Berapa Sampah Bali yang Belum Terkelola? Ini Data dan Strateginya
Bali menghasilkan 3,4 ribu ton sampah per hari pada 2025, tetapi baru 29 persen yang dikelola. Pemerintah provinsi menerapkan pemilahan dari sumber melalui strategi hulu-hilir.
Oleh Arsyid Muhamad
· 2 menit baca
Pengelolaan sampah menjadi persoalan tingkat Provinsi Bali karena timbulan sampah mencapai 3,4 ribu ton per hari pada 2025. Pemerintah Provinsi Bali menyatakan 29 persen atau 916 ton per hari telah dikelola, sedangkan 71 persen atau sekitar 2,5 ribu ton per hari belum terkelola, menurut DKLH Bali, 2025.
Mengapa sampah menjadi persoalan provinsi?
Volume sampah itu berasal dari rumah tangga, kegiatan industri, produksi, dan sektor pariwisata. Data tersebut menunjukkan persoalan tidak hanya berada di tempat pembuangan akhir, tetapi juga pada pemilahan dan penanganan sejak sumbernya, menurut DKLH Bali, 2025.
Berapa sampah Bali yang sudah dikelola?
Pada 2025, sampah yang dikelola mencapai 29 persen atau 916 ton per hari. Sampah yang belum terkelola tercatat 71 persen atau sekitar 2,5 ribu ton per hari, menurut DKLH Bali, 2025.
Angka 29 persen itu masih berada di bawah target tahunan persentase sampah terkelola sebesar 51,21 persen. DKLH Bali menyebut capaian tersebut sebagai dasar percepatan pengelolaan sampah di tingkat provinsi.
Bagaimana strategi Bali menangani sampah?
Pemerintah Provinsi Bali menerapkan Pengelolaan Sampah Berbasis Sumber atau PSBS. Polanya dimulai dengan pemilahan sampah organik, anorganik, dan residu, menurut DKLH Bali, 2025.
- Sampah organik ditangani di rumah tangga melalui teba modern atau metode lain.
- Sampah anorganik yang bernilai ekonomi dapat disalurkan ke bank sampah.
- Sampah residu ditangani melalui TPS3R dan TPST di desa adat.
Strategi ini menempatkan rumah tangga, desa adat, dan fasilitas pengolahan sebagai bagian dari rantai pengelolaan, bukan hanya mengandalkan tempat pemrosesan akhir.
Apa kaitannya dengan kebijakan lingkungan Bali?
PSBS merupakan strategi hulu-hilir yang dipakai pemerintah provinsi untuk meningkatkan sampah terkelola dan mengurangi ketergantungan pada TPA. DKLH Bali menyatakan penguatan strategi ini diperlukan karena sebagian besar timbulan sampah pada 2025 belum tertangani.
Isu ini berbeda dari data cuaca, tetapi kondisi hujan dapat menjadi faktor yang perlu diperhatikan dalam pengelolaan lingkungan. Buletin tahunan Stasiun Klimatologi Bali mencatat curah hujan lebih dari 50 milimeter per hari terjadi pada beberapa tanggal sepanjang 2025, termasuk 385,5 milimeter pada 10 September 2025, menurut BMKG Stasiun Klimatologi Bali, 2026.
Apa angka kuncinya?
Ringkasnya, Bali menghasilkan 3,4 ribu ton sampah per hari pada 2025; 916 ton per hari atau 29 persen telah dikelola, sementara sekitar 2,5 ribu ton per hari atau 71 persen belum terkelola. Target tahunan pengelolaan sampah adalah 51,21 persen, menurut DKLH Bali, 2025.
Sumber
Baca berikutnya
Lanjutan topik ini

Lingkungan
Banjir Karangasem Bali: Titik Rawan, Pemicu, dan Dampaknya bagi Warga
Banjir di Karangasem berulang saat hujan deras, dengan titik rawan yang sering muncul di Manggis, Rendang, Selat, dan Kubu.
Terbaru di Lingkungan

Baca juga





