Harga Daging Ayam Ras Naik 8,34 Persen, Sumbang Inflasi Bali
BPS Provinsi Bali mencatat harga daging ayam ras naik 8,34 persen dan memberi andil 0,21 poin persentase terhadap inflasi bulanan Bali pada Agustus 2026, yang mencapai 0,61 persen.
Oleh Arsyid Muhamad
Editor: Mursyid Sonsang
· Peristiwa: · 3 menit baca
Denpasar — Harga daging ayam ras di Bali naik 8,34 persen pada Agustus 2026 dan menjadi salah satu penyumbang utama inflasi bulanan provinsi itu yang tercatat 0,61 persen. Kenaikan harga ayam memberi andil 0,21 poin persentase terhadap inflasi Agustus menurut Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Bali.
Kepala BPS Provinsi Bali Agus Gede Hendrayana Hermawan menyampaikan data tersebut dalam pemaparan inflasi di Denpasar pada Selasa, 1 September 2026. Menurut dia, inflasi Bali pada Agustus 2026 juga mencapai 3,45 persen secara tahun ke tahun dan menjadi yang tertinggi dalam empat tahun terakhir.
Berdasarkan keterangan BPS yang dikutip sejumlah media, kenaikan harga daging ayam ras berkaitan dengan meningkatnya permintaan, terutama untuk konsumsi rumah tangga dan kebutuhan kegiatan sosial, sementara pasokan ayam siap panen tidak bertambah secepat permintaan.
Permintaan meningkat, pasokan terbatas
DetikBali memberitakan BPS mencatat daging ayam ras sebagai komoditas dengan kenaikan harga terbesar di Bali pada Agustus 2026, yakni 8,34 persen dengan andil 0,21 persen terhadap inflasi bulanan. Media tersebut mengutip rilis BPS yang menyebut daging ayam ras sebagai penyumbang inflasi terbesar pada bulan itu.
RRI Denpasar melaporkan, berdasarkan rilis BPS Provinsi Bali tanggal 1 September 2026, inflasi Bali secara bulanan pada Agustus 2026 sebesar 0,61 persen, berbalik dari deflasi 0,51 persen pada Juli. Inflasi tersebut terutama bersumber dari peningkatan harga daging ayam ras, tarif angkutan udara, buncis, nasi dengan lauk, dan biaya sekolah dasar.
Dalam berbagai pemberitaan, BPS menjelaskan permintaan daging ayam ras di Bali meningkat seiring aktivitas ekonomi dan pariwisata, serta kebutuhan konsumsi masyarakat. Permintaan yang naik tanpa diimbangi pasokan yang cukup membuat harga terdorong naik.
Kelompok makanan, minuman, dan tembakau dominan
Pengamat ekonomi Trisno Nugroho kepada Bali Tribune menyebut kelompok makanan, minuman, dan tembakau sebagai penyumbang utama inflasi Bali pada Agustus 2026. Kelompok ini mengalami inflasi 1,14 persen secara bulanan dengan andil sekitar 0,35 poin persentase terhadap inflasi Bali.
Dalam kelompok tersebut, daging ayam ras menjadi salah satu komoditas utama setelah harganya naik 8,34 persen. BPS menempatkan kelompok makanan, minuman, dan tembakau sebagai pendorong terbesar inflasi bersama kelompok transportasi, termasuk angkutan udara dan bensin.
Media lokal lain mencatat pola serupa di kabupaten. Di Tabanan, misalnya, kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyumbang terbesar inflasi dengan sejumlah komoditas pangan termasuk daging ayam ras memberikan andil signifikan. Hal ini menunjukkan tekanan harga pangan, termasuk ayam ras, terjadi di berbagai wilayah Bali.
Dampak terhadap daya beli
Agus Gede Hendrayana Hermawan menyatakan inflasi 3,45 persen secara tahunan pada Agustus 2026 perlu diwaspadai karena berpengaruh terhadap daya beli masyarakat. Ia menilai, meski masih dinilai relatif terkendali, inflasi tertinggi dalam empat tahun terakhir ini menjadi sinyal perlunya penguatan pasokan dan logistik pangan.
Sejumlah pengamat yang dikutip media lokal mendorong pemerintah daerah memperkuat rantai pasokan dan distribusi pangan untuk menekan gejolak harga komoditas utama, termasuk daging ayam ras, agar dampaknya terhadap konsumsi masyarakat Bali dapat dibatasi.
Sumber
Berita berikutnya

KAI, Pemprov Bali, dan Badung Teken Kesepakatan Awal Pengembangan Kereta
KAI, Pemprov Bali, dan Pemkab Badung pada 1 September 2026 meneken kesepakatan awal pengembangan perkeretaapian di Bali. Tahap pertama mencakup invent…

