Inflasi Bali Oktober 2026 Mencapai 3,87 Persen, Begini Cara Membacanya
Inflasi Bali Oktober 2026 mencapai 3,87 persen secara tahunan. Berikut cara membaca angka bulanan, posisi terhadap sasaran, dan komoditas yang ikut mendorong tekanan harga.
Oleh Mukmin John
· 2 menit baca
Inflasi Bali pada Oktober 2026 mencapai 3,87 persen secara tahunan dan 0,25 persen secara bulanan. Angka tahunan itu menunjukkan kenaikan harga konsumen dibandingkan Oktober 2025, sedangkan angka bulanan membandingkan harga Oktober dengan September 2026, menurut BPS Bali sebagaimana dikutip Pemerintah Provinsi Bali dan media lokal.
Apa angka inflasi Bali pada Oktober 2026?
Inflasi tahunan Bali tercatat 3,87 persen pada Oktober 2026, naik dari 3,79 persen pada September 2026, menurut data BPS Bali yang dimuat Bali Post pada 2026. Secara bulanan, Bali mengalami inflasi 0,25 persen pada Oktober 2026, lebih rendah daripada 0,32 persen pada September 2026.
Perbedaan dua ukuran ini penting: inflasi tahunan menggambarkan perubahan harga selama satu tahun, sementara inflasi bulanan menunjukkan perubahan dari bulan sebelumnya. Karena itu, inflasi bulanan yang melandai tidak otomatis berarti harga-harga kembali ke tingkat sebelumnya.
Bagaimana posisi angka Bali dibandingkan sasaran?
Bank Indonesia menyebut sasaran inflasi nasional berada pada kisaran 2,5 persen plus-minus 1 persen. Dalam Laporan Perekonomian Provinsi Bali Agustus 2026, Bank Indonesia mencatat inflasi Bali pada triwulan II 2026 sebesar 3,27 persen secara tahunan dan menyatakan proyeksi inflasi 2026 tetap berada dalam rentang sasaran.
Angka Oktober 2026 sebesar 3,87 persen masih berada di dalam batas atas kisaran tersebut, yaitu 3,5 persen, sehingga secara tahunan sudah melampaui batas atas sasaran. Penilaian ini membandingkan angka Bali dengan koridor sasaran, bukan dengan rata-rata harga tertentu.
Apa penyebab kenaikan harga pada Oktober?
Pemerintah Provinsi Bali menyebut komoditas yang mendorong inflasi September 2026 antara lain daging ayam ras, cabai rawit, air kemasan, biaya akademik atau perguruan tinggi, jeruk, bahan bakar rumah tangga, dan beras. Bali Post melaporkan risiko tekanan pangan berlanjut terkait ancaman El Nino terhadap pasokan pangan Bali.
Daftar komoditas tersebut menjelaskan sumber tekanan harga, tetapi tidak berarti semua barang dan jasa mengalami kenaikan dengan besaran yang sama. Inflasi merupakan perubahan rata-rata indeks harga konsumen.
Mengapa angka ini penting bagi Bali?
Inflasi memengaruhi daya beli rumah tangga dan biaya usaha, terutama ketika kenaikan terjadi pada pangan, energi, serta kebutuhan pendidikan. Bank Indonesia mencatat tekanan inflasi Bali pada triwulan I 2026 didorong peningkatan permintaan menjelang Hari Raya Nyepi dan Idulfitri, sedangkan pengendalian harga dilakukan melalui sinergi pemerintah daerah dan Tim Pengendalian Inflasi Daerah.
Dengan demikian, angka Oktober 2026 perlu dibaca bersama sumber tekanannya: inflasi tahunan meningkat, tetapi laju bulanan lebih rendah daripada September 2026.
Sumber
Baca berikutnya
Lanjutan topik ini

Ekonomi
Harga Gula dan Tepung Naik, Pelaku UMKM Denpasar Tertekan
Harga gula pasir di sejumlah pasar Denpasar mencapai Rp19.000 per kilogram, sedangkan tepung terigu naik menjadi Rp135.000 per dus. Pelaku usaha kue m…
Terbaru di Data Bali

Berita utama hari ini

Baca juga





