Koster Dorong Bali Jadi Hub Ekspor Saat Ekspor Semester I Turun 0,88 Persen
Wayan Koster mendorong Bali menjadi hub ekspor bagi daerah lain di Indonesia. Dorongan itu muncul saat ekspor barang Bali Januari–Juni 2026 turun 0,88 persen menjadi US$280,51 juta menurut BPS Bali.
Oleh Pandi Muktar
Editor: Mursyid Sonsang
· 2 menit baca
Badung — Gubernur Bali Wayan Koster mendorong Bali menjadi hub ekspor bagi sejumlah daerah di Indonesia. Dorongan itu ia sampaikan saat melepas ekspor salak di Badung pada 17 September 2026, di tengah catatan BPS Bali bahwa nilai ekspor barang provinsi itu pada Januari–Juni 2026 turun 0,88 persen menjadi US$280,51 juta.
Koster menilai Bali punya modal untuk menjadi simpul pengiriman barang karena citra daerah dan konektivitas udara internasional. Ia menyebut gagasan itu bukan hanya untuk produk Bali, melainkan juga untuk komoditas dari provinsi lain yang dapat dikirim lewat Bali.
Data BPS Bali menunjukkan nilai ekspor barang Januari–Juni 2026 lebih rendah dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Pada saat yang sama, Bandara I Gusti Ngurah Rai terus memperluas jaringan penerbangan internasionalnya.
Jaringan udara
Pada 12 Juli 2026, Bandara I Gusti Ngurah Rai tercatat melayani 42 rute internasional dengan dukungan 43 maskapai nasional dan asing. Informasi itu juga diberitakan media lokal yang mengutip pengelola bandara.
Jaringan tersebut membuat Bali dinilai dapat dimanfaatkan tidak hanya untuk penumpang, tetapi juga untuk pengiriman kargo. Dalam pemberitaan yang sama, belum ada rincian mengenai kapasitas kargo, komoditas yang akan dialihkan, atau negara tujuan yang akan menjadi prioritas.
Dukungan pelaku usaha
Rencana menjadikan Bali hub ekspor juga mendapat sambutan dari kalangan usaha. Gabungan Perusahaan Ekspor Indonesia (GPEI) Bali disebut menjalin kerja sama dengan Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali untuk memperkuat ekosistem ekspor.
GPEI Bali juga menandatangani kerja sama dengan Kadin Bali, Hipmi Bali, dan Balai Besar Karantina Hewan, Ikan, dan Tumbuhan Bali. Keterlibatan sejumlah lembaga itu menunjukkan kebutuhan ekspor tidak hanya bertumpu pada akses penerbangan, tetapi juga pada mutu barang, karantina, dan pembiayaan.
Dalam catatan BPS Bali yang dikutip media lokal, nilai ekspor Januari–Juni 2026 mencapai US$280,51 juta, turun 0,88 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2025. Angka itu memberi konteks bagi dorongan pemerintah daerah untuk memperluas fungsi Bali sebagai pintu ekspor.
Pengembangan hub ekspor tersebut juga dikaitkan dengan pembangunan Pusat Kebudayaan Bali, termasuk rencana fasilitas Bali Expo. Namun, jadwal operasional dan mekanisme kerja hub ekspor itu belum dijelaskan secara rinci dalam sumber yang dirujuk.
Sumber
Baca berikutnya
Lanjutan topik ini
Data Bali
UMR Denpasar 2026: Berapa UMK Resmi dan Sejak Kapan Berlaku?
UMK Denpasar 2026 ditetapkan Rp3.499.878,78 per bulan dan berlaku mulai 1 Januari 2026. Berikut arti angka itu, perbedaannya dengan UMP Bali, serta si…
Terbaru di Ekonomi

Berita utama hari ini

Baca juga


