Bali Aktual

Selasa, 22 September 2026

Koalisi Bali Emisi Nol Bersih Soroti Abrasi Kusamba dan Emisi Energi

Koalisi Bali Emisi Nol Bersih menegaskan sektor energi sebagai penyumbang utama emisi Bali dan mendorong kombinasi mitigasi serta adaptasi iklim.

Oleh

Editor: Mursyid Sonsang

· Peristiwa: · 4 menit baca

Buka foto ukuran besar. Ilustrasi. Gambar dibuat dengan kecerdasan buatan, bukan foto peristiwa.
Ilustrasi. Gambar dibuat dengan kecerdasan buatan, bukan foto peristiwa. · Foto: Ilustrasi AI

Denpasar — Koalisi Bali Emisi Nol Bersih mendorong penguatan aksi mitigasi dan adaptasi iklim lintas sektor di Bali, dengan menyoroti dampak abrasi yang semakin parah di pesisir Desa Kusamba, Kecamatan Dawan, Kabupaten Klungkung, yang mempengaruhi kehidupan nelayan dan petani garam setempat.

Dalam pemberitaan Tribun-Bali.com pada 11 September 2026, Communications Specialist Koalisi Bali Emisi Nol Bersih, Aisyah Madeleine, menjelaskan bahwa perubahan iklim di Bali hadir dalam beragam persoalan lingkungan yang saling terhubung. Ia menyebut tekanan iklim tidak hanya dirasakan di Denpasar atau Bali Selatan, tetapi juga di Bali Utara, Bali Timur, dan Bali Barat dengan kerentanan yang berbeda-beda.

Menurut Aisyah, sektor energi menjadi penyumbang terbesar emisi gas rumah kaca di Bali, terutama dari konsumsi listrik rumah tangga dan penggunaan transportasi berbahan bakar fosil. Dalam laporan Detik dan BaleBengong, kontribusi sektor energi terhadap emisi Bali disebut mencapai sekitar 93 persen, yang dikaitkan dengan pembangkit listrik dan transportasi.

Abrasi Kusamba dan dampaknya bagi pesisir

Pesisir Pantai Monggalan di Desa Kusamba menjadi salah satu contoh nyata kerentanan wilayah pesisir terhadap kombinasi gelombang tinggi, cuaca ekstrem, dan abrasi. Sejak akhir 2024 abrasi di kawasan ini dilaporkan terus berulang dan meluas hingga awal 2026.

Berbagai laporan media lokal mencatat dampak langsung abrasi terhadap permukiman dan penghidupan warga. IDN Times menulis bahwa 12 kepala keluarga kehilangan tempat tinggal akibat abrasi di Pantai Monggalan. NusaBali.com menyebut situasi paling parah terjadi akhir Januari 2026, dengan 12 kepala keluarga terdampak langsung dan empat di antaranya harus diungsikan demi keselamatan.

Detik dan Bali Post memberitakan sejumlah rumah warga di pesisir Kusamba telah digerus abrasi, menyebabkan sebagian penghuni mengungsi dan memerlukan relokasi. Bupati Klungkung I Made Satria menegaskan abrasi di Pantai Kusamba dan Pantai Monggalan menjadi prioritas penanganan pemerintah daerah, termasuk pengusulan pembangunan tanggul ke Balai Wilayah Sungai (BWS) Bali-Penida.

Dampak abrasi tidak hanya dirasakan pemilik rumah, tetapi juga nelayan dan petani garam yang menggantungkan mata pencaharian pada kondisi pantai. Tribunnews dan Mongabay Indonesia menyoroti bagaimana abrasi serta perubahan cuaca mengganggu ruang produksi garam tradisional Kusamba dan aktivitas melaut, sehingga menekan pendapatan warga.

Mongabay merujuk hasil penelitian Journal of Marine and Aquatic Sciences yang menunjukkan perubahan garis pantai di pesisir Klungkung pada 2015–2020 dengan laju abrasi 0,058–1,846 meter per tahun, dan untuk Pantai Karangdadi di Kusamba laju abrasi diperkirakan mencapai sekitar 5–15 meter per tahun dengan panjang area terdampak 3,3 kilometer.

Mitigasi emisi dan adaptasi iklim di Bali

Koalisi Bali Emisi Nol Bersih memandang persoalan energi, sampah, tata ruang, dan ketahanan pangan sebagai isu yang saling berkaitan dalam kerangka perubahan iklim di Bali. Menurut Aisyah, dominasi emisi dari sektor energi menuntut percepatan transisi menuju energi bersih dan terbarukan.

Ia mendorong kombinasi langkah mitigasi dan adaptasi iklim. Langkah mitigasi diarahkan untuk mengurangi sumber emisi melalui efisiensi penggunaan energi, percepatan kendaraan listrik, transisi menuju energi terbarukan, dan rehabilitasi hutan. Langkah adaptasi difokuskan pada pengurangan risiko bencana, di antaranya penyesuaian tata ruang, penguatan ketahanan pangan, dan penanaman mangrove di kawasan pesisir.

Aisyah menekankan bahwa aksi iklim tidak hanya berkutat pada teknologi, tetapi juga menjawab bagaimana masyarakat hidup, bekerja, dan bersosialisasi dalam kondisi iklim yang berubah. Koalisi Bali Emisi Nol Bersih, yang dalam publikasi Minikino disebut sebagai platform lintas sektor menuju target Emisi Nol Bersih Bali 2045, berupaya mendorong kebijakan, adopsi solusi iklim, dan transformasi ekonomi yang terukur.

Sejumlah laporan media juga mengaitkan kerentanan lingkungan Bali dengan struktur ekonomi daerah yang bertumpu pada pariwisata. Kerusakan pesisir dan ekosistem berpotensi mengurangi daya tarik wisata dan menimbulkan risiko bagi keamanan destinasi, sehingga pengelolaan iklim dan lingkungan menjadi bagian dari menjaga keberlanjutan ekonomi daerah.

Dalam konteks abrasi Kusamba, seruan aksi adaptasi dari Koalisi Bali Emisi Nol Bersih berkelindan dengan kebutuhan penanganan jangka panjang yang diungkap warga dan pemerintah lokal, mulai dari perlindungan pantai, dukungan relokasi, hingga penguatan mata pencaharian alternatif bagi nelayan dan petani garam.

Sumber

Baca berikutnya

  1. Lanjutan topik ini

  2. Terbaru di Lingkungan

  3. Berita utama hari ini

Baca juga

‹ Kembali ke beranda

Bagikan artikel

Bagikan sebagai gambar

Untuk Story Instagram, Status WhatsApp, atau TikTok. Tautan artikel ikut disalin supaya bisa ditempel di stiker Tautan.

Pratinjau kartu Story / Status untuk artikel ini
Story / Status · 9:16
Simpan gambar
Pratinjau kartu Feed untuk artikel ini
Feed · 4:5
Simpan gambar

Alat baca

Normal

Contoh ukuran teks isi artikel. Pilihan ini tersimpan di perangkat Anda.