara
Pembahasan dalam seminar dikaitkan langsung dengan identitas organisasi. Simbol PSN menggunakan Omkara dalam aksara Devanagari, sehingga sejarah perkembangan aksara dipandang penting untuk memahami latar belakang simbol tersebut.
Ketua Umum PSN Pusat Jro Gde Gde Pastika menyampaikan bahwa para pinandita dan jro mangku perlu memahami asal-usul aksara Nusantara. Berdasarkan pemaparan narasumber, perkembangan aksara di Nusantara memiliki hubungan dengan tradisi aksara Devanagari dan Pranagari yang kemudian berkembang di berbagai wilayah.
Menurut paparan seminar, perkembangan itu melahirkan beragam aksara daerah, antara lain aksara Sunda, aksara Jawa atau Hanacaraka, dan aksara Bali. Jro Gde menyebut perubahan bentuk aksara tersebut juga memperlihatkan kekayaan seni dan budaya lokal, termasuk bagaimana masyarakat Bali mengolah aksara menjadi bentuk kaligrafi.
Dalam penyampaian Jro Gde, hubungan sejarah antaraksara tidak menghapus ciri khas Aksara Bali dalam kehidupan keagamaan masyarakat setempat. Ia menegaskan bahwa dalam pelaksanaan ritual keagamaan dan upacara yadnya di Bali, penggunaan aksara tetap mengacu pada Aksara Bali sebagai bagian dari kearifan lokal.
Data dan rencana tindak lanjut
Berdasarkan laporan penyelenggara yang dikutip media lokal, data kegiatan seminar adalah sebagai berikut:
- Pendaftar: 187 peserta.
- Peserta luring: 44 orang.
- Format: hibrida, dengan sesi daring dan luring.
- Lokasi luring: Aula Kantor PHDI Provinsi Bali, Denpasar.
PSN menyatakan bahwa hasil pembahasan seminar tidak berhenti sebagai kegiatan diskusi. Kajian mengenai aksara dan simbol organisasi tersebut direncanakan menjadi salah satu bahan pertimbangan dalam Mahasabha PSN Pusat mendatang, terutama terkait pemahaman simbol dan warisan budaya yang diusung organisasi.
Dalam seminar itu, narasumber dan pengurus PSN juga menekankan pentingnya menghubungkan pengetahuan tentang aksara dengan kebutuhan pewarisan budaya kepada generasi muda. Dalam konteks Bali, pesan tersebut berjalan bersamaan dengan penegasan bahwa Aksara Bali tetap digunakan dalam ritual dan upacara yadnya, sejalan dengan praktik penggunaan aksara Bali dalam tradisi penulisan dan lontar yang telah berkembang lama di daerah ini.
Konteks paleografi dan Aksara Bali
Paleografi merupakan kajian terhadap tulisan atau aksara lama, termasuk bentuk, perubahan, dan penggunaannya dalam perjalanan sejarah. Sejumlah kajian menjelaskan bahwa aksara-aksara di Nusantara, termasuk Aksara Bali, memiliki akar historis pada tradisi aksara di India seperti Brahmi, Devanagari, dan Pallawa sebelum berkembang menjadi berbagai sistem tulisan lokal.
Dalam seminar PSN Bali, pembahasan diarahkan pada jejak perkembangan aksara Nusantara yang dikaitkan dengan Devanagari dan Pranagari, lalu dengan kemunculan beragam aksara daerah. Aksara Bali ditempatkan sebagai bagian dari perkembangan tersebut sekaligus sebagai sistem aksara yang memiliki kekhasan dalam praktik keagamaan dan budaya di Bali. Seminar pada 19 September 2026 itu menjadi forum bagi PSN untuk mengaitkan sejarah aksara, simbol organisasi, dan upaya pewarisan pengetahuan kepada generasi berikutnya.
Sumber
Baca berikutnya
Lanjutan topik ini

Budaya
Digitalisasi dan Komodifikasi Budaya Bali di Ruang Media Sosial
Media sosial dan digital marketing memperluas promosi budaya Bali sekaligus memunculkan risiko penyederhanaan tradisi, ruang hidup, dan nilai lokal me…
Terbaru di Budaya
Berita utama hari ini


