Banjir Karangasem Bali: Titik Rawan, Pemicu, dan Dampaknya bagi Warga
Banjir di Karangasem berulang saat hujan deras, dengan titik rawan yang sering muncul di Manggis, Rendang, Selat, dan Kubu.
Oleh Pandi Muktar
Editor: Mursyid Sonsang
· 3 menit baca
Banjir di Karangasem — umumnya dipicu hujan deras yang membuat sungai, saluran, atau drainase meluap, dan sejumlah peristiwa dalam 2025–2026 menunjukkan titik rawan berulang di Manggis, Rendang, Selat, dan Kubu. Dalam catatan BPBD dan pemberitaan lokal, dampaknya mencakup rumah terendam, jalan jebol, longsor, dan gangguan akses warga.
Di mana banjir paling sering muncul?
Lokasi yang berulang muncul dalam laporan adalah Kecamatan Manggis, terutama Desa Antiga, Antiga Kelod, Gegelang, dan Padangbai. Titik lain yang juga tercatat terdampak adalah Rendang, Selat, dan Kubu, menurut laporan kejadian di 2025 dan 2026 dari media lokal serta BPBD Karangasem.
Pola ini menunjukkan banjir Karangasem tidak hanya terjadi di pesisir, tetapi juga di wilayah yang dilalui aliran air dari hulu ke hilir. Pada beberapa kejadian, air meluap ke permukiman dan jalan desa dalam waktu singkat lalu surut beberapa jam kemudian.
Apa pemicu utamanya?
Pemicu yang berulang adalah hujan deras dengan intensitas tinggi. Dalam beberapa peristiwa, banjir terjadi karena sungai seperti Tukad Betel meluap, sementara pada kejadian lain saluran atau drainase tidak mampu menampung air hujan.
BMKG pada periode 11–17 September 2026 menyebut cuaca Indonesia umumnya didominasi cerah berawan hingga hujan sedang, sedangkan prakiraan 15–21 September 2026 masih memuat peluang hujan lokal di sejumlah wilayah. Untuk Karangasem, informasi cuaca dan peringatan dini tetap relevan karena hujan lokal bisa cepat memicu limpasan air di daerah aliran sungai yang pendek.
Seberapa besar dampaknya bagi warga?
Dampaknya berbeda-beda, tetapi laporan yang tersedia menunjukkan banjir dapat merendam rumah, menyeret kendaraan, dan merusak infrastruktur. Pada 11–12 Desember 2025, banjir di Kecamatan Manggis membuat mobil terseret dan puluhan rumah terdampak, sementara pada 19 Januari 2025 banjir di Gegelang merendam rumah warga dan sebagian keluarga sempat mengungsi.
Pada 27 Mei 2025, BPBD Karangasem mencatat 8 titik bencana akibat hujan deras, termasuk banjir dan longsor. Dalam kejadian lain pada 26–28 Juli 2026, BPBD Karangasem mencatat 22 kejadian bencana dengan kerugian sementara Rp165 juta.
Apa tanda yang perlu diwaspadai saat hujan deras?
Tanda awal yang paling sering muncul adalah genangan cepat di jalan, air sungai yang naik, dan aliran yang berubah keruh atau deras. Jika hujan berlangsung lama di hulu, air dapat tiba-tiba meningkat di hilir seperti Manggis atau wilayah lain yang dilalui sungai kecil.
- Genangan yang muncul di titik yang sama setiap hujan deras.
- Air sungai atau saluran yang naik mendadak.
- Jalan desa yang mulai terputus atau jebol.
- Rumah warga di dekat alur air mulai kemasukan air.
Kapan riwayat banjir ini penting dibaca?
Riwayat ini penting karena Karangasem berulang kali mengalami banjir saat hujan lebat dalam rentang 2024–2026, sehingga warga bisa melihat pola titik rawan yang muncul berulang. Data kejadian juga menunjukkan banjir kerap datang bersamaan dengan longsor dan kerusakan akses, bukan sebagai peristiwa tunggal.
Untuk pembaca Karangasem, memahami pola lokasi dan pemicunya membantu membaca risiko saat hujan deras turun di wilayah yang sama, terutama di Manggis, Rendang, Selat, dan Kubu.
Sumber
Baca berikutnya
Lanjutan topik ini

Olahraga
Komang Gading Memulai Debut Binaraga Asia di Bangkok
Komang Gading Darmawan tampil di Bangkok sebagai wakil Bali pada debut Asia kelas Men's Bodybuilding 75 kilogram. Ia membidik podium tiga besar dalam…
Terbaru di Lingkungan

Baca juga





