Curah Hujan Ekstrem Bali 2025: Lokasi dan Angkanya
Curah hujan Bali tidak seragam. Data BMKG 2025 menunjukkan perbedaan besar antara akumulasi bulanan dan hujan maksimum harian di sejumlah kabupaten.
Oleh Arsyid Muhamad
Editor: Mursyid Sonsang
· 2 menit baca
Curah hujan ekstrem di Bali perlu dibaca berdasarkan lokasi dan periode, bukan sebagai satu angka untuk seluruh provinsi. Data BMKG menunjukkan hujan bulanan dan hujan harian tertinggi pada 2025 berbeda antarkabupaten, sehingga informasi iklim penting untuk memahami risiko banjir, longsor, dan gangguan kegiatan warga.
Seberapa besar variasi curah hujan Bali?
Buletin Tahunan Bali 2025 dari Stasiun Klimatologi Bali mencatat data iklim provinsi sepanjang 2025, termasuk curah hujan bulanan dan kejadian cuaca ekstrem. Dokumen itu juga menggunakan peta curah hujan bulanan serta data periode normal 1991-2020 sebagai pembanding.
Pada Januari 2025, BMKG mencatat curah hujan tertinggi sebesar 1.095,1 mm per bulan di salah satu wilayah Bali. Pada Februari 2025, rentangnya 62,0-727,0 mm per bulan, dengan angka tertinggi terjadi di Kabupaten Bangli bagian utara, Kecamatan Kintamani, menurut BMKG, 2025.
Di mana hujan bulanan tertinggi terjadi?
Untuk November 2025, curah hujan tertinggi mencapai 671,4 mm dengan 25 hari hujan di Kabupaten Buleleng bagian tengah dan selatan, Kecamatan Sukasada, menurut Balai Besar Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika Wilayah III, 2025.
Angka itu menghitung akumulasi hujan dalam satu bulan, bukan intensitas satu kali hujan. Karena itu, wilayah dengan total bulanan tinggi belum tentu menjadi lokasi dengan hujan harian maksimum pada bulan yang sama.
Berapa hujan harian paling tinggi yang tercatat?
BMKG mencatat hujan maksimum satu hari pada November 2025 sebesar 123,0 mm di Kabupaten Karangasem bagian selatan, Kecamatan Sidemen. Pada Mei 2025, hujan maksimum satu hari mencapai 172,0 mm di Kabupaten Klungkung, Kecamatan Dawan, menurut BMKG, 2025.
Catatan ini membedakan dua ukuran: akumulasi bulanan menggambarkan banyaknya hujan selama satu bulan, sedangkan maksimum harian menunjukkan curah hujan tertinggi dalam satu hari. Keduanya dipakai untuk membaca pola hujan dan potensi dampaknya di wilayah tertentu.
Mengapa data ini penting bagi Bali?
Data hujan membantu pemerintah daerah dan warga membaca risiko secara lebih spesifik menurut kabupaten atau kecamatan. Buletin BMKG juga mencatat kejadian hujan lebih dari 50 mm per hari sepanjang 2025, sehingga data tidak hanya menggambarkan rata-rata, tetapi juga kejadian ekstrem.
Untuk memahami kondisi suatu lokasi, angka curah hujan perlu dibaca bersama tanggal, jumlah hari hujan, dan wilayah pengamatan. Data provinsi tidak otomatis menggambarkan keadaan di setiap desa atau kota pada waktu yang sama.
Sumber
Baca berikutnya
Lanjutan topik ini

Pariwisata
Kunjungan Wisman ke Bali Turun 1,62 Persen hingga Agustus
BPS Bali mencatat 4.586.959 kunjungan wisatawan mancanegara pada Januari–Agustus 2026. Angka kumulatif itu turun 1,62 persen dibandingkan periode yang…
Terbaru di Lingkungan

Berita utama hari ini

Baca juga




