Bali Aktual

Minggu, 20 September 2026

Disbudpar Karangasem Usulkan Tari Rejang Pala Jadi WBTb Indonesia

Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Karangasem mengusulkan Tari Rejang Pala dari Desa Nongan sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTb) Indonesia tahun 2026.

Oleh

Editor: Mursyid Sonsang

· 3 menit baca

Amlapura — Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Karangasem mengusulkan Tari Rejang Pala dari Desa Nongan, Kecamatan Rendang, sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTb) Indonesia tahun 2026. Usulan ini disampaikan Kepala Disbudpar Karangasem I Putu Eddy Surya Artha pada Kamis, 17 September 2026, dan hingga kini masih berstatus pengajuan, belum penetapan.

Menurut I Putu Eddy Surya Artha, tahun 2026 Disbudpar Karangasem hanya mengajukan satu karya budaya daerah ke WBTb, yakni Tari Rejang Pala. Ia menjelaskan usulan disusun setelah pengecekan lapangan terhadap sejarah, fungsi, dan keberlanjutan tarian tersebut di Desa Nongan.

Surya Artha menyebut Tari Rejang Pala sebagai tari sakral yang diwariskan melalui Pura Balang Tamak, Desa Nongan, Kecamatan Rendang. Tarian ini terkait erat dengan pelaksanaan ritual Usaba Pala, yang dipahami masyarakat sebagai ungkapan rasa syukur atas kelimpahan hasil pertanian.

Berkaitan dengan Usaba Pala dan Usaba Desa

Berbagai kajian tentang Rejang Pala menyebut tarian ini sebagai salah satu sarana ritual dalam upacara Usaba Pala di Pura Balang Tamak. Usaba Pala digelar setiap purnama kaulu, bulan purnama kedelapan dalam kalender Bali, sebagai wujud syukur kepada Dewi Sri atas keberhasilan panen di wilayah subak dan tegal.

Setelah melalui proses rekonstruksi oleh peneliti seni dan tokoh desa, Rejang Pala yang semula hanya ditarikan dalam rangkaian piodalan Usaba Pala, kini juga dipentaskan dalam upacara Usaba Desa di Pura Pesamuhan Agung, Desa Nongan. Usaba Desa digelar setahun sekali pada sasih jiyestha dan merupakan upacara Dewa Yadnya untuk menyambut Ida Betara Dalem dalam prosesi memasar di Pura Pesamuhan Agung.

Penelitian tentang Rejang Pala mencatat bahwa pada prosesi Usaba Desa, tarian ini dibawakan secara berkelompok oleh perempuan dari berbagai kelompok usia, dan menjadi bagian dari rangkaian penyambutan Ida Betara Dalem dari Pura Dalem Kupa dan Pura Dalem Nongan. Hal ini menegaskan posisi Rejang Pala sebagai bagian dari praktik keagamaan desa, bukan pertunjukan terpisah dari ritual.

Ciri Khas Gelungan Buah-buahan

Ciri menonjol Rejang Pala adalah penggunaan berbagai jenis buah sebagai bagian dari gelungan atau hiasan kepala penari. Menurut penjelasan tetua desa dan kajian budaya, gelungan penari dihiasi buah-buahan seperti rambutan, salak, jeruk, boni, kepundung, serta hasil kebun lainnya yang tersedia di lingkungan setempat.

Penggunaan buah-buahan ini dipandang sebagai simbol rasa syukur atas hasil bumi dan sekaligus penanda hubungan erat antara tarian, siklus pertanian, dan fungsi Pura Balang Tamak sebagai pura ulun suwi atau pura subak. Peneliti budaya menilai unsur gelungan buah dalam Rejang Pala memadukan makna religius, agraris, dan filosofis masyarakat Desa Nongan.

Berbagai kajian menyebut, setelah proses rekonstruksi yang panjang, Rejang Pala pertama kali kembali dipentaskan (makebah) dalam konteks Usaba Desa pada 8 April 2019 di Pura Pesamuhan Agung Desa Nongan. Sejak itu, tarian ini hadir konsisten dalam siklus upacara desa dan menjadi salah satu identitas budaya penting masyarakat setempat.

Data Utama Usulan WBTb

Disbudpar Karangasem menyampaikan sejumlah data utama dalam usulan penetapan Tari Rejang Pala sebagai WBTb Indonesia.

  • Pengusul: Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Karangasem.
  • Karya budaya: Tari Rejang Pala, tari sakral dengan gelungan buah-buahan.
  • Lokasi pewarisan: Pura Balang Tamak, Desa Nongan, Kecamatan Rendang, Karangasem.
  • Konteks ritual utama: Usaba Pala dan Usaba Desa di Desa Nongan.

Menurut Disbudpar Karangasem, masih banyak warisan budaya daerah yang belum terdaftar sebagai WBTb Indonesia. Pemerintah daerah berencana mengusulkan warisan budaya lain secara bertahap pada tahun-tahun berikutnya, sejalan dengan pendataan dan kajian yang dilakukan bersama desa adat dan pelaku budaya.

Sumber

Berita berikutnya

Baca juga

‹ Kembali ke beranda

Bagikan artikel

Bagikan sebagai gambar

Untuk Story Instagram, Status WhatsApp, atau TikTok. Tautan artikel ikut disalin supaya bisa ditempel di stiker Tautan.

Pratinjau kartu Story / Status untuk artikel ini
Story / Status · 9:16
Simpan gambar
Pratinjau kartu Feed untuk artikel ini
Feed · 4:5
Simpan gambar

Alat baca

Normal

Contoh ukuran teks isi artikel. Pilihan ini tersimpan di perangkat Anda.