Bali Aktual

Minggu, 20 September 2026

IKK Bali Juli 2026 di Zona Optimistis, Ekonomi Tumbuh 5,78 Persen

Bank Indonesia dan BPS mencatat konsumsi rumah tangga serta optimisme konsumen tetap menjadi penopang utama perekonomian Bali.

Oleh

Editor: Mursyid Sonsang

· 3 menit baca

Denpasar — Bank Indonesia Kantor Perwakilan Provinsi Bali menyatakan konsumsi rumah tangga tetap menjadi salah satu penopang utama perekonomian daerah, seiring Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) Bali yang bertahan pada zona optimistis dan berada di atas rata-rata nasional pada pertengahan 2026.

Survei konsumen yang dirilis Bank Indonesia secara nasional menunjukkan IKK Indonesia pada Juli 2026 berada di level 116,8, masih di atas batas optimistis 100. Sementara itu, pemberitaan media lokal pada pertengahan September 2026 merujuk data BI Bali yang mencatat IKK Bali sebesar 126,3 pada Juli 2026 dan 123,8 pada Agustus 2026, jauh di atas ambang optimistis dan tetap lebih tinggi dari capaian nasional.

Kepala Kantor Perwakilan BI Provinsi Bali Achris Sarwani dalam sejumlah pernyataan publik menyebut keyakinan konsumen yang tinggi mencerminkan persepsi masyarakat terhadap kondisi ekonomi Bali yang membaik. Indeks di atas 100 digunakan BI sebagai penanda bahwa konsumen berada dalam posisi optimistis terhadap penghasilan, ketersediaan lapangan kerja, dan rencana konsumsi ke depan.

IKK Bali dan posisi terhadap nasional

Menurut laporan Survei Konsumen Bank Indonesia untuk Juli 2026, keyakinan konsumen nasional ditopang oleh Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini (IKE) dan Indeks Ekspektasi Konsumen (IEK) yang masing-masing tercatat 107,9 dan 125,7, keduanya berada di zona optimistis meski sedikit menurun dibanding bulan sebelumnya.

Di tingkat daerah, laporan media berbasis data BI Bali menyebut IKK Bali pada Juli 2026 sebesar 126,3, kemudian menyesuaikan menjadi 123,8 pada Agustus 2026, tetapi tetap dikategorikan optimistis dan lebih tinggi dibandingkan IKK nasional. Achris Sarwani menjelaskan penyesuaian tersebut tidak mengubah kondisi fundamental optimisme masyarakat Bali terhadap perekonomian.

Dalam pemberitaan lain, BI Bali juga menekankan bahwa konsumsi rumah tangga masih menjadi penopang utama perekonomian bersama komponen lain seperti belanja pemerintah dan investasi, sejalan dengan tren IKK yang berada di atas 120 di Bali.

Pertumbuhan ekonomi Bali triwulan II 2026

Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Bali mencatat perekonomian Bali pada triwulan II 2026 tumbuh 5,78 persen secara tahunan (year on year), meningkat dari 5,58 persen pada triwulan I 2026 dan berada di atas pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 5,29 persen.

Secara triwulanan, ekonomi Bali pada triwulan II 2026 tumbuh 6,91 persen dibanding triwulan I 2026. Nilai Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) atas dasar harga berlaku (ADHB) mencapai sekitar Rp89,27 triliun, sedangkan atas dasar harga konstan (ADHK 2010) sebesar Rp47,34 triliun.

Laporan BPS dan kajian Kementerian Keuangan menunjukkan struktur ekonomi Bali dari sisi produksi masih didominasi lapangan usaha penyediaan akomodasi dan makan minum dengan kontribusi sekitar 21,91 persen terhadap PDRB triwulan II 2026. Dari sisi pengeluaran, konsumsi rumah tangga menjadi komponen terbesar dengan porsi sekitar 51,14 persen, menegaskan peran konsumsi sebagai penopang utama pertumbuhan ekonomi Bali.

Sektor penopang dan kebijakan lanjutan

Achris Sarwani menyampaikan bahwa pertumbuhan ekonomi Bali pada triwulan II 2026 didorong oleh hampir seluruh lapangan usaha, dengan dukungan yang semakin kuat dari sektor pertanian dan konstruksi, meski lapangan usaha transportasi dan pergudangan tercatat masih terkontraksi.

BPS Bali mencatat pertumbuhan tinggi pada pengadaan listrik dan gas, administrasi pemerintahan, konstruksi, industri pengolahan, serta perdagangan besar dan eceran. Sektor pariwisata yang tercermin dalam penyediaan akomodasi dan makan minum tetap menjadi kontributor terbesar terhadap PDRB Bali.

Sejalan dengan capaian tersebut, Bank Indonesia Provinsi Bali dalam laporan perekonomian daerah menyebut akan melanjutkan sinergi dengan pemerintah daerah dan instansi terkait untuk menjaga momentum pertumbuhan dan stabilitas harga, antara lain melalui forum Tim Percepatan Pertumbuhan Ekonomi Daerah (TP2ED) dan Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID).

Sumber

Berita berikutnya

Baca juga

‹ Kembali ke beranda

Bagikan artikel

Bagikan sebagai gambar

Untuk Story Instagram, Status WhatsApp, atau TikTok. Tautan artikel ikut disalin supaya bisa ditempel di stiker Tautan.

Pratinjau kartu Story / Status untuk artikel ini
Story / Status · 9:16
Simpan gambar
Pratinjau kartu Feed untuk artikel ini
Feed · 4:5
Simpan gambar

Alat baca

Normal

Contoh ukuran teks isi artikel. Pilihan ini tersimpan di perangkat Anda.