Bali Aktual

Minggu, 20 September 2026

Abrasi Sisakan 30–35 Are Lahan Garam Kusamba

Abrasi pesisir dan pengembangan infrastruktur mempersempit lahan penggaraman tradisional di Kusamba, Klungkung.

Oleh

Editor: Mursyid Sonsang

· 4 menit baca

KusambaAbrasi pantai dalam beberapa tahun terakhir menyusutkan lahan penggaraman tradisional di Desa Kusamba, Kabupaten Klungkung. Menurut Kepala Bidang Perikanan Dinas Ketahanan Pangan dan Perikanan Klungkung, Ni Made Candrawati, luas lahan penggaraman yang masih dapat dimanfaatkan kini tinggal sekitar 30–35 are, dengan jumlah petani garam aktif sekitar 14 orang pada 2026.

Di lapangan, petani garam merasakan langsung perubahan garis pantai. Nengah Bantat, petani berusia lanjut yang menjadi narasumber dalam laporan Mongabay, menceritakan gelombang besar sejak 2023 berulang kali menerjang area produksi dan membawa batu ke lahan penggaraman, sehingga proses pembuatan garam sempat terhenti lebih dari sepekan. Ia telah menjadi petani garam sejak 1979 dan menyebut sebagian lahan yang dulu berupa daratan kini berubah menjadi laut.

Produksi menyusut, regenerasi tertahan

Kusamba dikenal sebagai salah satu sentra garam tradisional di Bali. Petani masih memproduksi garam dengan metode palung, yakni cekungan menyerupai lesung dari batang pohon yang digunakan sebagai wadah penguapan air laut, sekaligus memakai lembaran geomembran hitam sebagai media kristalisasi.

Jumlah petani garam terus menurun. Menurut laporan Mongabay, pada 1970-an sekitar 180 petani menggantungkan penghasilan dari produksi garam di pesisir Kusamba hingga Pesinggahan. Penelitian pada 2022 mencatat sekitar 19 petani, dan ketika Mongabay melakukan kunjungan lapangan pada 2026, jumlahnya tinggal sekitar 14 orang.

Penurunan produksi garam berlangsung tajam dalam satu dekade terakhir. Mengacu data yang dikutip Mongabay dari Dinas Ketahanan Pangan dan Perikanan Klungkung, produksi garam tahun 2014 mencapai sekitar 4,6 juta kilogram, sedangkan pada 2024 turun menjadi sekitar 45,9 kilogram, atau nyaris habis dibandingkan sepuluh tahun sebelumnya. Penurunan ini sejalan dengan menyusutnya jumlah petani dan lahan.

Bagi sebagian petani, pekerjaan sebagai pembuat garam sulit diwariskan. Laporan Mongabay menggambarkan kisah Nengah Bantat dan Nengah Diana, dua petani yang menjadi generasi terakhir di keluarganya karena anak-anak mereka memilih pekerjaan lain. Pendapatan yang tidak tetap dan ketergantungan pada cuaca menjadi alasan utama ketiadaan penerus.

Data kunci kondisi Kusamba:

  • Lahan penggaraman tersisa sekitar 30–35 are.
  • Petani garam aktif sekitar 14 orang pada 2026.
  • Produksi garam turun dari sekitar 4,6 juta kg (2014) menjadi sekitar 45,9 kg (2024).
  • Jumlah petani menyusut dari sekitar 180 orang pada 1970-an menjadi 19 orang pada 2022 dan sekitar 14 orang pada 2026.

Tanggul belum menghentikan abrasi

Ni Made Candrawati menyatakan abrasi dalam tiga tahun terakhir mengikis sebagian lahan penggaraman hingga ada dua lahan petani yang sudah tidak berfungsi. Pemerintah mencoba meredam laju abrasi dengan membangun tanggul pengaman pantai pada 2022 di pesisir Pantai Sidayu hingga Kusamba sepanjang sekitar 10,64 kilometer, yang dikerjakan Balai Wilayah Sungai Bali–Penida.

Namun, upaya tersebut belum memulihkan kondisi pesisir. Dalam laporan Mongabay, ombak besar masih kerap melampaui tanggul sehingga bebatuan menumpuk di area penggaraman dan ruang produksi semakin sempit. Candrawati mengakui ancaman kepunahan garam Kusamba dan menyebut lahan usaha petani terus menyusut akibat abrasi.

Sebelum itu, sejumlah laporan media lokal sudah menyoroti dampak abrasi terhadap petani garam Kusamba. Radar Bali, misalnya, mencatat puluhan are lahan penggaraman di Desa Kusamba hilang tergerus abrasi dan membuat produksi garam menyusut tajam, bahkan ada petani yang berhenti bekerja karena lahannya habis.

Pemerintah daerah kini lebih banyak menyalurkan bantuan berupa sarana dan prasarana untuk petani garam, sementara penanganan abrasi memerlukan koordinasi lebih luas dengan instansi teknis di bidang sumber daya air dan pesisir. Di sisi lain, pembangunan dan pengembangan Pelabuhan Tribuana di kawasan pesisir Kusamba disebut Mongabay turut mempersempit ruang penggaraman warga.

Warisan maritim di bawah tekanan

Garam Kusamba merupakan bagian dari warisan budaya maritim setempat. Greenpeace Indonesia menggambarkan praktik pembuatan garam di Kusamba dan Pesinggahan sebagai teknik penguapan air laut dengan sinar matahari, yang menjadi ciri khas produk garam laut tradisional. Teknik palung dan penggunaan geomembran berkembang sebagai adaptasi terhadap perubahan cuaca dan kebutuhan pasar.

Bagi petani yang masih bertahan, produksi dilakukan saat cuaca memungkinkan dengan mengombinasikan teknik tradisional dan peralatan baru. Gelombang tinggi dan hujan berkepanjangan dapat langsung menghentikan kegiatan produksi. Di tengah tekanan abrasi, alih fungsi lahan, dan minimnya regenerasi, pengetahuan mengenai palung dan praktik penggaraman tradisional Kusamba menghadapi risiko terputus di generasi sekarang.

Sumber

Berita berikutnya

Baca juga

‹ Kembali ke beranda

Bagikan artikel

Bagikan sebagai gambar

Untuk Story Instagram, Status WhatsApp, atau TikTok. Tautan artikel ikut disalin supaya bisa ditempel di stiker Tautan.

Pratinjau kartu Story / Status untuk artikel ini
Story / Status · 9:16
Simpan gambar
Pratinjau kartu Feed untuk artikel ini
Feed · 4:5
Simpan gambar

Alat baca

Normal

Contoh ukuran teks isi artikel. Pilihan ini tersimpan di perangkat Anda.