Bali Aktual

Minggu, 20 September 2026

BI Bali Dampingi UMKM Adopsi Digital dan Dorong Akses Pasar Global

Bank Indonesia Provinsi Bali mempercepat digitalisasi UMKM melalui program pendampingan dan Onboarding UMKM RAHAYU, menggandeng Indonesia Eximbank dan kementerian terkait untuk memperluas akses pasar, memperkuat legalitas, pembiayaan…

Oleh

Editor: Mursyid Sonsang

· 4 menit baca

Denpasar — Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Bali mendampingi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Pulau Dewata mengadopsi teknologi digital untuk memperluas akses pasar, sekaligus membuka peluang menuju pasar ekspor.

Program pendampingan ini antara lain terwujud dalam rangkaian kegiatan Onboarding UMKM RAHAYU yang digelar di Denpasar pada 9–10 April 2026. BI Bali menempatkan digitalisasi UMKM sebagai langkah konkret untuk meningkatkan daya saing, mendorong praktik usaha berkelanjutan, dan memperluas jangkauan pemasaran ke pasar domestik maupun global.

Deputi Kepala Perwakilan BI Provinsi Bali Ronald Dungdung Parluhutan menyebut penguatan UMKM sebagai bagian dari upaya mendukung stabilitas harga, pengendalian inflasi, dan pertumbuhan ekonomi daerah. Menurut dia, pendampingan dilakukan secara berkelanjutan agar UMKM dapat menjadi binaan bank sentral dengan fokus pada penguatan kapasitas digital dan perluasan pasar.

BI Bali menggandeng tenaga profesional untuk memberikan pemahaman mengenai penggunaan teknologi digital dalam proses bisnis, termasuk pengenalan berbagai platform digital, pelatihan praktis, dan integrasi teknologi dalam kegiatan usaha sehari-hari. Fokus utama program adalah meningkatkan penjualan melalui kanal daring sehingga UMKM tidak hanya mengandalkan transaksi tatap muka dan pasar lokal, tetapi juga menjangkau konsumen di luar Bali.

Digitalisasi Terhubung dengan Orientasi Ekspor

Pendampingan digitalisasi UMKM di Bali tidak berdiri sendiri. BI Bali melibatkan Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (Indonesia Eximbank) untuk mendorong lebih banyak pelaku usaha lokal memiliki orientasi ekspor. Kolaborasi ini membuka akses informasi pembiayaan ekspor dan mendorong UMKM menyiapkan produk yang dapat memenuhi standar pasar internasional.

Dalam kerangka tersebut, digitalisasi dipandang sebagai bagian dari kebutuhan yang lebih luas. UMKM didorong tidak hanya mahir memasarkan produk secara daring, tetapi juga memperkuat skala usaha, legalitas, sertifikasi, dan akses pembiayaan agar siap memasuki pasar yang lebih besar.

Deputi Bidang Usaha Mikro Kementerian UMKM, M. Riza Adha Damanik, mengapresiasi pendampingan BI Bali sebagai bagian dari percepatan digitalisasi dan penguatan daya saing UMKM. Ia menekankan bahwa UMKM memiliki peran strategis dalam perekonomian nasional, baik dari sisi jumlah pelaku maupun kontribusinya terhadap produk domestik bruto (PDB) dan penyerapan tenaga kerja.

Riza merujuk data bahwa Indonesia memiliki lebih dari 56 juta unit UMKM yang tersebar di seluruh wilayah. Sektor ini menyumbang lebih dari 60 persen PDB nasional dan menyerap sekitar 97 persen tenaga kerja, menjadikannya salah satu penopang utama perekonomian Indonesia.

Penguatan Ekosistem dan Peran Pemerintah Daerah

Dalam kegiatan Onboarding UMKM RAHAYU, Riza juga menyoroti masih adanya persoalan produktivitas, skala usaha, serta akses terhadap pembiayaan, pasar, dan teknologi. Hambatan tersebut memengaruhi kemampuan UMKM untuk masuk ke rantai pasok ekspor, sehingga transformasi ekosistem UMKM yang terintegrasi dinilai penting.

Transformasi itu mencakup penguatan legalitas usaha, sertifikasi, akses pembiayaan, pendampingan berkelanjutan, dan perluasan pasar melalui kanal digital. Pendataan UMKM untuk rencana pengajuan kredit tahun 2026 difasilitasi dalam rangkaian Onboarding UMKM RAHAYU sebagai langkah awal business matching antara pelaku usaha dan lembaga keuangan.

Asisten Perekonomian dan Pembangunan Sekretaris Daerah Provinsi Bali, Luh Ayu Aryani, mengajak pelaku UMKM mengimplementasikan hasil pembelajaran dari pendampingan BI. Ia menekankan pentingnya perubahan pola pikir pelaku usaha agar tidak berhenti pada pelatihan, tetapi mengubah materi pelatihan menjadi praktik nyata dalam operasional usaha, termasuk penguatan kualitas produk, kemasan, dan merek.

Bagi pelaku UMKM, adopsi teknologi digital diharapkan membantu memperkenalkan produk, menerima pesanan, dan menjangkau konsumen di luar pasar terdekat. Namun, berbagai narasumber dalam kegiatan ini mengingatkan bahwa keberhasilan program bergantung pula pada kesiapan produk, kapasitas produksi, tata kelola usaha, dan akses modal yang memadai.

Program pendampingan BI Bali, kolaborasi dengan Eximbank, dan dukungan kementerian serta pemerintah daerah menunjukkan arah kebijakan yang menempatkan UMKM digital dan berorientasi ekspor sebagai salah satu strategi penguatan ekonomi Bali dan nasional.

Sumber

Berita berikutnya

Baca juga

‹ Kembali ke beranda

Bagikan artikel

Bagikan sebagai gambar

Untuk Story Instagram, Status WhatsApp, atau TikTok. Tautan artikel ikut disalin supaya bisa ditempel di stiker Tautan.

Pratinjau kartu Story / Status untuk artikel ini
Story / Status · 9:16
Simpan gambar
Pratinjau kartu Feed untuk artikel ini
Feed · 4:5
Simpan gambar

Alat baca

Normal

Contoh ukuran teks isi artikel. Pilihan ini tersimpan di perangkat Anda.