Enam Perajin Lansia Menopang Tenun Seroja di Denpasar
Pertenunan Seroja di Pemecutan Klod, Denpasar Barat, bertumpu pada enam perajin berusia di atas 60 tahun. Regenerasi mandek, sementara pemasaran digital mulai membantu menjangkau pasar di luar Bali.
Oleh Asyinta Sastra
Editor: Mursyid Sonsang
· 3 menit baca
Denpasar — Pertenunan Seroja di Pemecutan Klod, Denpasar Barat, kini bertumpu pada enam perajin berusia di atas 60 tahun. Usaha tenun endek yang berdiri sejak 1960-an itu menghadapi persoalan regenerasi karena tidak ada generasi muda yang bersedia meneruskan pekerjaan menenun.
Menurut laporan detikBali, Pertenunan Seroja yang dijalankan Made Rai Sudani pernah mempekerjakan sekitar 50 perajin. Kini hanya tersisa enam orang: tiga penenun yang bekerja di lokasi usaha, dua penenun yang mengerjakan tenun dari rumah, dan satu perajin senior yang menangani pembuatan pola dan motif atau nganyin.
Kondisi tersebut membuat Pertenunan Seroja membatasi pesanan. Rai tidak berani menerima permintaan dalam jumlah besar atau dengan tenggat waktu ketat karena keterbatasan tenaga dan usia lanjut para perajin.
Produksi Terbatas dan Bergantung pada Perajin Senior
Pembuatan kain endek di Pertenunan Seroja terdiri atas beberapa tahap yang saling berkaitan. Benang digulung dan dicelup, kemudian diproses dengan teknik endek, yakni benang diikat untuk membentuk motif, dicelup, dibuka kembali, lalu digulung sebelum ditenun.
Rangkaian pengerjaan dapat berlangsung hingga sekitar satu bulan, bergantung pada motif. Tahap pembuatan pola dan pengikatan motif menjadi titik paling rentan karena hanya ditangani satu perajin senior yang sudah lanjut usia. Rai mengkhawatirkan kelangsungan usaha jika perajin tersebut tidak lagi sanggup bekerja.
Menurut detikBali, produksi Pertenunan Seroja saat ini sekitar 100 lembar kain per bulan dengan panjang dua meter per lembar. Harga kain berkisar antara Rp130 ribu hingga Rp200 ribu per lembar, bergantung pada jenis dan tingkat kerumitan motif.
Pasar utama Pertenunan Seroja mencakup pembeli perorangan, pedagang di Pasar Badung dan Pasar Gianyar, serta art shop di kawasan Sanur. Kain dipasarkan untuk kebutuhan pribadi dan keperluan upacara.
Pemasaran Digital Menjangkau Luar Bali
Sonia Melati, putri Rai Sudani, mulai memanfaatkan Instagram, Threads, dan Shopee untuk menjual kain endek produksi Pertenunan Seroja. Langkah itu diambil untuk mendorong penjualan stok yang sebelumnya menumpuk karena pasar lokal tidak sepenuhnya menyerap produksi.
Melalui pemasaran digital, Pertenunan Seroja menjangkau pembeli hingga luar daerah, termasuk Jakarta dan Yogyakarta. Penjualan yang sebelumnya bergantung pada pelanggan tetap, pengepul, serta pembeli dari kawasan Sanur kini ditopang oleh pesanan daring.
Pemasaran digital membantu mengurangi stok kain yang belum terjual. Namun, perluasan pasar belum menjawab persoalan utama Pertenunan Seroja, yakni minimnya regenerasi perajin dan terbatasnya pewarisan keterampilan menenun endek secara lengkap.
Sonia menyatakan tertarik terlibat dalam pelestarian endek di usaha keluarganya, tetapi ia belum menguasai teknik dasar menenun dan perhitungan awal pembuatan motif. Proses tersebut menuntut ketelitian dalam menentukan jumlah helai benang yang diikat dan jarak antarmotif.
Ia berharap ada program pemberdayaan dan pelatihan yang dapat menarik anak muda mempelajari tenun endek. Menurut kajian tentang regenerasi perajin endek di Bali, persoalan serupa terjadi di berbagai sentra tenun, ketika perajin lansia kesulitan mencari penerus dan jumlah produksi tidak mudah ditingkatkan.
Konteks Keberlanjutan Tenun Endek
Pertenunan Seroja berdiri sejak dekade 1960-an dan pernah berada pada masa berjaya dengan puluhan perajin. Kini, usaha itu beroperasi dengan enam perajin lansia di Pemecutan Klod, salah satu desa di Kecamatan Denpasar Barat.
Laporan detikBali menunjukkan bahwa mandeknya regenerasi telah memengaruhi kemampuan usaha menerima pesanan dan menjaga kesinambungan produksi. Di sisi lain, pengalaman Pertenunan Seroja sejalan dengan temuan sejumlah penelitian tentang tenun endek di Bali yang menekankan pentingnya kombinasi antara pelestarian keterampilan tradisional dan pemanfaatan pemasaran digital untuk menjaga kelangsungan usaha.
Keberlanjutan Tenun Seroja bergantung pada dua hal: tersedianya generasi penerus yang menguasai proses pembuatan motif dan tenun, serta keberlanjutan pasar yang mampu menyerap produksi kain endek yang dikerjakan secara manual dan terbatas.
Sumber
Berita berikutnya

Ratusan Krama Songan Ikuti Melasti di Tepi Danau Batur
Ratusan krama Desa Adat Songan mengikuti upacara Melasti di Pura Segara, tepi Danau Batur, Jumat, 18 September 2026. Prosesi ini menjadi bagian awal K…
Baca juga


