Bali Aktual

Sabtu, 26 September 2026

Sampah Bali Capai 3.800 Ton per Hari, TPA Suwung Overload

DKLH Bali menyebut timbulan sampah mencapai sekitar 3.800 ton per hari. Data SIPSN 2025 mencatat 3.805 ton per hari, sementara TPA Suwung di Denpasar sudah overload.

Oleh

Editor: Mursyid Sonsang

· 2 menit baca

Buka foto ukuran besar. Ilustrasi: Kepulan asap tebal membubung dari gunungan sampah yang terbakar di tempat pembuangan akhir.
Ilustrasi: Kepulan asap tebal membubung dari gunungan sampah yang terbakar di tempat pembuangan akhir. · Foto: Collab Media / Pexels

Denpasar — Dinas Kehutanan dan Lingkungan Hidup (DKLH) Bali menyebut timbulan sampah di Bali mencapai sekitar 3.800 ton per hari pada 25 September 2026. Data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) Provinsi Bali tahun 2025 mencatat total 3.805 ton per hari.

TPA Regional Suwung di Denpasar disebut sudah mengalami kelebihan kapasitas atau overload. Tempat ini menjadi lokasi bermuaranya sampah dari Denpasar dan Badung, sehingga kondisinya berkaitan langsung dengan pengelolaan sampah di dua wilayah tersebut.

Data SIPSN yang dikutip laporan itu mencatat Denpasar sebagai penyumbang terbesar dengan 1.033 ton per hari. Badung menyumbang 876 ton, Gianyar 561 ton, Buleleng 414 ton, Karangasem 292 ton, Tabanan 234 ton, Jembrana 165 ton, sedangkan Bangli dan Klungkung masing-masing 115 ton per hari.

Mengapa angka ini penting bagi pembaca Bali

Sekitar 70 persen sampah Bali disebut merupakan sampah organik. Sampah jenis ini mencakup sisa makanan dan bahan mudah membusuk, sehingga pengelolaannya dari sumber menjadi penting ketika kapasitas TPA Suwung sudah berlebih.

Bagi krama, rumah tangga, usaha, dan banjar, informasi ini menunjukkan bahwa sampah harian tidak hanya berakhir sebagai urusan tempat pembuangan. Pemilahan organik dan anorganik sejak dari rumah, banjar, desa adat, atau tempat usaha menjadi bagian dari beban pengelolaan yang lebih luas di Bali.

Laporan juga menyebut tingginya porsi organik berkontribusi terhadap produksi lindi di TPA. Lindi adalah cairan yang terbentuk ketika air meresap melalui timbunan sampah. Karena itu, jenis sampah yang dibuang ikut memengaruhi tekanan terhadap fasilitas pengolahan akhir.

Untuk pembaca di Denpasar, isu ini terutama menyangkut wilayah kota dan kecamatan yang mengirimkan sampah ke TPA Suwung. Untuk pembaca di Badung, pengaruhnya berkaitan dengan wilayah kecamatan yang masih terhubung dalam sistem pengangkutan menuju fasilitas tersebut.

Sumber

Baca berikutnya

  1. Lanjutan topik ini

  2. Terbaru di Lingkungan

  3. Berita utama hari ini

Baca juga

‹ Kembali ke beranda

Bagikan artikel

Bagikan sebagai gambar

Untuk Story Instagram, Status WhatsApp, atau TikTok. Tautan artikel ikut disalin supaya bisa ditempel di stiker Tautan.

Pratinjau kartu Story / Status untuk artikel ini
Story / Status · 9:16
Simpan gambar
Pratinjau kartu Feed untuk artikel ini
Feed · 4:5
Simpan gambar

Alat baca

Normal

Contoh ukuran teks isi artikel. Pilihan ini tersimpan di perangkat Anda.