Bali Aktual

Senin, 21 September 2026

BI Nilai Prospek Penjualan Ritel Bali Masih Optimistis Hingga Akhir 2026

Survei Bank Indonesia menunjukkan penjualan ritel Bali masih dalam tren positif hingga paruh kedua 2026, dengan indeks penjualan dan ekspektasi pelaku usaha berada di zona optimistis di tengah inflasi yang tetap dalam sasaran.

Oleh

Editor: Mursyid Sonsang

· Peristiwa: · 3 menit baca

DenpasarBank Indonesia menilai prospek penjualan ritel di Bali masih positif dalam beberapa bulan mendatang, tercermin dari penguatan indeks penjualan dan ekspektasi pelaku usaha dalam Survei Penjualan Eceran serta didukung inflasi yang tetap dalam sasaran.

Kinerja penjualan eceran di Bali menunjukkan tren meningkat memasuki pertengahan 2026. Menurut laporan media lokal yang mengutip Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali, Achris Sarwana, Indeks Penjualan Riil (IPR) Bali pada Juni 2026 berada di level 126,4 dan naik 0,5 persen secara bulanan dibandingkan Mei 2026. Memasuki Juli 2026, IPR diperkirakan menguat menjadi 128,7 atau tumbuh 1,8 persen secara bulanan.

Optimisme pelaku usaha tercermin dari Indeks Ekspektasi Penjualan (IEP), yang menggambarkan keyakinan terhadap kinerja penjualan dalam jangka pendek hingga menengah. Dalam survei penjualan eceran yang disampaikan BI Bali dan dikutip sejumlah media, IEP untuk September 2026 berada di level 184, sedangkan untuk Desember 2026 meningkat menjadi 198, dari 190 pada survei sebelumnya. Nilai IEP di atas 100 menandakan pelaku usaha masih berada pada zona optimistis terhadap penjualan.

Ekspektasi harga dan inflasi Bali

Dari sisi harga, Bank Indonesia memantau Indeks Ekspektasi Harga Umum (IEH) sebagai indikator tekanan harga ke depan. Dalam pemberitaan mengenai hasil survei penjualan eceran, IEH untuk September 2026 tercatat 192, sedangkan untuk Desember 2026 mencapai 200. Angka tersebut menunjukkan pelaku usaha memperkirakan adanya kenaikan harga dalam beberapa bulan mendatang.

Sementara itu, inflasi Bali pada Juni 2026 tercatat 3,27 persen secara tahunan (year-on-year). Badan Pusat Statistik (BPS) Bali mencatat inflasi tersebut sejalan dengan kenaikan Indeks Harga Konsumen dari 109,71 pada Juni 2025 menjadi 113,30 pada Juni 2026. Media lokal lain yang mengutip data BPS juga menyebut inflasi Bali Juni 2026 sebesar 3,27 persen, sedikit di bawah inflasi nasional 3,34 persen.

Bank Indonesia menilai inflasi Bali masih dalam rentang sasaran inflasi nasional. Dalam penjelasan BI yang dikutip media, inflasi tahunan di Bali turun dari 3,27 persen pada Juni menjadi 2,42 persen pada Juli 2026 dan tetap berada dalam sasaran 2,5 persen ±1 persen. Kondisi ini mendukung keberlanjutan konsumsi rumah tangga dan penjualan ritel.

Hubungan dengan konsumsi dan pariwisata

Survei Penjualan Eceran BI bertujuan memberikan indikasi dini arah pertumbuhan ekonomi dari sisi konsumsi. Di Bali, optimisme penjualan ritel kerap dikaitkan dengan aktivitas pariwisata dan pergerakan wisatawan, meski laporan yang tersedia tidak selalu memuat rincian jumlah wisatawan, tingkat hunian, atau belanja mereka sebagai dasar kuantitatif.

Dalam sejumlah pernyataan BI Bali yang diberitakan media, prospek penjualan ritel disebut didorong oleh aktivitas libur sekolah, perayaan keagamaan, dan dinamika harga energi yang memengaruhi biaya transportasi dan konsumsi. Faktor-faktor ini menjadi latar bagi pelaku usaha ritel dalam menyusun proyeksi penjualan beberapa bulan ke depan.

Implikasi bagi pelaku usaha dan kebijakan

Nilai IPR dan IEP yang berada di zona optimistis memberikan sinyal bahwa pelaku usaha di Bali memperkirakan aktivitas konsumsi tetap terjaga dalam tiga hingga enam bulan mendatang. Namun, indeks ekspektasi merupakan ukuran keyakinan, bukan jaminan bahwa penjualan akan tumbuh sesuai perkiraan. Perubahan harga, pasokan, distribusi, suku bunga, dan daya beli tetap dapat memengaruhi realisasi penjualan ritel.

Bagi pedagang, perkembangan inflasi dan arus wisata penting untuk menyesuaikan persediaan dan kebutuhan pembiayaan. Bagi konsumen, kenaikan IEH menunjukkan perlunya mencermati perubahan harga barang dan jasa dalam beberapa bulan ke depan. Bank Indonesia bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah di Bali terus mengarahkan kebijakan untuk menjaga keterjangkauan harga, ketersediaan pasokan, dan kelancaran distribusi sehingga inflasi tetap terkendali dan daya beli masyarakat terjaga.

Sumber

Berita berikutnya

Baca juga

‹ Kembali ke beranda

Bagikan artikel

Bagikan sebagai gambar

Untuk Story Instagram, Status WhatsApp, atau TikTok. Tautan artikel ikut disalin supaya bisa ditempel di stiker Tautan.

Pratinjau kartu Story / Status untuk artikel ini
Story / Status · 9:16
Simpan gambar
Pratinjau kartu Feed untuk artikel ini
Feed · 4:5
Simpan gambar

Alat baca

Normal

Contoh ukuran teks isi artikel. Pilihan ini tersimpan di perangkat Anda.