Bali Aktual

Senin, 21 September 2026

Penglipuran Village Festival ke-13 Usung Visi Pariwisata Regeneratif

Penglipuran Village Festival ke-13 digelar 9–11 Juli 2026 di Desa Wisata Penglipuran, Bangli.

Oleh

Editor: Mursyid Sonsang

· 3 menit baca

BangliPenglipuran Village Festival ke-13 digelar pada 9–11 Juli 2026 di Desa Wisata Penglipuran, Kabupaten Bangli, dengan tema “Harmoni Bhumi Penglipuran: Menuju Pariwisata Inklusif, Berkelanjutan dan Regeneratif”. Festival ini memadukan atraksi adat, seni, dan produk usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) sebagai bagian dari upaya mengembangkan pariwisata regeneratif berbasis masyarakat.

Festival 2026 menandai penyelenggaraan ke-13 Penglipuran Village Festival. Menurut informasi Dinas Komunikasi, Informatika dan Statistik Provinsi Bali, rangkaian kegiatan berlangsung selama tiga hari dan dikurasi untuk memperkuat posisi desa sebagai destinasi wisata berbasis komunitas. Pembukaan festival dilaksanakan pada Kamis, 9 Juli 2026.

Rangkaian acara dan konsep 4S

Menurut pemberitaan media lokal, seluruh rangkaian acara dipusatkan di sekitar Lapangan Tugu Pahlawan di sisi selatan desa. Wisatawan disuguhi beragam atraksi adat dan budaya khas Penglipuran, termasuk pertunjukan seni, karya seniman lokal, dan pameran produk UMKM.

Panitia mengusung konsep 4S, yaitu Something to Do, Something to See, Something to Buy, dan Something to Learn. Konsep ini dirancang agar pengunjung tidak hanya menyaksikan pertunjukan, tetapi juga berpartisipasi dalam aktivitas desa, membeli produk lokal, dan mempelajari nilai budaya serta praktik pengelolaan lingkungan di Penglipuran.

Produk UMKM yang ditampilkan bukan hanya berasal dari warga desa, tetapi juga dari desa-desa di sekitar Penglipuran. Pemerintah daerah menyebut festival sebagai ruang promosi bagi pelaku ekonomi kreatif dan pelaku pariwisata lokal.

Adat dan pariwisata regeneratif

Desa Wisata Penglipuran dikenal sebagai destinasi yang menempatkan adat, budaya, dan lingkungan sebagai fondasi pengembangan pariwisata. Pemerintah Bali dan Kementerian Pariwisata menyebut visi desa sebagai contoh penerapan pariwisata regeneratif, yaitu pariwisata yang tidak hanya menjaga, tetapi juga memulihkan lingkungan, memperkuat budaya, dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Penglipuran mempertahankan tata ruang tradisional, rumah adat, dan hutan bambu sebagai bagian dari identitas desa. Sejumlah sumber pemerintah dan komunitas menegaskan bahwa keberhasilan pariwisata di desa ini diukur bukan hanya dari jumlah kunjungan, tetapi dari dampak positif terhadap lingkungan, budaya, dan ekonomi lokal.

Dalam pemberitaan tentang festival, bendesa adat Wayan Budiarta menjelaskan bahwa tema “Harmoni Bhumi Penglipuran” menjadi ajakan bagi wisatawan untuk ikut menjaga keseimbangan antara pelestarian budaya, kesejahteraan warga, dan kelestarian alam.

Penghargaan dan posisi desa wisata

Desa Wisata Penglipuran telah menerima sejumlah penghargaan nasional dan internasional atas praktik pengelolaan berbasis komunitas dan pelestarian lingkungan. Desa ini terpilih sebagai salah satu dari 54 UNWTO Best Tourism Villages 2023 pada ajang Best Tourism Villages by UNWTO edisi ketiga di Samarkand, Uzbekistan, pada 19 Oktober 2023.

Sebelumnya, Penglipuran menerima penghargaan Kalpataru dari pemerintah Indonesia atas upaya melindungi hutan bambu, serta Indonesia Sustainable Tourism Award (ISTA) 2017 dan masuk daftar Sustainable Destinations Top 100 versi Green Destinations Foundation.

Pemerintah daerah dan pengelola desa memposisikan festival tahunan sebagai sarana untuk menjaga konsistensi pengelolaan desa wisata, memperkuat kapasitas warga, dan mempertahankan reputasi Penglipuran sebagai desa wisata berkelas dunia.

Tantangan pengukuran dampak

Sejauh ini, laporan resmi pemerintah dan pemberitaan media mengenai Penglipuran Village Festival ke-13 lebih banyak menyoroti konsep pariwisata regeneratif dan rangkaian program budaya. Data rinci mengenai jumlah pengunjung, nilai transaksi UMKM, serapan tenaga kerja, maupun perubahan pendapatan warga selama festival belum dipublikasikan dalam sumber-sumber tersebut.

Ketiadaan data terbuka membuat evaluasi independen atas dampak ekonomi, sosial, dan lingkungan festival masih terbatas. Sejumlah pejabat daerah dan pengelola desa menyampaikan bahwa festival diharapkan meningkatkan kualitas pariwisata, memperkuat peran warga, dan memperluas manfaat bagi desa-desa sekitar, tetapi tanpa indikator kuantitatif yang jelas, klaim tersebut belum dapat diuji secara menyeluruh.

Sumber

Berita berikutnya

Baca juga

‹ Kembali ke beranda

Bagikan artikel

Bagikan sebagai gambar

Untuk Story Instagram, Status WhatsApp, atau TikTok. Tautan artikel ikut disalin supaya bisa ditempel di stiker Tautan.

Pratinjau kartu Story / Status untuk artikel ini
Story / Status · 9:16
Simpan gambar
Pratinjau kartu Feed untuk artikel ini
Feed · 4:5
Simpan gambar

Alat baca

Normal

Contoh ukuran teks isi artikel. Pilihan ini tersimpan di perangkat Anda.