PVF ke-10 Digelar di Hutan Bambu Penglipuran pada 7–9 Desember 2023
Penglipuran Village Festival ke-10 berlangsung pada 7–9 Desember 2023 di hutan bambu Desa Adat Penglipuran, Bangli. Festival bertema Bamboo Paradise itu dibuka Bupati Bangli dan diisi seni, lomba, serta megibung.
Oleh Asyinta Sastra
Editor: Mursyid Sonsang
· 2 menit baca
Bangli — Penglipuran Village Festival (PVF) ke-10 digelar pada 7–9 Desember 2023 di kawasan hutan bambu Desa Adat Penglipuran, Bangli. Festival bertema Bamboo Paradise itu dibuka Bupati Bangli Sang Nyoman Sedana Arta dan dihadiri Deputi Pengembangan Destinasi dan Infrastruktur Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Haryanto.
Menurut NusaBali, PVF 2023 untuk pertama kalinya dipusatkan di hutan bambu Penglipuran. Panitia menyebut perpindahan lokasi itu sebagai upaya menonjolkan daya tarik baru desa wisata sekaligus menjaga kesinambungan promosi pariwisata berbasis budaya.
Tempo juga melaporkan festival yang sama berlangsung pada 7–9 Desember 2023 di Desa Penglipuran, Bangli, dengan tema Bamboo Paradise: Green Investment for Future Generation. Laporan itu menyebut PVF X dibuka di dua titik, yakni hutan bambu dan lapangan Penglipuran, serta diisi pameran, lomba, seni pertunjukan, megibung, fun and fit zumba, dan program We Care Penglipuran.
Dalam laporan NusaBali, Ketua Panitia PVF 2023 I Wayan Budiarta mengatakan festival ini dirancang sebagai ruang kolaborasi untuk memajukan potensi wisata Penglipuran. Ia juga menempatkan pelestarian seni dan budaya sebagai bagian dari pengembangan desa wisata.
Haryanto, menurut laporan Tempo, mengapresiasi penyelenggaraan PVF yang berkelanjutan selama satu dekade. Ia menilai konsistensi menjaga kearifan lokal menjadi kekuatan Penglipuran sebagai desa wisata dan ekonomi kreatif.
Laporan NusaBali juga menulis bahwa Bupati Bangli menegaskan pembangunan pariwisata daerah bertumpu pada potensi alam, udara sejuk, seni, dan budaya. Dalam konteks itu, Penglipuran disebut sebagai contoh desa yang tetap mempertahankan adat dan tradisi Bali Mula.
PVF ke-10 menjadi penanda bahwa Penglipuran tidak hanya mengandalkan reputasi desa wisata, tetapi juga mencoba memperluas panggung promosi dengan memanfaatkan lanskap hutan bambu. Perpaduan atraksi budaya, ruang publik desa, dan identitas alam menjadi ciri utama penyelenggaraan tahun ini.
Sumber
Berita berikutnya

Tenganan Pegringsingan, 917,2 Hektare Ruang Hidup Bali Aga
Desa adat Tenganan Pegringsingan di Karangasem, Bali, dikenal sebagai komunitas Bali Aga yang mengelola ruang hidup seluas sekitar 917,2 hektare melal…
Baca juga


