Badung Juara Umum UDG Bali XXXIII 2026 dengan 21 Gelar
Badung menjadi juara umum Utsawa Dharma Gita Bali XXXIII 2026 dengan 21 gelar juara pertama. Gubernur Wayan Koster menutup ajang di Denpasar dan menekankan regenerasi serta pelestarian budaya Bali.
Oleh Asyinta Sastra
Editor: Mursyid Sonsang
· 2 menit baca
Denpasar — Kabupaten Badung menjuarai Utsawa Dharma Gita (UDG) Provinsi Bali XXXIII Tahun 2026 setelah membukukan 21 gelar juara pertama dari 37 kategori yang diperlombakan. Penutupan ajang itu berlangsung di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Bali, Denpasar, pada Rabu, 16 September 2026.
Gubernur Bali Wayan Koster menutup kegiatan tersebut dan menyebut UDG sebagai ruang pembinaan, regenerasi, serta pelestarian sastra keagamaan Hindu, bahasa, aksara, seni, dan budaya Bali. Pemerintah Provinsi Bali juga menegaskan ajang ini menjadi seleksi untuk menyiapkan duta Bali ke Utsawa Dharma Gita tingkat nasional 2027 di Sulawesi Tengah.
Menurut laman Pemerintah Provinsi Bali, UDG XXXIII mengusung tema Dharmagita Atmanam Dharma dan berlangsung pada 11–16 September 2026. Ajang ini mempertandingkan 11 bidang lomba dengan 37 kategori.
Badung dominan
Rilis Pemerintah Provinsi Bali menyebut Badung mengumpulkan 21 juara I, 11 juara II, dan 3 juara III. Dengan capaian itu, Badung dinyatakan sebagai juara umum UDG Bali XXXIII 2026.
Balipost dan NusaBali sama-sama melaporkan dominasi Badung dalam ajang tersebut. Keduanya menulis bahwa Badung meraih 21 gelar juara pertama dari total 37 kategori, sehingga berhak atas predikat juara umum.
Balipuspanews melaporkan kontingen Tabanan membawa pulang 18 prestasi dalam UDG Bali XXXIII 2026. Media itu juga menyebut kontingen Denpasar meraih sejumlah juara pada cabang kidung, sloka, kakawin, dan dharmawacana.
Pesan regenerasi
Dalam sambutannya, Koster menyoroti keterlibatan anak-anak, remaja, dan peserta dewasa sebagai tanda regenerasi budaya berjalan. Ia juga menekankan pentingnya kemampuan generasi muda menggunakan bahasa Bali, bahasa Indonesia, dan bahasa Inggris.
Koster meminta teknologi berkembang seiring dengan kebudayaan tanpa menghapus identitas Bali. Ia juga mengaitkan keberlanjutan budaya dengan peran masyarakat Bali sebagai pelaku tradisi dan ritual.
Pada penutupan itu, Koster mengapresiasi busana peserta yang dinilai mencerminkan identitas budaya Bali. Ia juga meminta hadiah pada penyelenggaraan berikutnya dinaikkan serta piala dirancang lebih praktis, elegan, berkualitas, dan berciri khas Bali.
Sumber
Berita berikutnya

PSN Bali Telusuri Jejak Aksara Nusantara hingga Aksara Bali
Seminar Eksplorasi Paleografi Nusantara yang digelar PSN Bali di Denpasar membahas hubungan Devanagari, Pranagari, dan aksara daerah, sekaligus menega…

