109 Siswa SMP di Gerokgak Belajar Nyurat Lontar di Gedong Kirtya
Sebanyak 109 siswa SMP dari sembilan sekolah di Gerokgak mengikuti Belajar Bersama di Museum di Gedong Kirtya Buleleng pada 17 September 2026. Mereka belajar nyurat lontar dan menulis aksara Bali, termasuk sejumlah pelajar Muslim.
Oleh Asyinta Sastra
Editor: Mursyid Sonsang
· 3 menit baca
Singaraja — Sebanyak 109 siswa SMP dari sembilan sekolah di Kecamatan Gerokgak mengikuti program Belajar Bersama di Museum yang digelar UPTD Gedong Kirtya Buleleng pada Kamis, 17 September 2026. Kegiatan ini memperkenalkan tradisi nyurat lontar kepada pelajar, termasuk sejumlah siswa Muslim, melalui praktik menulis aksara Bali di atas daun lontar.
Kepala UPTD Gedong Kirtya Buleleng, Dewa Ayu Putu Susilawati, mengatakan program Belajar Bersama di Museum ditujukan untuk siswa SMP. Dalam pemberitaan yang sama, ia membedakan program itu dari Museum Masuk Sekolah yang menyasar siswa sekolah dasar.
Para peserta terlebih dahulu menerima penjelasan singkat tentang aksara Bali dan tata cara menulis di atas lontar. Setelah itu, mereka langsung mempraktikkan nyurat lontar dengan alat dan media yang disiapkan instruktur.
Balipost melaporkan, setelah praktik menulis, peserta diajak mengunjungi museum untuk melihat koleksi dan mengenal lebih jauh warisan pengetahuan yang tersimpan di Gedong Kirtya. Laporan NusaBali juga menyebut kegiatan itu berlangsung di Gedung Sasana Budaya Buleleng dan diikuti siswa dari berbagai latar belakang.
Salah satu guru pendamping dari SMP Miftahul Ulum Patas, Widyawati, menyambut baik kegiatan tersebut. Menurut dia, praktik langsung menulis di lontar memberi pengalaman baru bagi siswa dan dapat memperkuat persaudaraan antarpelajar sekaligus mendukung pelestarian budaya Bali.
Kegiatan ini menunjukkan upaya Gedong Kirtya memperkenalkan tradisi nyurat lontar kepada generasi muda dengan metode praktik langsung. Keterlibatan siswa dari lebih dari satu latar belakang agama menjadi bagian dari pendekatan pembelajaran yang terbuka bagi pelajar di Gerokgak.
Data kegiatan: 109 siswa SMP; sembilan sekolah di Kecamatan Gerokgak; penyelenggara UPTD Gedong Kirtya Buleleng; materi utama pengenalan aksara Bali dan praktik menulis di daun lontar.
Pengalaman belajar di museum
Susilawati menjelaskan bahwa peserta tidak hanya belajar menulis, tetapi juga mendapat pengantar mengenai tradisi dan proses dasar nyurat lontar sebelum praktik dimulai. Metode ini memberi kesempatan kepada siswa untuk mengenal warisan budaya Bali secara langsung, bukan hanya melalui penjelasan di kelas.
Setelah sesi praktik, para siswa melihat koleksi museum dan memperoleh pengenalan lanjutan mengenai benda serta pengetahuan yang disimpan Gedong Kirtya. Kegiatan itu menempatkan museum sebagai ruang belajar, bukan hanya tempat penyimpanan koleksi.
Program Belajar Bersama di Museum menjadi salah satu cara Gedong Kirtya menjangkau pelajar SMP di Buleleng. Dalam kegiatan ini, tradisi nyurat lontar diajarkan sebagai pengetahuan budaya yang dapat dipelajari bersama tanpa membedakan latar belakang peserta.
Widyawati mengatakan sekolahnya mengikutsertakan delapan siswa dalam kegiatan tersebut. Ia berharap program serupa tetap dilanjutkan agar lebih banyak pelajar bisa memperoleh pengalaman belajar langsung di museum.
Tradisi nyurat lontar sendiri merupakan praktik menulis atau mengukir aksara Bali pada daun lontar. Melalui kegiatan ini, siswa diperkenalkan pada bentuk pembelajaran budaya yang menggabungkan keterampilan menulis, pengenalan aksara, dan kunjungan museum.
Sumber
Baca berikutnya
Lanjutan topik ini
Budaya
Kajeng Kliwon Enyitan 25 September 2026: Makna dan Praktik Umat
Kajeng Kliwon Enyitan tercatat jatuh pada Jumat, 25 September 2026, setelah Tilem dalam kalender Hindu Bali. Umat Hindu di Bali memanfaatkan hari ini…
Terbaru di Budaya
Berita utama hari ini

Baca juga



