Pemprov Bali Koordinasikan Penguatan Pelaksanaan Tumpek Uye 2026
Dinas Pemajuan Masyarakat Adat Bali menggelar rapat koordinasi virtual pada Jumat, 4 September 2026. Pemerintah mendorong desa adat dan masyarakat menjadikan Tumpek Uye sebagai momentum pelestarian satwa dan lingkungan.
Oleh Asyinta Sastra
Editor: Mursyid Sonsang
· Peristiwa: · 3 menit baca
Denpasar — Dinas Pemajuan Masyarakat Adat (PMA) Provinsi Bali menggelar rapat koordinasi penguatan pelaksanaan Tumpek Uye secara virtual melalui Zoom Meeting pada Jumat, 4 September 2026. Rapat dipimpin Kepala Dinas PMA Bali I G.A.K. Kartika Jaya Seputra dari Ruang Rapat Dinas PMA Provinsi Bali di Denpasar.
Menurut keterangan resmi Dinas PMA Bali, rapat koordinasi itu bertujuan memperkuat sinergi dan kesiapan pelaksanaan Tumpek Uye. Pembahasan diarahkan pada upaya mendorong keterlibatan desa adat dan masyarakat dalam menjaga serta menghormati keberadaan satwa sebagai bagian dari keharmonisan hubungan manusia dengan alam.
Dalam rapat tersebut, Kartika Jaya Seputra didampingi Kepala Bidang Pembinaan Pembangunan Desa Adat Putu Bayu Putra Mahendra, Kepala Bidang Pemajuan Hukum Adat Ida Bagus Rai Dwija Juliarta, dan Kepala Bidang Pembinaan Pemerintahan Desa Adat I Putu Andhika Putra.
Mendorong kepedulian terhadap satwa
Dinas PMA Bali menyatakan koordinasi internal ini diharapkan membuat pelaksanaan Tumpek Uye berjalan secara serentak, bermakna, dan selaras dengan nilai kearifan lokal Bali serta semangat pelestarian lingkungan.
Tumpek Uye sendiri dirayakan pada Sabtu, 5 September 2026, dan ditempatkan pemerintah daerah sebagai momentum penguatan pesan hubungan harmonis antara manusia, alam, dan satwa. Gubernur Bali mengajak komponen masyarakat untuk melepas satwa serta melakukan persembahyangan atau mabhakti bersama di wilayah masing-masing pada pagi hari dengan sarana upakara sesuai dresta Bali.
Menurut pemberitaan media lokal, peringatan Tumpek Uye juga diisi kegiatan tematik yang menekankan kepedulian terhadap hewan dan lingkungan. Dinas terkait melaksanakan vaksinasi rabies gratis secara serentak di Bali untuk memperkuat perlindungan satwa, khususnya anjing.
Peran desa adat dan masyarakat
Rapat koordinasi yang dipimpin Dinas PMA Bali menempatkan desa adat sebagai unsur penting dalam pelaksanaan agenda Tumpek Uye. Bidang yang menangani pembangunan desa adat, hukum adat, dan pemerintahan desa adat dilibatkan dalam pembahasan, menunjukkan bahwa struktur adat didorong berperan aktif menyampaikan pesan pelestarian satwa kepada krama.
Dalam ajakan Gubernur menjelang Tumpek Uye 2026, pemerintah daerah menegaskan prosesi niskala dirayakan melalui persembahyangan bersama di masing-masing wilayah. Kegiatan sekala diarahkan pada tindakan nyata menjaga satwa, termasuk melepas satwa dan mendukung program kesehatan hewan.
Data pokok rapat koordinasi Dinas PMA Bali yang disampaikan dalam keterangan resmi adalah sebagai berikut:
- Waktu pelaksanaan: Jumat, 4 September 2026.
- Format: rapat koordinasi virtual melalui Zoom Meeting.
- Pimpinan rapat: Kepala Dinas PMA Bali I G.A.K. Kartika Jaya Seputra.
- Peserta inti: kepala bidang yang membidangi pembinaan pembangunan desa adat, pemajuan hukum adat, dan pembinaan pemerintahan desa adat.
Koordinasi menjelang Tumpek Uye 2026
Koordinasi internal di lingkungan Dinas PMA Bali berlangsung menjelang pelaksanaan Tumpek Uye pada 5 September 2026. Menurut pemerintah daerah, pelaksanaan Tumpek Uye tahun ini diharapkan menjadi gerakan serentak yang tidak hanya menekankan ritual, tetapi juga praktik pelestarian lingkungan dan perlindungan satwa di masing-masing wilayah.
Di lapangan, sejumlah perangkat daerah menjalankan program yang sejalan dengan semangat perayaan tersebut. Dinas terkait peternakan dan kesehatan hewan melaksanakan vaksinasi rabies gratis secara serentak, sementara di Denpasar dilaporkan kegiatan vaksinasi dan sterilisasi anjing di sekitar Pura Agung Jagatnatha dalam rangka peringatan Tumpek Uye.
Rangkaian kegiatan itu menunjukkan bahwa koordinasi pemerintah provinsi dan desa adat diarahkan pada penguatan pesan kearifan lokal Bali tentang pentingnya menjaga satwa sebagai bagian dari keseimbangan alam.
Sumber
Baca berikutnya
Lanjutan topik ini
Lingkungan
Kasus Gigitan Hewan Penular Rabies di Bali Masih Tinggi
Data Dinas Kesehatan Provinsi Bali hingga 11 September 2026 mencatat 52.645 kasus gigitan hewan penular rabies di sembilan kabupaten/kota dengan 39.19…
Terbaru di Budaya
Berita utama hari ini

Baca juga


