47,1 Hektare Lahan Pertanian Jembrana Puso akibat Kemarau
Dinas Pertanian dan Pangan Jembrana mencatat 138,3 hektare lahan pertanian terdampak kekeringan pada musim kemarau 2026. Sebanyak 47,1 hektare di antaranya dinyatakan puso, dengan padi sebagai komoditas paling terdampak.
Oleh Pandi Muktar
Editor: Mursyid Sonsang
· Peristiwa: · 3 menit baca
Jembrana — Sebanyak 47,1 hektare lahan pertanian di Kabupaten Jembrana, Bali, mengalami puso akibat kekeringan pada musim kemarau 2026. Menurut Dinas Pertanian dan Pangan Jembrana, total luas lahan yang terdampak kekeringan mencapai 138,3 hektare dan tersebar di lima kecamatan, yakni Negara, Jembrana, Melaya, Mendoyo, dan Pekutatan.
Pelaksana Tugas Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Jembrana I Putu Eka Arta menjelaskan, dari total 138,3 hektare lahan terdampak, sekitar 11 hektare berhasil pulih, sementara 47,1 hektare tidak dapat diselamatkan dan dinyatakan puso. Kerusakan lahan bervariasi dari kategori ringan hingga berat, dengan tanaman padi sebagai komoditas yang paling banyak terdampak di seluruh kecamatan.
Menurut penjelasan Eka Arta, kemarau tahun ini menyebabkan pasokan air irigasi menurun sehingga sejumlah petak sawah tidak memperoleh suplai air yang memadai. Kondisi tersebut membuat sebagian tanaman padi mengering sebelum masa panen.
Jagung terdampak di Pekutatan
Kekeringan tidak hanya memukul sawah padi. Dinas Pertanian dan Pangan Jembrana mencatat dampak serupa pada lahan jagung di Kecamatan Pekutatan. Tanaman jagung terdampak meliputi sekitar 4 hektare di Subak Air Satang, Desa Medewi, dan 1 hektare di Subak Pangkung Serangsang, Desa Gumbrih.
Lahan jagung tersebut mengalami penurunan produksi karena kekurangan air. Tanaman tidak tumbuh optimal dan sebagian mengalami kerusakan.
Upaya penanganan kekeringan
Dinas Pertanian dan Pangan Jembrana berkoordinasi dengan sejumlah pihak untuk menangani dampak kekeringan pada lahan pertanian. Menurut pemberitaan media lokal, berbagai instansi pemerintah di Bali memaksimalkan penggunaan sumur bor untuk menyuplai air ke lahan terdampak.
Di tingkat subak, pengelola irigasi menerapkan sistem pergiliran air untuk membagi pasokan yang terbatas di antara petani. Sistem ini bertujuan menjaga agar tanaman tetap mendapatkan minimal suplai air meski debit irigasi menurun.
Namun, data Dinas Pertanian dan Pangan Jembrana menunjukkan kapasitas sumur bor dan pasokan air yang tersedia belum mencukupi kebutuhan seluruh lahan terdampak. Keterbatasan debit air dalam skema pergiliran menyebabkan sebagian tanaman padi tidak tumbuh maksimal dan akhirnya mengalami gagal panen di lahan seluas 47,1 hektare.
Data lahan terdampak
- Total lahan pertanian terdampak kekeringan di Jembrana: 138,3 hektare.
- Lahan yang dilaporkan pulih: sekitar 11 hektare.
- Lahan tanaman yang dinyatakan puso: 47,1 hektare.
- Lahan jagung terdampak di Pekutatan: 5 hektare (4 hektare di Subak Air Satang dan 1 hektare di Subak Pangkung Serangsang).
Konteks kemarau di Bali
Kemarau 2026 berdampak luas pada sektor pertanian di sejumlah kabupaten di Bali. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Bali mencatat kekeringan lahan pertanian di Jembrana seluas 79,95 hektare sebagai bagian dari total ratusan hektare lahan yang terdampak di empat kabupaten.
Selain kekeringan lahan pertanian, BPBD juga melaporkan distribusi air bersih ke warga terdampak di Jembrana dan kabupaten lain di Bali sepanjang periode kemarau. Data tersebut menunjukkan tekanan kemarau tidak hanya pada sektor pertanian, tetapi juga pada ketersediaan air bagi rumah tangga.
Sumber
Baca berikutnya
Lanjutan topik ini

Kabupaten/Kota
BMKG Tetapkan Buleleng Berstatus Awas Kekeringan Pada 11–20 September 2026
BMKG menetapkan Kabupaten Buleleng berstatus awas kekeringan meteorologis pada Dasarian II September 2026, periode 11–20 September.
Terbaru di Lingkungan

Baca juga


