Bali Aktual

Senin, 21 September 2026

120 Tahun Puputan Badung, 1.000 Penari dan Film Dokudrama

Pemerintah Kota Denpasar menyiapkan penampilan sekitar 1.000 penari dan pemutaran perdana film dokudrama “Puputan Badung 1906: Mati Tan Tumut Pejah” pada Minggu, 20 September 2026 di Lapangan Puputan Badung I Gusti Ngurah Made Agung.

Oleh

Editor: Mursyid Sonsang

· 3 menit baca

Denpasar — Pemerintah Kota Denpasar memperingati 120 tahun Puputan Badung dengan penampilan sekitar 1.000 penari bertema “Mati Tanpa Pejah” dan pemutaran perdana film dokudrama Puputan Badung 1906: Mati Tan Tumut Pejah pada Minggu, 20 September 2026 di Lapangan Puputan Badung I Gusti Ngurah Made Agung, Denpasar.

Peringatan akan diawali apel peringatan pada pagi hari. Setelah itu, Dinas Kebudayaan Kota Denpasar menampilkan garapan kolosal “Mati Tanpa Pejah” pada sore hari sebagai inaugurasi sebelum penayangan film.

Menurut Kepala Dinas Kebudayaan Kota Denpasar Raka Purwantara, tema “Mati Tanpa Pejah” diambil dari semangat perjuangan Puputan Badung 1906. Peringatan ini diposisikan sebagai momentum meneruskan nilai perjuangan dalam menghadapi persoalan masa kini, bukan perayaan kemenangan ataupun peringatan kemerdekaan.

Kepala Bidang Kesenian Dinas Kebudayaan Kota Denpasar I Wayan Narta menjelaskan, pertunjukan kolosal akan digelar terbuka di Lapangan Puputan Badung I Gusti Ngurah Made Agung yang sekaligus menjadi panggung. Penonton akan menyaksikan penampilan dengan latar tiang bendera, patung, dan ikon Puputan Badung di lapangan tersebut.

Film dokudrama tayang pukul 19.00 WITA

Film dokudrama Puputan Badung 1906: Mati Tan Tumut Pejah dijadwalkan tayang perdana pada Minggu, 20 September 2026, pukul 19.00 WITA di Lapangan Puputan Badung I Gusti Ngurah Made Agung. Pemutaran dilakukan terbuka untuk umum di lokasi yang dipilih karena nilai sejarahnya.

Film berdurasi sekitar 50 menit ini diproduksi Dinas Kebudayaan Kota Denpasar dan disutradarai I Gusti Made Aryadi, digarap bersama rumah produksi Jayagiri Production. Menurut laporan Bali Post, film tersebut merekonstruksi peristiwa Puputan Badung 1906 melalui medium audiovisual dengan pendekatan dokudrama dan melibatkan ratusan pemain dari berbagai latar belakang.

Produser Jayagiri Production I Gusti Ngurah Murthana, yang dikenal dengan nama Rahman, mengatakan proses penggarapan film berlangsung sekitar enam bulan, mulai dari riset hingga penyelesaian produksi. Riset dilakukan menggunakan sumber tertulis dan lisan, termasuk wawancara dengan penglingsir Puri Agung Denpasar, Puri Agung Pemecutan, dan Puri Agung Kesiman, serta ahli sejarah dan seniman Marmar Herayukti.

Film menampilkan tokoh-tokoh utama terkait Puputan Badung, di antaranya Raja Denpasar I Gusti Ngurah Made Agung, Raja Pemecutan, dan Raja Kesiman I Gusti Ngurah Mayun. Produksi melibatkan ratusan pemain, seniman lokal, serta sejumlah warga asing untuk memerankan tokoh yang berkaitan dengan pihak Belanda.

Lokasi pengambilan gambar mencakup sejumlah situs bersejarah dan kawasan di Bali, antara lain Puri Kesiman, Puri Jro Kuta, Puri Klungkung, Bali Heritage Hotel, Pantai Saba, kawasan Pering di Gianyar, Tukad Unda, Desa Negari di Klungkung, serta beberapa lokasi di Denpasar. Musik ilustrasi digarap oleh komposer asal Denpasar, Ary Palawara.

Data agenda: Pertunjukan kolosal sekitar 1.000 penari digelar di Lapangan Puputan Badung I Gusti Ngurah Made Agung pada sore hari; pemutaran film dokudrama Puputan Badung 1906: Mati Tan Tumut Pejah berlangsung Minggu, 20 September 2026, pukul 19.00 WITA, dengan durasi sekitar 50 menit.

Arsip digital sejarah

Selain menjadi bagian dari peringatan 120 tahun Puputan Badung, film dokudrama ini disiapkan Dinas Kebudayaan Kota Denpasar sebagai arsip digital sejarah tentang Puputan Badung 1906. Rahman menyatakan, karya ini diharapkan membantu menyampaikan sejarah kepada generasi muda melalui media visual.

Laporan Tribun Bali menyebut pembiayaan dan kepemilikan proyek film berada pada Dinas Kebudayaan Kota Denpasar, sementara Jayagiri Production menangani aspek teknis, kru, talenta, busana, dan properti produksi. Penggarapan dilakukan secara kolosal dengan dukungan berbagai unsur seni dan teknologi visual untuk menghidupkan kembali suasana masa lalu.

Sumber

Berita berikutnya

Baca juga

‹ Kembali ke beranda

Bagikan artikel

Bagikan sebagai gambar

Untuk Story Instagram, Status WhatsApp, atau TikTok. Tautan artikel ikut disalin supaya bisa ditempel di stiker Tautan.

Pratinjau kartu Story / Status untuk artikel ini
Story / Status · 9:16
Simpan gambar
Pratinjau kartu Feed untuk artikel ini
Feed · 4:5
Simpan gambar

Alat baca

Normal

Contoh ukuran teks isi artikel. Pilihan ini tersimpan di perangkat Anda.