Gempa Jembrana Bali: arti data BMKG, risiko, dan yang perlu dicermati
Gempa di Jembrana Bali kerap dicatat BMKG dengan magnitudo kecil sampai menengah dan sebagian besar tidak berpotensi tsunami. Warga perlu melihat magnitudo, kedalaman, dan lokasi episenter dari sumber resmi sebelum menyimpulkan dampaknya.
Oleh Pandi Muktar
Editor: Mursyid Sonsang
· 2 menit baca
Gempa di Jembrana Bali umumnya merujuk pada guncangan tektonik yang dicatat BMKG di sekitar Kabupaten Jembrana dan sekitarnya, dengan pusat gempa bisa berada di darat maupun laut serta kedalaman yang beragam. Dalam beberapa kejadian pada 2024–2026, BMKG juga menyatakan gempa-gempa itu tidak berpotensi tsunami.
Bagaimana BMKG membaca gempa di Jembrana?
BMKG menampilkan kekuatan gempa, koordinat, kedalaman, dan lokasi episenter untuk menentukan apakah guncangan itu berpotensi tsunami atau tidak. Pada gempa 13 Juni 2026, Liputan6 mengutip BMKG yang mencatat magnitudo 4,1, pusat gempa 28 km timur laut Jembrana, dan kedalaman 12 km.
BMKG juga menulis pada data gempa Jembrana 18 Oktober 2025 bahwa pusat gempa berada di laut 33 km Jembrana dengan magnitudo 3,8 dan kedalaman 197 km. Data seperti ini membantu warga membedakan gempa dangkal yang lebih terasa dengan gempa lebih dalam yang biasanya getarannya menyebar lebih luas.
Seberapa sering gempa tercatat di wilayah ini?
Dalam data yang muncul di laman BMKG dan pemberitaan regional, Jembrana beberapa kali diguncang gempa dengan magnitudo kecil hingga menengah pada 2025 dan 2026. Contohnya, BMKG mencatat gempa 2,9 di timur laut Jembrana pada 23 Juli 2026 dengan kedalaman 163 km, sementara RRI menulis gempa 2,1 di Jembrana pada 28 Juli 2026 dengan kedalaman 104 km.
Pola ini menunjukkan bahwa Jembrana berada di kawasan yang secara seismik aktif. Karena itu, warga perlu memperhatikan informasi resmi BMKG setiap kali ada guncangan, bukan hanya laporan dari media sosial atau pesan berantai.
Apakah gempa di Jembrana selalu berbahaya?
Tidak selalu. Pada beberapa kejadian yang tercatat, BMKG menyebut gempa tidak berpotensi tsunami, termasuk gempa M 4,1 pada 13 Juni 2026 dan gempa M 2,1 pada 28 Juli 2026.
Namun, tidak berpotensi tsunami tidak berarti boleh diabaikan. Dampak gempa tetap bergantung pada kedalaman, jarak ke pusat gempa, dan kualitas bangunan; karena itu laporan resmi BMKG tetap menjadi acuan utama.
Apa yang perlu dicari warga setelah merasakan guncangan?
Warga biasanya perlu mencari tiga hal: magnitudo, kedalaman, dan status tsunami dari sumber resmi. Jika gempa terjadi dekat Jembrana, BMKG biasanya memperbarui data lokasi dan kekuatannya dalam hitungan menit, lalu menyampaikan apakah ada laporan kerusakan atau gempa susulan.
- Magnitudo menunjukkan kekuatan gempa.
- Kedalaman menunjukkan seberapa dalam sumber gempa.
- Status tsunami menunjukkan apakah ada ancaman gelombang laut dari gempa itu.
Jika ada guncangan susulan, informasi paling aman tetap berasal dari BMKG dan otoritas kebencanaan daerah. Untuk pembaca di Bali, ini penting karena Jembrana berada di jalur yang kerap menerima gempa dari laut selatan Bali maupun kawasan sekitar Nusa Tenggara.
Sumber
Baca berikutnya
Lanjutan topik ini

Hukum & Kriminal
Kapolda Bali Paparkan 2.390 Perkara Tuntas kepada Komisi III DPR
Kapolda Bali Daniel Adityajaya menyampaikan kepada Komisi III DPR bahwa 4.309 perkara masuk pada 2026. Sebanyak 2.390 perkara telah diselesaikan atau…
Terbaru di Lingkungan

Baca juga





