Bali Aktual

Selasa, 22 September 2026

BPBD Bali Catat 44 Karhutla dan 225 Kebakaran Bangunan hingga 9 September 2026

BPBD Provinsi Bali mencatat 44 kebakaran hutan dan lahan dengan luas terdampak 196,68 hektare serta 225 kebakaran gedung dan permukiman sepanjang 1 Januari hingga 9 September 2026.

Oleh

Editor: Mursyid Sonsang

· Peristiwa: · 3 menit baca

Denpasar — Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Bali mencatat 44 kejadian kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dengan luas terdampak 196,68 hektare sepanjang periode 1 Januari hingga 9 September 2026. Pada periode yang sama, kebakaran gedung dan permukiman tercatat sebanyak 225 kejadian dan menyebabkan tiga orang meninggal dunia.

Data tersebut disampaikan BPBD Bali dalam keterangan resmi yang dikutip sejumlah media lokal pada 10–11 September 2026. Menurut laporan itu, karhutla tersebar di sejumlah kabupaten, dengan Buleleng menjadi wilayah dengan luas terdampak paling besar.

Buleleng mencatat luasan karhutla sekitar 159,07 hektare. Kabupaten lain yang dilaporkan mengalami karhutla adalah Klungkung, Karangasem, Jembrana, dan Bangli.

Rincian luas lahan terdampak yang disampaikan BPBD Bali antara lain Buleleng 159,07 hektare, Klungkung 17 hektare, Karangasem 8,73 hektare, Jembrana 8,05 hektare, dan Bangli 3,83 hektare. Di Klungkung, kebakaran mencakup sekitar 15 hektare hutan di Kecamatan Nusa Penida dan lahan kosong di wilayah lain. Di Karangasem, karhutla tercatat antara lain di Kecamatan Kubu dan Abang, sementara di Bangli berada di kawasan Kintamani.

Risiko meningkat pada musim kemarau panjang

Kepala UPTD Pengendalian Bencana Daerah BPBD Provinsi Bali, I Wayan Suryawan, menyampaikan bahwa musim kemarau 2026 diperkirakan berlangsung lebih panjang, lebih kering, dan dengan suhu relatif lebih tinggi dibandingkan kondisi normal di sejumlah wilayah. Perkiraan tersebut merujuk pada perkembangan cuaca dan informasi dari BMKG.

Menurut Suryawan, karakter kemarau yang lebih panjang dan kering meningkatkan potensi kejadian kekeringan serta kebakaran, baik di kawasan hutan dan lahan maupun di permukiman. Kondisi lingkungan yang kering membuat material lebih mudah terbakar dan api dapat merambat lebih cepat.

Sejumlah fasilitas pengelolaan sampah di Bali tercatat terdampak kebakaran dalam periode kemarau tahun ini, termasuk lokasi pengolahan sampah di Buleleng, Karangasem, dan Denpasar. BPBD menilai kebakaran di fasilitas seperti tempat pengolahan sampah terpadu menambah risiko terhadap lingkungan sekitar dan pelayanan pengelolaan sampah.

Kebakaran gedung dan permukiman

Selain karhutla, BPBD Bali mencatat 225 kebakaran gedung dan permukiman dalam periode 1 Januari hingga 9 September 2026. Kebakaran tersebut mengakibatkan kerusakan pada 319 unit bangunan dengan estimasi kerugian materiil sekitar Rp11.699.550.000.

Dari kejadian itu, tiga orang dilaporkan meninggal dunia dan tujuh orang mengalami luka-luka. Distribusi kejadian kebakaran gedung dan permukiman paling banyak tercatat di Kabupaten Buleleng dengan 66 kasus, disusul Denpasar 45 kasus, Badung 41 kasus, Karangasem 21 kasus, Jembrana 14 kasus, Klungkung 13 kasus, Bangli 12 kasus, Gianyar delapan kasus, dan Tabanan lima kasus.

Dalam sejumlah pernyataan, BPBD Bali meminta masyarakat meningkatkan kewaspadaan selama musim kemarau. Warga diingatkan untuk memeriksa kondisi jaringan listrik secara berkala, menghindari penggunaan sambungan listrik yang bertumpuk, dan menyimpan bahan mudah terbakar di tempat yang aman.

BPBD juga mendorong penyediaan alat pemadam api ringan (APAR) di permukiman dan fasilitas publik sebagai langkah penanganan awal ketika terjadi kebakaran. Upaya pencegahan dan kesiapsiagaan di tingkat keluarga dan lingkungan dianggap penting untuk menekan dampak kebakaran yang dipicu kemarau panjang.

Konteks musim kemarau 2026

Data BPBD Bali mengenai karhutla dan kebakaran gedung dan permukiman tersebut disusun dalam konteks musim kemarau 2026 yang oleh otoritas kebencanaan dan BMKG diproyeksikan lebih panjang dan lebih kering. Pada Dasarian II September 2026, Bali masih berada dalam periode musim kemarau dan peringatan dini kekeringan meteorologis masih berlaku di sejumlah wilayah.

Selain kebakaran, BPBD Bali juga mencatat ribuan keluarga di beberapa kabupaten terdampak kesulitan air bersih akibat kemarau panjang. Kondisi ini menunjukkan keterkaitan antara kekeringan, karhutla, dan kebakaran permukiman yang perlu diantisipasi oleh pemerintah daerah dan masyarakat.

Sumber

Baca berikutnya

  1. Terbaru di Kabupaten/Kota

Baca juga

‹ Kembali ke beranda

Bagikan artikel

Bagikan sebagai gambar

Untuk Story Instagram, Status WhatsApp, atau TikTok. Tautan artikel ikut disalin supaya bisa ditempel di stiker Tautan.

Pratinjau kartu Story / Status untuk artikel ini
Story / Status · 9:16
Simpan gambar
Pratinjau kartu Feed untuk artikel ini
Feed · 4:5
Simpan gambar

Alat baca

Normal

Contoh ukuran teks isi artikel. Pilihan ini tersimpan di perangkat Anda.