OJK Bali Catat NPL Perbankan Turun Menjadi 2,62 Persen
OJK Bali mencatat NPL perbankan turun menjadi 2,62 persen pada Februari 2026 dari 3,13 persen setahun sebelumnya. Penurunan sejalan dengan penyelesaian kredit restrukturisasi, kenaikan kredit investasi, dan pertumbuhan DPK.
Oleh Pandi Muktar
Editor: Mursyid Sonsang
· 2 menit baca
Denpasar — Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Bali mencatat rasio kredit bermasalah atau non-performing loan (NPL) perbankan di Bali turun menjadi 2,62 persen pada Februari 2026. Angka itu lebih rendah dibandingkan Februari 2025 yang sebesar 3,13 persen, menurut keterangan resmi OJK Bali yang juga dikutip media lokal berbasis di Denpasar.
Kepala OJK Provinsi Bali Parjiman mengatakan perbaikan kualitas kredit terjadi seiring penyelesaian kredit restrukturisasi dan ekspansi kredit perbankan. OJK Bali juga mencatat rasio loan at risk (LaR) turun menjadi 9,29 persen dari 11,94 persen pada Februari 2025.
Di sisi intermediasi, penyaluran kredit perbankan di Bali mencapai Rp119,75 triliun per Februari 2026, tumbuh 6,47 persen dibandingkan setahun sebelumnya. Pertumbuhan tertinggi berasal dari kredit investasi yang naik Rp6,32 triliun atau 17,81 persen.
Kredit investasi itu terutama mengalir ke sektor penyediaan akomodasi dan makan minum serta real estat. Kedua sektor tersebut berkaitan erat dengan aktivitas pariwisata di Bali, yang masih menjadi penopang utama ekonomi daerah.
Penghimpunan dana pihak ketiga (DPK) juga naik menjadi Rp204,59 triliun, atau tumbuh 6,05 persen dibandingkan Februari 2025. Dengan kredit yang lebih kecil daripada DPK, rasio loan to deposit ratio (LDR) tercatat 58,53 persen.
OJK Bali menempatkan kondisi itu sebagai tanda likuiditas perbankan yang masih longgar. Dari sisi permodalan, rasio kecukupan modal atau CAR mencapai 28,31 persen, jauh di atas ambang minimum yang berlaku.
UMKM masih dominan
OJK Bali menyebut 51,32 persen kredit di provinsi ini disalurkan kepada pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Pertumbuhan kredit UMKM tercatat 4,71 persen, dengan porsi debitur didominasi usaha mikro sebesar 42,17 persen dan usaha kecil 37,43 persen.
Di kelompok bank perekonomian rakyat (BPR), OJK Bali mencatat rasio likuiditas 14,74 persen. Dalam tiga bulan terakhir, lembaga itu juga menyebut tidak ada BPR yang berada di bawah rasio lima persen.
Per Februari 2026, OJK Bali menilai kualitas kredit, pertumbuhan kredit, penghimpunan dana, likuiditas, dan permodalan perbankan di daerah itu masih terjaga. Data yang sama menunjukkan perbaikan NPL dan LaR berlangsung bersamaan dengan kenaikan kredit investasi serta DPK.
Data utama per Februari 2026:
- NPL: 2,62 persen, turun dari 3,13 persen pada Februari 2025.
- LaR: 9,29 persen, turun dari 11,94 persen.
- Total kredit: Rp119,75 triliun, tumbuh 6,47 persen.
- Kredit investasi: naik Rp6,32 triliun atau 17,81 persen.
- DPK: Rp204,59 triliun, tumbuh 6,05 persen.
- LDR: 58,53 persen.
- CAR: 28,31 persen.
Sumber
Berita berikutnya

Pendamping PLUT Buleleng Minta UMKM Siapkan Stok dan Legalitas sebelum Go Digital
Pendamping PLUT KUMKM Buleleng, Mubayyinudin, mengingatkan pelaku UMKM menyiapkan kapasitas produksi, stok, kemasan, dan legalitas sebelum memperluas…

