September, Bali Diprediksi Hujan Rendah 0–100 Milimeter
Bali masih berada dalam periode musim kemarau pada dasarian kedua September 2026.
Oleh Mukmin John
Editor: Mursyid Sonsang
· 4 menit baca
Denpasar — Bali masih berada dalam periode musim kemarau pada dasarian kedua September 2026. Menurut Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), prediksi curah hujan di Bali pada bulan September umumnya berada pada kategori rendah, dengan akumulasi 0–100 milimeter dan sifat hujan bawah normal.
Balai Besar Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BBMKG) Wilayah III dalam Buletin ICIG edisi Juli 2026 menyebut prediksi curah hujan bulan September 2026 di Bali pada umumnya dalam kategori rendah (0–100 milimeter) dengan sifat hujan bawah normal. Stasiun Klimatologi Bali BMKG juga merangkum bahwa prediksi curah hujan September umumnya 1–50 milimeter dengan sifat hujan bawah normal.
Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Bali I Gede Teja menyatakan, berdasarkan peringatan dini cuaca dan iklim dasarian II September 2026, secara umum wilayah Bali masih mengalami musim kemarau. Pernyataan itu disampaikan dalam keterangan resmi BPBD pada 10 September 2026 yang dikutip sejumlah media pada 11 September.
BPBD Bali menegaskan imbauan kewaspadaan terhadap potensi bencana hidrometeorologis, khususnya kekeringan meteorologis dan kebakaran, seiring berlanjutnya musim kemarau. Lembaga itu mengingatkan masyarakat untuk menghemat penggunaan air dan memantau informasi cuaca serta peringatan dini dari BMKG dan BPBD.
Curah hujan rendah dan peringatan kekeringan
BMKG memprakirakan curah hujan rendah, kurang dari 50 milimeter per dasarian, masih mendominasi sebagian besar wilayah Indonesia, termasuk Bali dan Nusa Tenggara, pada periode 11–17 September 2026. Kondisi ini menandakan kekeringan masih berlanjut di tengah musim kemarau.
Dalam peringatan dini kekeringan meteorologis untuk dasarian II September 2026 (11–20 September), BMKG menetapkan sejumlah wilayah di Indonesia, termasuk Bali, berada pada kategori waspada dan awas kekeringan. Kategori tersebut didasarkan pada hari tanpa hujan yang panjang dan prospek curah hujan rendah, kurang dari 20 milimeter per dasarian.
BPBD Provinsi Bali merujuk peringatan dini BMKG dan menyampaikan bahwa pada periode 11–20 September 2026 terdapat peringatan dini kekeringan meteorologis di Bali, sementara tidak ada peringatan dini curah hujan tinggi. Artinya, hujan yang turun pada beberapa hari tidak cukup mengubah status musim kemarau.
Perbedaan prakiraan bulanan dan harian
Prakiraan curah hujan bulanan menggambarkan kecenderungan akumulasi hujan selama satu bulan, misalnya kategori rendah 0–100 milimeter. Informasi ini berbeda dengan prakiraan cuaca harian atau mingguan, yang menunjukkan peluang hujan pada tanggal dan wilayah tertentu.
Pada prakiraan sepekan periode 11–17 September 2026, BMKG masih mencatat peluang hujan lokal di sebagian wilayah, termasuk Bali. Namun curah hujan secara umum tetap rendah dan tersebar tidak merata. Karena itu, hujan sesaat tidak dapat dibaca sebagai tanda berakhirnya musim kemarau.
Bagi warga, kondisi ini berarti ketersediaan air tetap perlu dijaga karena hujan yang turun mungkin tidak cukup menambah cadangan air tanah. BPBD mengimbau masyarakat menghemat air, tidak membakar lahan atau sampah sembarangan, serta berhati-hati terhadap sumber api di lingkungan permukiman.
El Nino dan intensitas kemarau
BMKG dalam analisis dinamika atmosfer mencatat bahwa indeks ENSO (rata-rata tiga bulanan) untuk periode Juni–Juli–Agustus 2026 sekitar 2,2, yang menunjukkan kejadian El Nino dengan intensitas sangat kuat. Nilai anomali suhu muka laut di wilayah Nino3.4 yang tinggi ini berkaitan dengan berkurangnya pasokan hujan di banyak wilayah Indonesia, termasuk Bali.
Dalam analisis dasarian III Juli 2026, BMKG juga mencatat nilai anomali suhu muka laut Nino3.4 sekitar 2,99 yang dikategorikan sebagai El Nino sangat kuat. Kondisi tersebut membuat sebagian besar zona musim di Indonesia, termasuk Bali, memasuki dan mempertahankan musim kemarau lebih panjang dengan curah hujan yang umumnya rendah.
Dengan latar belakang El Nino kuat dan prakiraan curah hujan rendah pada September, BMKG dan BPBD Bali meminta masyarakat terus waspada terhadap risiko kekeringan dan kebakaran. Masyarakat diimbau memanfaatkan informasi cuaca resmi untuk mengelola air, aktivitas pertanian, serta menjaga keselamatan lingkungan.
Sumber
- BBMKG Wilayah III – Buletin ICIG Juli 2026
- BPBD Provinsi Bali – Peringatan Dini Cuaca/Iklim Dasarian II September 2026 Provinsi Bali
- Bali Post – Dasarian II September, Bali Masih Periode Musim Kemarau
- Metro TV News – Indonesia Berpotensi Mengalami Kekeringan hingga 20 September, Ini Daerah dan Kategorinya
- Tribun Jatim – Daftar Wilayah Terancam Kekeringan 11–20 September 2026, Sebagian Jawa Timur Masuk Status Awas BMKG
Berita berikutnya
IKK Bali Agustus 2026 123,1, Optimisme Konsumen Masih Terjaga
Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) Bali pada Agustus 2026 tercatat 123,1 dan masih berada di zona optimistis.

