Bali Aktual

Selasa, 22 September 2026

BPD Bali dan OJK Perkuat Hilirisasi Kakao, Kuota KUR Naik Jadi Rp2,05 Triliun

Bank BPD Bali, OJK Bali, dan Tim Percepatan Akses Keuangan Daerah memperkuat hilirisasi kakao di Tabanan melalui pembiayaan, penjaminan risiko usaha, dan dukungan sarana produksi petani.

Oleh

Editor: Mursyid Sonsang

· 2 menit baca

Buka foto ukuran besar. Ilustrasi: Dua buah kakao menggantung di dahan pohon di antara dedaunan hijau.
Ilustrasi: Dua buah kakao menggantung di dahan pohon di antara dedaunan hijau. · Foto: Valeria Drozdova / Pexels

Tabanan — Bank BPD Bali bersama Otoritas Jasa Keuangan Provinsi Bali dan Tim Percepatan Akses Keuangan Daerah memperkuat ekosistem usaha kakao di Tabanan melalui pembiayaan, penjaminan risiko usaha, dan dukungan sarana produksi bagi petani.

Langkah itu dibahas dalam kegiatan yang digelar di Tabanan pada 18 September 2026. Dalam keterangan resmi Bank BPD Bali, kerja sama tersebut diarahkan untuk mendorong hilirisasi kakao agar rantai usaha petani tidak berhenti pada penjualan bahan baku.

Bank BPD Bali menyebut penyaluran Kredit Usaha Rakyat hingga akhir Agustus 2026 telah mencapai 89,26 persen dari target kuota tahun ini. Karena serapan itu tinggi, bank daerah tersebut mengajukan tambahan plafon KUR sebesar Rp254,4 miliar.

Dengan tambahan itu, total kuota KUR Bank BPD Bali pada 2026 naik menjadi Rp2,05 triliun, dari realisasi 2025 sebesar Rp1,769 triliun. Bank BPD Bali juga menyatakan berencana mengajukan kuota KUR hingga Rp3,5 triliun pada tahun depan.

OJK Bali menilai penguatan ekosistem kakao perlu melibatkan banyak pihak agar petani memperoleh akses pembiayaan, kepastian pasar, dan perlindungan usaha. Dalam skema yang dipaparkan, pembiayaan dihubungkan dengan kebutuhan budidaya dan pengolahan agar nilai tambah kakao tetap berada di daerah.

Di sisi lain, Bank BPD Bali pada periode yang sama juga melaporkan penyaluran KUR sebesar Rp1,61 triliun kepada 2.378 rekening. Lembaga itu menyebut penyaluran terbesar berasal dari cabang Denpasar dan Tabanan, dengan porsi sektor produksi mencapai 70 persen.

Pengembangan kakao di Tabanan ini menjadi bagian dari upaya memperkuat ekonomi daerah lewat komoditas pertanian unggulan. Pemerintah daerah dan lembaga keuangan daerah menempatkan kakao sebagai komoditas yang berpeluang didorong dari hulu sampai hilir.

Sumber

Baca berikutnya

  1. Lanjutan topik ini

  2. Terbaru di Ekonomi

  3. Berita utama hari ini

Baca juga

‹ Kembali ke beranda

Bagikan artikel

Bagikan sebagai gambar

Untuk Story Instagram, Status WhatsApp, atau TikTok. Tautan artikel ikut disalin supaya bisa ditempel di stiker Tautan.

Pratinjau kartu Story / Status untuk artikel ini
Story / Status · 9:16
Simpan gambar
Pratinjau kartu Feed untuk artikel ini
Feed · 4:5
Simpan gambar

Alat baca

Normal

Contoh ukuran teks isi artikel. Pilihan ini tersimpan di perangkat Anda.