Unud Siapkan Konservasi dan Desa Wisata Anggrek Lokal Bali
Fakultas Pertanian Universitas Udayana merancang program lima tahun adaptasi dan pengembangan sumber daya genetik anggrek lokal Bali.
Oleh Pandi Muktar
Editor: Mursyid Sonsang
· Peristiwa: · 3 menit baca
Denpasar — Fakultas Pertanian Universitas Udayana menyiapkan program adaptasi dan pengembangan sumber daya genetik anggrek lokal Bali yang dirancang berlangsung pada periode 2026–2030. Program ini dibahas dalam Focus Group Discussion (FGD) di Aula Pascasarjana Kampus Sudirman Denpasar, Selasa, 8 September 2026, dengan melibatkan pemerintah, lembaga riset, komunitas, dan pelaku usaha.
Dekan Fakultas Pertanian Universitas Udayana I Putu Sudiarta menjelaskan, pengembangan anggrek lokal Bali menjadi bagian komitmen menjaga keanekaragaman hayati melalui riset, konservasi, dan pemberdayaan masyarakat. Rencana pengembangan mencakup eksplorasi, karakterisasi, dan konservasi anggrek alam Bali, pengembangan teknologi perbanyakan, serta pembentukan desa wisata anggrek di Dusun Dasong, Desa Pancasari, Kecamatan Sukasada, Kabupaten Buleleng.
FGD bertajuk “Adaptasi dan Pengembangan Sumber Daya Genetik Anggrek Lokal Bali” itu mengusung tema “Anggrek untuk Konservasi dan Kesejahteraan: Sinergi Universitas, Masyarakat, dan Industri Berkelanjutan”. Kegiatan dibuka Ketua DPD Persatuan Anggrek Indonesia (PAI) Provinsi Bali Putri Suastini Koster, dengan sambutan dari Dekan Fakultas Pertanian Universitas Udayana dan Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Bali.
Pendataan dan konservasi anggrek lokal
Menurut paparan tim pelaksana program Fakultas Pertanian, tahap awal pada 2026 difokuskan pada eksplorasi anggrek, penyusunan basis data dan peta sebaran, penguatan kelembagaan masyarakat, konservasi berbasis kearifan lokal, pengembangan kultur in vitro, serta persiapan paket wisata berbasis konservasi.
Pendataan direncanakan meliputi pencatatan karakter tanaman, lokasi tumbuh, dan dokumentasi lapangan sebagai dasar penyusunan basis data dan peta sebaran anggrek lokal Bali. FGD menghasilkan rekomendasi perlunya pendataan sekitar 250 jenis anggrek, yang kemudian menjadi salah satu target program.
Dalam diskusi itu, PAI Bali dan Fakultas Pertanian menekankan pentingnya konservasi yang menggabungkan pendekatan ilmiah dengan budaya lokal Bali. Filosofi hubungan harmonis antara manusia dan lingkungan disebut sebagai landasan pengembangan kawasan berbasis konservasi anggrek.
Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Bali menyatakan dukungan terhadap penelitian dan pengembangan anggrek lokal, dengan menekankan bahwa pengelolaan sumber daya genetik spesies liar harus mengikuti ketentuan perizinan dan konservasi. BKSDA mendorong pemanfaatan kawasan konservasi sebagai lokasi penelitian yang terukur dan terdokumentasi.
Teknologi perbanyakan dan rencana desa wisata
Fakultas Pertanian Universitas Udayana menyiapkan pengembangan teknologi perbanyakan anggrek melalui kultur in vitro dan perbanyakan massal. Menurut pemaparan dekan, metode perbanyakan berbasis penelitian dipandang penting untuk menjaga kelestarian sekaligus menyediakan bahan tanam bagi budidaya berkelanjutan.
Hilirisasi program dirancang antara lain melalui pengembangan Desa Wisata Anggrek di Dusun Dasong, Desa Pancasari, Kecamatan Sukasada, Buleleng. Dusun ini berada di wilayah Desa Pancasari yang sudah ditetapkan sebagai kawasan daya tarik wisata khusus di Kecamatan Sukasada. Dalam FGD, pengembangan desa wisata anggrek disebut melibatkan pemerintah desa, kelompok tani, kelompok sadar wisata, pelaku UMKM, dan generasi muda.
Dekan Fakultas Pertanian menyebut pengembangan anggrek lokal Bali sebagai model kolaborasi antara konservasi, penelitian, pendidikan, pariwisata, dan pemberdayaan masyarakat. FGD menghadirkan perwakilan Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Bali, Dinas Pariwisata Provinsi Bali, Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA) Provinsi Bali, BRIN, BKSDA Bali, PAI Bali, serta perangkat desa Pancasari dan Dusun Dasong.
Sinergi kelembagaan dan tahapan lima tahun
Menurut keterangan BRIDA Bali, agenda utama FGD mencakup penyampaian rencana kegiatan tim peneliti mengenai sumber daya genetik anggrek lokal, serta paparan sejumlah narasumber ahli. Pertemuan ini diposisikan sebagai langkah awal merumuskan sinergi antara konservasi flora lokal dan peningkatan kesejahteraan masyarakat.
Program lima tahun 2026–2030 disusun sebagai tahapan berkelanjutan dari hulu ke hilir: mulai dari inventarisasi dan konservasi anggrek alam Bali, pengembangan teknologi perbanyakan, hingga pembentukan kawasan wisata berbasis konservasi di Dusun Dasong. Para pemangku kepentingan berharap anggrek lokal Bali dapat berkembang sebagai daya tarik wisata yang khas dan penggerak ekonomi warga setempat tanpa mengabaikan prinsip konservasi.
Sumber
Baca berikutnya
Lanjutan topik ini

Pariwisata
Oktoberfest Bali Digelar 16–17 Oktober 2026 di Denpasar
Oktoberfest dijadwalkan kembali digelar di Das Bistro by Mama’s, Pemogan, Denpasar Selatan, pada 16–17 Oktober 2026. Acara berlangsung pukul 17.00–24.…
Terbaru di Lingkungan
Berita utama hari ini

Baca juga



