PLN dan Pemprov Bali Siapkan Klaster PLTS 1.000 MWp dan BESS 3.300 MWh
PLN dan Pemerintah Provinsi Bali menyiapkan lima klaster PLTS berkapasitas total 1.000 MWp dengan dukungan sistem penyimpanan energi baterai 3.300 MWh sebagai bagian dari Program PLTS 100 GWp.
Oleh Arsyid Muhamad
Editor: Mursyid Sonsang
· Peristiwa: · 3 menit baca
Denpasar — PT PLN (Persero) dan Pemerintah Provinsi Bali berkolaborasi mempercepat pengembangan infrastruktur ketenagalistrikan berbasis energi terbarukan melalui pembangunan lima klaster Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) dengan kapasitas total sekitar 1.000 megawatt peak (MWp) yang didukung sistem penyimpanan energi baterai atau Battery Energy Storage System (BESS) berkapasitas 3.300 megawatt hour (MWh).
Kerja sama ini menjadi bagian dari Program PLTS 100 gigawatt peak (GWp) yang diluncurkan pemerintah pusat sebagai langkah menuju swasembada energi nasional. Menurut keterangan Direktur Utama PLN Darmawan Prasodjo, kapasitas 1.000 MWp tersebut dikembangkan khusus di Bali bersama pemerintah provinsi, dengan alokasi 300 MWp di Klaster Gilimanuk.
Sejumlah media nasional dan energi melaporkan bahwa pengembangan PLTS di Bali akan dilakukan secara bertahap di beberapa titik dengan dukungan BESS 3.300 MWh untuk menjaga keandalan pasokan listrik dari sumber surya. Listrik Indonesia menyebut komitmen kerja sama itu ditandai dengan penandatanganan Perjanjian Kerja Sama (PKS) percepatan pengembangan infrastruktur ketenagalistrikan berbasis energi terbarukan di Bali.
Kapasitas dan lokasi tahap awal
Darmawan menjelaskan bahwa tahap awal pengembangan di Bali mencakup PLTS dengan total kapasitas 1.000 MWp yang didukung BESS 3.300 MWh sebagai bagian dari Program PLTS 100 GWp. Pengembangan dilakukan di sejumlah lokasi, dengan Monumen Operasi, Gilimanuk di Kabupaten Jembrana sebagai titik awal.
Di Gilimanuk, PLN menyiapkan PLTS berkapasitas 300 MWp yang terintegrasi dengan BESS 1.000 MWh. Gilimanuk disebut sebagai salah satu dari lima klaster PLTS di Bali yang menjadi bagian dari tahap awal implementasi program nasional energi surya.
RRI dan Barta1.com menggarisbawahi bahwa kelima klaster PLTS Bali dengan total kapasitas 1.000 MWp dan BESS 3.300 MWh merupakan porsi khusus Bali dalam peluncuran PLTS 100 GWp yang diresmikan Presiden Prabowo Subianto di Gilimanuk. Dalam beberapa laporan, kapasitas 1.000 MWp untuk Bali juga dikaitkan dengan visi menuju daerah mandiri energi berbasis energi bersih.
Peran BESS dan proyeksi penghematan energi
Menurut penjelasan Darmawan yang dikutip berbagai media, integrasi PLTS dengan BESS berkapasitas 3.3 GWh di Bali dirancang untuk menjaga stabilitas pasokan listrik meski mengandalkan energi surya yang bergantung pada intensitas penyinaran. Energi matahari yang disimpan pada siang hari diarahkan untuk memenuhi beban puncak listrik pada sore hingga malam.
Suara.com menyebut PLN memproyeksikan kombinasi PLTS 1.000 MWp dan BESS 3.300 MWh di Bali dapat mengeliminasi penggunaan bahan bakar minyak sekitar 500 ribu kiloliter per tahun sebagai bagian dari kontribusi terhadap target penghematan BBM nasional. Sejumlah laporan lain menempatkan pengembangan PLTS Bali sebagai bagian dari strategi pengurangan subsidi energi dan peningkatan ketahanan energi nasional.
Selain aspek energi, Gubernur Bali I Wayan Koster dalam keterangan kepada media lokal menyambungkan pengembangan PLTS dengan visi Bali Mandiri Energi dengan Energi Bersih serta penguatan citra Bali sebagai destinasi wisata yang mengutamakan lingkungan. Bali disebut memperoleh kuota awal 1.000 MWp dan berpotensi mendapat tambahan kuota hingga 1.500 MWp bila penyediaan lahan berjalan sesuai komitmen pemerintah daerah.
Dampak bagi Bali dan agenda lanjutan
Bagi sistem ketenagalistrikan Bali, kombinasi PLTS skala besar dan BESS berkapasitas ribuan MWh diproyeksikan menambah fleksibilitas pasokan dan mengurangi ketergantungan pada pembangkit berbahan bakar fosil. Namun, hingga kini laporan media masih berfokus pada kapasitas rencana, lokasi klaster, dan proyeksi penghematan BBM, tanpa merinci jadwal konstruksi tiap klaster maupun target operasi komersial per proyek.
Bali Post mencatat bahwa untuk merealisasikan kuota 1.000 MWp, kebutuhan lahan diperkirakan minimal sekitar 1.000 hektare dengan sebaran di Kabupaten Jembrana, Buleleng, dan Karangasem. Pengembangan lanjutan dijadwalkan bertahap, dengan pembangunan awal di Gilimanuk dan rencana ekspansi ke lokasi lain di Bali sesuai arahan pemerintah pusat dan kesiapan lahan.
Sejalan dengan peluncuran PLTS 100 GWp di Gilimanuk, berbagai pernyataan pejabat pusat dan daerah menempatkan proyek PLTS Bali dan BESS sebagai bagian dari agenda transisi energi, penguatan pasokan listrik untuk masyarakat dan sektor pariwisata, serta dukungan terhadap target swasembada energi Indonesia.
Sumber
Berita berikutnya

Pertamina Tambah 2.300 KL Pertalite untuk Urai Antrean SPBU Bali
PT Pertamina Patra Niaga menambah penyaluran bensin Pertalite di Bali menjadi sekitar 2.300 kiloliter pada Kamis, 27 Agustus 2026.

