INKINDO Soroti Kemacetan dan Sampah Bebani Pembangunan Bali
INKINDO menyoroti kemacetan, sampah, sanitasi, dan perubahan tata ruang sebagai tantangan pembangunan Bali yang kian kompleks.
Oleh Arsyid Muhamad
Editor: Mursyid Sonsang
· Peristiwa: · 3 menit baca
Denpasar — Ikatan Nasional Konsultan Indonesia (INKINDO) menilai kemacetan lalu lintas, persoalan sampah dan sanitasi, serta perubahan regulasi tata ruang menjadi tantangan pembangunan Bali yang kian kompleks. Pandangan itu disampaikan Wakil Ketua Umum Koordinator Wilayah IV Bali–NTB–NTT Dewan Pengurus Pusat INKINDO, Ketut Gupta, saat membuka Rapat Kerja Provinsi (Rakerprov) INKINDO Bali 2026 di Hotel Nirmala, Denpasar, Rabu, 16 September 2026.
Dalam sambutannya, Gupta menekankan bahwa Bali tidak semata berfungsi sebagai destinasi pariwisata dunia. Menurut dia, Bali juga layak diposisikan sebagai laboratorium pembangunan berkelanjutan yang memadukan kebutuhan warga, kegiatan ekonomi, dan perlindungan lingkungan.
Ia mendorong tenaga ahli dan konsultan mengambil peran lebih luas, tidak hanya menyusun perencanaan atau mengawasi proyek. Konsultan didorong aktif menawarkan gagasan dan kajian lintas sektor untuk menjawab persoalan pembangunan yang saling berkaitan.
Kemacetan dan tekanan infrastruktur
Gupta menyebut sektor transportasi menghadapi tekanan akibat tingginya mobilitas masyarakat dan aktivitas pariwisata. Kepadatan lalu lintas kini terasa di berbagai kawasan Bali dan menurut dia membutuhkan perencanaan serta penanganan yang lebih komprehensif.
Ia menyoroti perjalanan dari Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai menuju kawasan perkotaan yang kerap terhambat kemacetan. Kondisi ini dinilai berdampak pada aktivitas harian warga, pengalaman wisatawan, dan efisiensi kegiatan ekonomi di provinsi yang bergantung pada pariwisata.
Masalah serupa turut diangkat dalam pemberitaan media lokal lain yang mencatat kemacetan sebagai salah satu konsekuensi konsentrasi pembangunan di Bali Selatan dan tekanan investasi terhadap tata ruang dan transportasi.
Sampah, sanitasi, dan dinamika tata ruang
Selain transportasi, Gupta menyoroti pengelolaan sampah dan sanitasi yang belum tertangani secara menyeluruh. Ia mendorong agar sampah tidak hanya dipandang sebagai persoalan pembuangan, tetapi juga diolah dengan teknologi dan konsep yang memberi nilai tambah.
Pendekatan tersebut menempatkan pengelolaan sampah sebagai bagian integral dari pembangunan, bukan sekadar isu lingkungan. Ia mengaitkan persoalan sampah dan sanitasi dengan tekanan pariwisata dan perubahan tata ruang yang cepat, yang menuntut penyesuaian kebijakan dan kapasitas layanan dasar.
Media lain mencatat pandangan serupa dari kalangan konsultan dan pengamat yang menilai sampah dan kemacetan di Bali semakin kompleks dan berdampak pada lingkungan, ekonomi, dan pariwisata.
Gupta juga menyinggung perubahan regulasi tata ruang yang berlangsung cepat. Situasi ini menuntut pelaku jasa konsultansi untuk terus memperbarui pemahaman teknis dan hukum agar rekomendasi pembangunan sejalan dengan ketentuan yang berlaku dan tidak mengabaikan daya dukung lingkungan.
Teknologi dan peran konsultan
Rakerprov INKINDO Bali 2026 mengangkat tema “Aktualisasi Teknologi Konstruksi, Inovasi, dan Sinergi Jasa Konsultansi Menuju Industri Berkelanjutan.” Tema tersebut mencerminkan dorongan agar industri konsultansi beradaptasi dengan perkembangan teknologi dan kebutuhan pembangunan.
Dalam pemaparannya, Gupta menyebut beberapa teknologi penting untuk sektor konstruksi dan perencanaan, antara lain Building Information Modeling (BIM)Geographic Information System (GIS) untuk pemetaan dan perencanaan wilayah, serta Artificial Intelligence (AI) yang mulai dimanfaatkan untuk mendukung pekerjaan profesional.
Menurut Gupta, pemanfaatan teknologi hanya efektif jika didukung kapasitas sumber daya manusia. Karena itu, INKINDO mendorong peningkatan kompetensi melalui pelatihan, sertifikasi, dan forum berbagi pengetahuan agar konsultan mampu menjawab tantangan kemacetan, sampah, sanitasi, dan tata ruang dengan solusi berbasis data dan teknologi.
Dalam kerangka nilai lokal seperti Tri Hita Karana, Gupta menilai pembangunan dan kehidupan masyarakat Bali perlu berjalan beriringan. Bagi jasa konsultansi, konsekuensinya adalah menjaga mutu layanan dan kualitas pembangunan, sekaligus memastikan rancangan infrastruktur memperhatikan lingkungan serta kebutuhan warga.
Konteks regional
Pernyataan INKINDO dalam Rakerprov Bali 2026 hadir di tengah sorotan lebih luas mengenai tekanan pembangunan terhadap tata ruang, transportasi, dan lingkungan di Bali. Sejumlah laporan media menegaskan bahwa kemacetan, sampah, dan perubahan tata ruang menjadi tantangan yang menuntut kolaborasi pemerintah, pelaku usaha, dan tenaga ahli.
INKINDO melalui forum ini mendorong agar kebijakan dan proyek pembangunan di Bali memanfaatkan teknologi, memperkuat peran konsultan lokal, dan mengendalikan dampak tekanan investasi terhadap ruang, infrastruktur, dan hubungan sosial masyarakat.
Sumber
Baca berikutnya
Terbaru di Lingkungan
DLH Buleleng Imbau Warga Waspadai Pohon Besar Saat Angin Kencang
Dinas Lingkungan Hidup Buleleng mengimbau warga mewaspadai pohon besar dan pohon perindang yang menjorok ke badan jalan, terutama di jalur Lovina hing…
Berita utama hari ini


