Mengapa Risiko Banjir Bali Berbeda Antarwilayah? Baca Data Hujannya
Data BPBD dan BMKG menunjukkan banjir Bali dipengaruhi hujan lebat yang berlangsung lama, perbedaan curah hujan antardaerah, serta waktu awal musim hujan di 20 zona musim.
Oleh Pandi Muktar
· 2 menit baca
Risiko banjir Bali tidak ditentukan oleh hujan saja. Data BPBD Bali menunjukkan hujan lebat yang berlangsung lama dapat memicu banjir di banyak wilayah, sementara intensitas dampaknya berbeda menurut lokasi. Karena itu, membaca jumlah hujan, durasi, dan sebaran kejadian secara bersamaan lebih tepat daripada memakai satu angka untuk seluruh pulau.
Mengapa hujan lebat dapat memicu banjir di banyak wilayah?
BPBD Bali mencatat hujan dengan intensitas sedang hingga lebat yang mengguyur sejak 9 September 2025 memicu bencana hidrometeorologi di sejumlah kabupaten dan kota. Dalam pembaruan hingga 13 September 2025 pukul 12.00 WITA, tercatat 356 titik kejadian, dengan 205 titik di antaranya berupa banjir, menurut BPBD Bali, 2025.
Catatan itu juga menunjukkan dampak tersebar di Tabanan, Denpasar, Badung, Gianyar, Jembrana, Klungkung, Bangli, dan Karangasem. Denpasar memiliki sebaran titik banjir tertinggi dalam laporan tersebut, menurut BPBD Bali, 2025.
Seberapa berbeda hujan antarwilayah Bali?
Perbedaannya dapat terlihat dari catatan BMKG. Curah hujan tertinggi pada September 2025 mencapai 806,5 milimeter dalam 16 hari hujan di bagian selatan Karangasem, tepatnya Kecamatan Sidemen, menurut Buletin BMKG, 2025.
Pada Oktober 2025, curah hujan Bali tercatat berada pada rentang 8,0–543,0 milimeter per bulan. Nilai tertinggi, 543,0 milimeter dengan 24 hari hujan, terjadi di bagian utara Tabanan, Kecamatan Pupuan, menurut BMKG, 2025.
Apakah awal musim hujan sama di seluruh Bali?
Tidak. BMKG membagi Bali ke dalam 20 Zona Musim dan memprediksi awal musim hujan 2025–2026 umumnya berlangsung pada Oktober dan November 2025. Sebanyak 8 zona diprediksi mengalami awal musim lebih cepat dibandingkan rata-rata 1991–2020, menurut BMKG, 2025.
Sifat hujan musim tersebut diprediksi normal pada 15 zona, atau 75,0 persen dari 20 zona, dan atas normal pada 5 zona, atau 25,0 persen, menurut BMKG, 2025. Pembagian ini menjelaskan mengapa waktu mulai hujan dan karakter musim dapat berbeda antardaerah.
Bagaimana membaca angka hujan untuk memahami risiko?
Angka bulanan menunjukkan akumulasi hujan dalam periode tertentu, bukan otomatis kedalaman genangan di suatu jalan. Risiko meningkat ketika hujan deras berlangsung lama dan terjadi pada wilayah yang kapasitas aliran airnya tidak mampu menampung limpasan; laporan BPBD menghubungkan akumulasi hujan tinggi dalam waktu relatif lama dengan kejadian hidrometeorologi, menurut BPBD Bali, 2025.
Untuk membaca risiko di Bali, bandingkan tiga hal: curah hujan setempat, durasi atau jumlah hari hujan, serta lokasi kejadian yang dilaporkan BPBD. Pendekatan ini menghindari kesimpulan bahwa satu angka curah hujan berlaku sama untuk Denpasar, Karangasem, Tabanan, atau wilayah lain.
Sumber
Baca berikutnya
Lanjutan topik ini

Kabupaten/Kota
BPBD Bali Catat 16 Kejadian, Buleleng Terbanyak
BPBD Bali mencatat 16 kejadian pada 28 September–4 Oktober 2026. Buleleng terbanyak dengan enam kejadian, sementara Jembrana menerima 74.000 liter air…
Terbaru di Lingkungan

Berita utama hari ini

Baca juga





