Survei BI: Dunia Usaha Bali Menguat, Optimisme Berlanjut Triwulan III 2026
Survei Bank Indonesia menunjukkan kegiatan dunia usaha di Bali menguat tajam pada triwulan II 2026, ditopang pariwisata, konstruksi, dan sektor jasa.
Oleh Pandi Muktar
Editor: Mursyid Sonsang
· 3 menit baca
Denpasar — Kegiatan dunia usaha di Bali tercatat menguat pada triwulan II 2026 dan Bank Indonesia (BI) memprakirakan tren positif masih berlanjut pada triwulan III 2026, seiring penguatan pariwisata, konstruksi, dan sektor-sektor terkait konsumsi rumah tangga.
Dalam siaran pers di Denpasar pada 11 Agustus 2026, Kepala Kantor Perwakilan BI Provinsi Bali Achris Sarwani menyampaikan hasil Survei Kegiatan Dunia Usaha (SKDU) yang menunjukkan Saldo Bersih Tertimbang (SBT) kegiatan usaha di Bali pada triwulan II 2026 mencapai 49,32 persen, naik dari 16,05 persen pada triwulan I 2026.
Menurut Achris, optimisme pelaku usaha pada triwulan II 2026 merupakan yang tertinggi dalam beberapa triwulan terakhir, didorong oleh menguatnya kinerja pariwisata, peningkatan pembangunan akomodasi wisata, dan aktivitas sektor jasa. Survei dilakukan terhadap 130 pelaku usaha yang tersebar di seluruh provinsi dan mewakili 17 kategori lapangan usaha.
Penguatan paling besar terjadi pada lapangan usaha penyediaan akomodasi dan makan minum, dengan SBT berbalik dari minus 8,32 persen pada triwulan I 2026 menjadi positif 14,62 persen pada triwulan II 2026. Lapangan usaha konstruksi juga berbalik dari minus 2,22 persen menjadi positif 6,66 persen pada periode yang sama.
Achris menjelaskan, peningkatan kegiatan dunia usaha didukung oleh perbaikan permintaan pada periode libur sekolah dan tingginya kunjungan wisatawan, serta bertambahnya proyek pembangunan hotel, vila, dan fasilitas wisata lainnya.
Prakiraan untuk Triwulan III 2026
BI Bali menyebut optimisme pelaku usaha masih berlanjut pada triwulan III 2026, sejalan dengan prospek penguatan sektor pertanian, pariwisata, dan jasa. Dalam Laporan Perekonomian Provinsi Bali Agustus 2026, BI menilai sumber pertumbuhan ekonomi Bali pada triwulan II 2026 terutama ditopang lapangan usaha konstruksi dan pertanian, dengan dukungan sektor pariwisata yang tetap dominan.
Laporan tersebut menjelaskan bahwa lapangan usaha pertanian didukung peningkatan produksi hortikultura tahunan seperti jeruk, alpukat, dan manggis, peternakan ayam ras dan telur, perikanan, serta padi. Prospek panen dan produksi komoditas tersebut menjadi salah satu faktor yang diharapkan menopang kegiatan usaha pada triwulan III 2026.
Masih menurut BI, penguatan konsumsi rumah tangga dan investasi yang meningkat memberi ruang bagi pertumbuhan lapangan usaha jasa, termasuk informasi dan komunikasi serta jasa pendidikan, terutama pada periode tahun ajaran baru.
Peran Pariwisata dan Jasa Keuangan
BI mencatat pariwisata tetap menjadi penggerak utama ekonomi Bali, tercermin dari perbaikan kinerja akomodasi dan makan minum serta pembangunan akomodasi wisata baru. Peningkatan proyek konstruksi pemerintah dan swasta pada triwulan II 2026 juga menjadi pendorong utama pertumbuhan ekonomi dan aktivitas dunia usaha.
Di sisi jasa keuangan, BI menyebut kondisi keuangan dunia usaha secara umum tetap baik, dengan likuiditas dan rentabilitas yang terjaga serta akses kredit yang relatif mudah. Pangsa kredit usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) terhadap total kredit di Bali tercatat sebesar 41,69 persen pada triwulan II 2026. Hal ini menunjukkan peran perbankan dalam mendukung aktivitas pelaku usaha di berbagai sektor.
Metode Survei Dunia Usaha
Survei Kegiatan Dunia Usaha merupakan survei triwulanan BI yang bertujuan memberikan gambaran kondisi keuangan dunia usaha, arah perkembangan perekonomian, dan ekspektasi pelaku usaha terhadap inflasi. Di Bali, survei dilaksanakan terhadap 130 pelaku usaha yang mewakili 17 kategori lapangan usaha dan tersebar di seluruh provinsi.
Saldo Bersih Tertimbang (SBT) dihitung dari selisih persentase responden yang menyatakan kegiatan usaha meningkat dan yang menyatakan menurun, dengan mempertimbangkan bobot masing-masing lapangan usaha. Nilai SBT positif mencerminkan mayoritas pelaku usaha mencatatkan peningkatan aktivitas dibandingkan triwulan sebelumnya.
BI menegaskan bahwa hasil SKDU menjadi salah satu indikator dini untuk memantau perkembangan dunia usaha dan mendukung perumusan kebijakan moneter dan makroprudensial.
Sumber
Berita berikutnya

Pendamping PLUT Buleleng Minta UMKM Siapkan Stok dan Legalitas sebelum Go Digital
Pendamping PLUT KUMKM Buleleng, Mubayyinudin, mengingatkan pelaku UMKM menyiapkan kapasitas produksi, stok, kemasan, dan legalitas sebelum memperluas…
Baca juga


