Bali Aktual

Minggu, 20 September 2026

PLN: Cadangan Listrik Bali Tipis, Risiko Nyala Bergilir 2027

PLN UID Bali menyatakan cadangan listrik di Bali saat ini tipis dan memperingatkan potensi nyala bergilir pada 2027 bila tidak ada tambahan pasokan energi ke sistem Jawa–Bali.

Oleh

Editor: Mursyid Sonsang

· 4 menit baca

Denpasar — PT PLN (Persero) melalui Unit Induk Distribusi (UID) Bali menyebut cadangan daya sistem kelistrikan Bali saat ini terbatas dan memperingatkan potensi penerapan skema nyala bergilir pada 2027 bila tidak ada tambahan pasokan energi ke sistem Jawa–Bali.

General Manager PLN UID Bali Ajrun Karim menjelaskan beban puncak penggunaan listrik Bali telah mencapai sekitar 1.295–1.300 megawatt (MW), sementara total kapasitas daya terpasang dari seluruh pembangkit di Bali sekitar 1.477 MW menurut pemaparan di Denpasar pada Kamis, 20 Agustus 2026.

Ajrun mengatakan selama ini masyarakat mengira sistem kelistrikan di Bali dalam kondisi surplus energi, namun cadangan operasi yang tersedia sebenarnya tipis ketika dibandingkan dengan beban puncak dan mempertimbangkan keandalan pembangkit.

“Kalau 2027 Bali tidak ada tambahan suplai energi, maka ada kemungkinan Bali akan ada nyala bergilir,” kata Ajrun Karim di Denpasar.

Kapasitas pembangkit dan pasokan dari Jawa

PLN UID Bali mencatat kapasitas pembangkit terpasang sekitar 1.477 MW berasal dari kombinasi beberapa jenis pembangkit, termasuk pembangkit listrik tenaga gas, pembangkit listrik tenaga gas dan uap, PLTU Celukan Bawang, serta PLTS yang sudah beroperasi di Bali.

Ajrun menekankan kapasitas terpasang tidak selalu setara dengan daya yang tersedia setiap saat karena sebagian unit dapat berhenti sementara akibat pemeliharaan atau gangguan. Ia mencontohkan satu unit pembangkit berkapasitas 100 MW sedang menjalani pemeliharaan besar sehingga untuk sementara tidak menyuplai listrik ke sistem Bali.

Menurut dia, pengoperasian kembali pembangkit berbahan bakar diesel tetap menjadi salah satu opsi untuk menjaga kecukupan pasokan, meski pembangkit jenis ini memiliki tantangan berupa kebisingan dan emisi. Ajrun menambahkan, jika opsi tersebut tidak digunakan ketika sistem kekurangan daya, risiko yang dihadapi adalah penerapan nyala bergilir sebagai langkah menjaga stabilitas sistem.

Selain pasokan dari pembangkit di Bali, sistem kelistrikan di pulau ini juga terhubung dengan Jawa melalui kabel bawah laut. Ajrun menyebut pasokan yang mengalir dari Jawa ke Bali saat ini sekitar 270 MW melalui empat sirkuit kabel dengan kapasitas teknis masing-masing hingga 100 MW.

Ia menjelaskan penyaluran aktual per sirkuit berada di kisaran 60–80 MW, bukan pada kapasitas maksimum, sehingga ruang tambahan pasokan dari Jawa turut bergantung pada kondisi sistem di kedua pulau.

Rencana penambahan PLTS dalam RUPTL

Untuk mengurangi risiko kekurangan pasokan, PLN mengandalkan rencana pembangunan pembangkit energi baru terbarukan, terutama PLTS, sebagaimana tercantum dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025–2034 yang disahkan pemerintah.

Dokumen RUPTL 2025–2034 yang dipublikasikan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral mencatat rencana penambahan kapasitas pembangkit energi terbarukan, termasuk PLTS, dalam sistem Jawa–Madura–Bali hingga 2034 dengan total PLTS lebih dari 10 gigawatt untuk kawasan tersebut. Namun dokumen ini tidak merinci angka penambahan spesifik sebesar 1.450 MW PLTS untuk Bali maupun target 600 MW yang harus masuk sistem Bali pada 2027.

Dalam penjelasannya, Ajrun menyebut saat ini baru terdapat satu PLTS berkapasitas sekitar 25 MW yang beroperasi di Kubu, Karangasem, dan menjadi bagian dari sistem kelistrikan Bali. Karena itu, tambahan kapasitas PLTS yang direncanakan dalam RUPTL akan jauh lebih besar dibandingkan kapasitas PLTS yang telah beroperasi di wilayah kerja PLN UID Bali.

Ajrun memperkirakan setiap 1 MW kapasitas PLTS memerlukan lahan sekitar 1 hektare. Dengan pendekatan itu, penambahan 600 MW PLTS berpotensi membutuhkan lahan sekitar 600 hektare, meski kebutuhan aktual akan bergantung pada teknologi, desain, dan lokasi proyek. Ia menyatakan lahan tidak produktif, lahan tandus, kawasan kehutanan, dan lahan masyarakat yang belum dimanfaatkan secara maksimal akan diprioritaskan sepanjang sesuai perizinan dan ketentuan tata ruang.

Kondisi cadangan dan kebutuhan keandalan

Ajrun menegaskan keandalan sistem kelistrikan Bali tidak hanya ditentukan oleh jumlah kapasitas terpasang, tetapi juga cadangan operasi yang tersedia saat beban puncak, kondisi setiap unit pembangkit, serta kemampuan jaringan transmisi dan interkoneksi menyalurkan daya.

Ia menyebut cadangan operasi Bali saat ini relatif tipis, terutama ketika satu unit berkapasitas 100 MW menjalani pemeliharaan dan pasokan dari Jawa berada di sekitar 270 MW. Dalam situasi beban mendekati 1.300 MW, ruang cadangan untuk mengantisipasi gangguan menjadi terbatas.

Di tingkat nasional, paparan RUPTL 2025–2034 yang dirilis PLN dan Kementerian ESDM menyebut perencanaan kelistrikan dilakukan dengan mempertimbangkan margin cadangan minimal sekitar 30–34 persen pada 2034 untuk menjaga kecukupan daya di berbagai sistem. Namun angka tersebut merupakan target nasional jangka panjang dan tidak menggambarkan kondisi cadangan aktual sistem Bali pada 2026.

PLN UID Bali berharap rencana tambahan pembangkit, khususnya PLTS sesuai RUPTL, dapat terealisasi sebelum 2027 sehingga risiko nyala bergilir yang disebutkan Ajrun dapat dikendalikan.

Sumber

Berita berikutnya

Baca juga

‹ Kembali ke beranda

Bagikan artikel

Bagikan sebagai gambar

Untuk Story Instagram, Status WhatsApp, atau TikTok. Tautan artikel ikut disalin supaya bisa ditempel di stiker Tautan.

Pratinjau kartu Story / Status untuk artikel ini
Story / Status · 9:16
Simpan gambar
Pratinjau kartu Feed untuk artikel ini
Feed · 4:5
Simpan gambar

Alat baca

Normal

Contoh ukuran teks isi artikel. Pilihan ini tersimpan di perangkat Anda.