Pabrik Cokelat Tabanan Butuh 350 Ton Kakao per Tahun
PT Cau Coklat Internasional di Tabanan membutuhkan sekitar 350 ton kakao per tahun untuk kapasitas pengolahan minimal 1 ton per hari.
Oleh Pandi Muktar
Editor: Mursyid Sonsang
· 3 menit baca
Tabanan — PT Cau Coklat Internasional di Tabanan membutuhkan sekitar 350 ton kakao per tahun untuk mengoperasikan pabrik dengan kapasitas pengolahan minimal 1 ton per hari menurut CEO perusahaan, Kadek Surya Prasetya Wiguna.
Surya menyampaikan kebutuhan pasokan tersebut dalam suatu kegiatan penguatan ekosistem kakao di Tabanan pada Kamis, 17 September 2026. Ia menjelaskan pabrik pengolahan cokelat yang dikelola perusahaan memiliki kapasitas produksi sekitar 1–2 ton kakao per hari.
Dengan kapasitas minimal 1 ton per hari, kebutuhan bahan baku pabrik mencapai sekitar 350 ton kakao per tahun. Surya mengaitkan perhitungan itu dengan asumsi produktivitas kebun 1 ton per hektare per tahun, sehingga perusahaan membutuhkan pasokan dari sekitar 350 hektare lahan kakao.
Untuk memenuhi kebutuhan bahan baku, perusahaan memperluas kemitraan dengan petani di sekitar Tabanan dan wilayah lain di Bali. Surya menggambarkan kebutuhan kemitraan dengan ratusan petani, karena luas lahan yang dikelola petani beragam dari kurang dari 1 hektare hingga beberapa hektare. Produk olahan pabrik menyasar pasar lokal Bali, pasar domestik di Indonesia, serta pasar ekspor.
Skema pembiayaan petani kakao
Pengembangan pasokan kakao untuk pabrik tersebut terhubung dengan ekosistem pembiayaan yang disusun Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Bali bersama pemerintah daerah dan pelaku industri keuangan. Menurut OJK, kakao termasuk komoditas yang diprioritaskan dalam program penguatan ekonomi daerah melalui pembentukan ekosistem usaha dari hulu hingga hilir.
Dalam skema di Tabanan, Bank BPD Bali menyediakan fasilitas pembiayaan bagi petani kakao, sementara PT Jamkrida Bali Mandara berperan sebagai penjamin kredit. Bank BPD Bali menyatakan konsisten menyalurkan pembiayaan pada rantai pasok kakao, baik kepada petani individu, kelompok tani, maupun perusahaan offtaker, dengan total pembiayaan kakao yang telah disalurkan mencapai sekitar Rp4,525 miliar hingga saat ini.
OJK menyiapkan perlindungan risiko usaha bagi petani melalui penjaminan kredit dan skema asuransi atau jaminan sosial ketenagakerjaan. Dalam ekosistem tersebut, kredit petani dijamin PT Jamkrida Bali Mandara, sedangkan perlindungan kecelakaan kerja disiapkan melalui BPJS Ketenagakerjaan.
OJK sebelumnya mengembangkan ekosistem kakao bersama kelompok tani di Kabupaten Jembrana melalui program pengembangan ekonomi daerah. Pengalaman itu kemudian diperluas ke Tabanan dengan melibatkan beberapa kelompok tani kakao yang mengelola kebun dan memasok biji kakao ke industri pengolahan. Potensi pembiayaan yang dapat disalurkan kepada petani yang masuk dalam kerja sama di Jembrana dan Tabanan diperkirakan sekitar Rp6 miliar.
Tantangan hilirisasi dan peluang pasar Eropa
Surya menilai penguatan sektor kakao di Bali tidak hanya berhenti pada peningkatan produksi di tingkat kebun. Menurut dia, Indonesia perlu memperbesar hilirisasi dengan mengolah biji kakao menjadi produk cokelat bernilai tambah dan bermerek, karena pasar produk akhir masih didominasi merek dari Eropa dan Amerika.
Ia menyebut pasar Eropa memiliki peluang besar untuk penyerapan produk cokelat berbahan kakao Bali. Kawasan tersebut memiliki kebutuhan cokelat tinggi, sementara tanaman kakao tidak tumbuh secara alami di sana. Namun, untuk menembus pasar tersebut, produk kakao dari Bali harus memenuhi standar sertifikasi khusus dan persyaratan keberlanjutan.
Surya juga mendorong pola budidaya organik dan agroforestry dalam pengembangan kebun kakao. Menurut dia, penanaman kakao bersama komoditas lain seperti manggis, sirsak, dan kopi dapat membantu mengurangi risiko penyebaran penyakit, menjaga kualitas lingkungan, dan mendukung pertanian berkelanjutan. Pola ini sekaligus membuka peluang tambahan pendapatan bagi petani dari beragam jenis hasil kebun.
Sumber
- detikBali - Pabrik Cokelat Bali Butuh 350 Ton Kakao Setahun, OJK Siapkan Pembiayaan
- Bank BPD Bali - Stakeholder Sektor Pertanian di Tabanan Sambut Antusias OJK Dorong Pengembangan Komoditas Kakao
- NusaBali - Kakao Tabanan Dibangun dari Hulu hingga Hilir
- OJK Provinsi Bali - OJK Provinsi Bali Dorong Pengembangan Komoditi Kakao di Kabupaten Tabanan
Berita berikutnya

Pendamping PLUT Buleleng Minta UMKM Siapkan Stok dan Legalitas sebelum Go Digital
Pendamping PLUT KUMKM Buleleng, Mubayyinudin, mengingatkan pelaku UMKM menyiapkan kapasitas produksi, stok, kemasan, dan legalitas sebelum memperluas…
Baca juga


