BPBD Bali Catat Kekeringan di 4 Kabupaten dan 132 Kebakaran
BPBD Bali mencatat kekeringan yang berdampak pada 529 KK di empat kabupaten serta 132 kebakaran gedung dan permukiman di sembilan kabupaten/kota sepanjang 11 April hingga awal September 2026.
Oleh Pandi Muktar
Editor: Mursyid Sonsang
· Peristiwa: · 3 menit baca
Denpasar — Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Bali mencatat dampak musim kemarau 2026 berupa kekeringan di empat kabupaten dan 132 kejadian kebakaran gedung serta permukiman di seluruh kabupaten/kota di Bali sepanjang 11 April hingga awal September 2026.
Kepala Pelaksana BPBD Provinsi Bali I Gede Agung Teja Bhusana Yadnya menyebut karakter kemarau 2026 cenderung lebih panjang dan kering. Pernyataan itu disampaikan dalam pemaparan data BPBD tentang kekeringan dan kebakaran yang dirilis pada awal September 2026.
BPBD Bali mencatat kekeringan di empat kabupaten, yaitu Buleleng, Jembrana, Karangasem, dan Klungkung. Akibat kekeringan, sebanyak 529 kepala keluarga (KK) terdampak di 15 desa atau kelurahan di wilayah tersebut.
Data BPBD yang dikutip berbagai media menunjukkan sebaran desa terdampak di Buleleng meliputi Sinabun, Madenan, dan Menyali; di Jembrana antara lain Pendem, Asahduren, Pergung, Bale Agung, Berangbang, Yeh Embang Kauh, Tukadaya, dan Manistutu; di Karangasem Baturinggit, Tianyar Timur, dan Tianyar; serta di Klungkung Desa Pejukutan.
Dampak pada lahan pertanian
Selain kekeringan rumah tangga, musim kemarau 2026 berdampak pada lahan pertanian di beberapa kabupaten. Pemantauan BPBD dan pemerintah daerah mencatat kekeringan lahan pertanian di Jembrana dan Buleleng, diikuti kerusakan tanaman akibat minimnya pasokan air selama kemarau.
Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Bali melaporkan 328,78 hektare lahan sawah rusak akibat kekeringan hingga 31 Agustus 2026. Data ini merupakan rekap kerusakan tanaman akibat kekeringan di seluruh Bali pada musim kemarau 2026.
132 kebakaran gedung dan permukiman
BPBD Bali mencatat 132 kejadian kebakaran gedung dan permukiman selama periode musim kemarau 2026, yang tersebar di sembilan kabupaten/kota. Kebakaran tersebut terjadi antara 11 April hingga awal September 2026.
Rincian sebaran kejadian kebakaran gedung dan permukiman menurut BPBD Bali adalah Buleleng 33 kejadian, Denpasar 31 kejadian, Karangasem 14 kejadian, Badung 15 kejadian, Jembrana 10 kejadian, Bangli sembilan kejadian, Klungkung delapan kejadian, Gianyar tujuh kejadian, dan Tabanan lima kejadian.
Selain kebakaran permukiman, BPBD juga memantau kebakaran hutan dan lahan di sejumlah kabupaten, termasuk Buleleng, Klungkung, Karangasem, Jembrana, dan Bangli. Dalam laporan lain yang mencakup periode lebih panjang, BPBD Bali mencatat 44 kejadian kebakaran hutan dan lahan dengan luas terdampak 196,68 hektare sepanjang 1 Januari hingga 9 September 2026.
Kebakaran juga terjadi di kawasan pengelolaan sampah. Laporan BPBD dan pemberitaan media menyebut antara lain insiden di TPS3R di Karangasem dan Buleleng serta di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Suwung di Denpasar.
Distribusi air bersih dan penguatan mitigasi
Untuk merespons kekeringan, BPBD Bali menyalurkan bantuan air bersih ke daerah terdampak di Buleleng, Jembrana, Karangasem, dan Klungkung. Penyaluran dilakukan bekerja sama dengan pemerintah kabupaten dan perangkat desa setempat.
Teja menekankan bahwa penanganan risiko kemarau tidak cukup mengandalkan distribusi air bersih ketika musim kering berlangsung lebih panjang. Ia mendorong perlindungan sumber air, peningkatan kapasitas penyimpanan dan jaringan distribusi, serta penguatan sistem pemantauan di wilayah yang berpotensi terdampak.
Menurut Teja, pengelolaan risiko kekeringan dan kebakaran perlu dilakukan sejak dini melalui langkah mitigasi, pengurangan risiko, dan penguatan ketahanan masyarakat. Ia menilai koordinasi lintas sektor penting untuk memastikan upaya pencegahan berjalan bersamaan dengan penanganan ketika bencana terjadi.
Konteks musim kemarau 2026
Catatan BPBD Bali menunjukkan musim kemarau 2026 di provinsi ini memiliki karakter lebih panjang, kering, dan panas dibanding tahun-tahun sebelumnya. Pemantauan dilakukan sejak 11 April hingga awal September 2026, mencakup kekeringan rumah tangga, lahan pertanian, potensi kekeringan sawah, kebakaran hutan dan lahan, kebakaran gedung dan permukiman, serta kebakaran tempat pengelolaan sampah.
Di tengah tren kemarau lebih panjang, BPBD Bali dan instansi terkait menyiagakan posko, armada distribusi air bersih, serta pemantauan kebakaran untuk mengurangi dampak terhadap masyarakat dan lahan pertanian.
Sumber
Berita berikutnya

Luapan Irigasi Subak Pala di Jalan Jepun Ganggu Usaha Warga
Air irigasi Subak Pala meluap ke Jalan Jepun, Banjar Tegal Belodan, Desa Dauh Peken, Tabanan, sekitar lima hari hingga 15 September 2026. Genangan men…
Baca juga


