Enam Subak di Petang Kekeringan, Badung Kirim Tiga Tangki dan Siapkan Sumur Bor
Enam subak di Kecamatan Petang, Badung, mengalami kekeringan lahan sawah akibat keterbatasan debit dan distribusi air irigasi.
Oleh Pandi Muktar
Editor: Mursyid Sonsang
· 3 menit baca
Badung — Enam subak di Kecamatan Petang, Kabupaten Badung, Bali, mengalami kekeringan pada lahan sawah aktif akibat terbatasnya debit dan distribusi air irigasi. Pemerintah Kabupaten Badung merespons dengan menyalurkan bantuan air darurat menggunakan tiga truk tangki dan pompa untuk menjaga kebutuhan air tanaman, menurut pemberitaan detikBali dan Tribun Bali.
Kepala Dinas Pertanian dan Pangan (Diperpa) Badung Anak Agung Ngurah Raka Sukadana menjelaskan, lahan yang paling terdampak berada di bagian hilir karena aliran dan pembagian air irigasi tidak merata. Ia menyebut penanganan ini sebagai langkah darurat agar kelembapan tanah tetap terjaga dan tanaman padi tidak mengalami kerusakan lebih lanjut.
Enam subak yang mengalami krisis air yakni Subak Bergiding, Subak Penglumbaran, Subak Buangga, serta Subak Babakan Bengkel I, II, dan III. Distribusi air tangki ke lahan pertanian kering didukung unit Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) Badung yang menyiapkan tiga truk tangki untuk menyuplai air ke areal terdampak.
Penataan ulang distribusi irigasi
Pemerintah kabupaten berkoordinasi dengan pengurus Subak Batulantang dan Subak Bukit di kawasan hulu untuk mengatur kembali pembagian air menuju wilayah hilir. Menurut Sukadana, pengaturan itu diharapkan dapat menyeimbangkan pasokan air sehingga lahan di bawah tidak kembali kekurangan air.
Diperpa Badung juga mengajukan bantuan sarana pompa air darurat beserta dukungan biaya operasional untuk memperkuat suplai air ke lahan yang terdampak kekeringan. Penanganan dilakukan secara bertahap dengan tujuan mengembalikan kestabilan pasokan irigasi di jaringan subak yang terdampak.
Sumber air alternatif dan rencana sumur bor
Selain distribusi air dengan truk tangki, pemerintah daerah menyiapkan opsi sumber air alternatif berupa pembangunan sumur bor untuk memperkuat pasokan air irigasi di Petang. Menurut laporan media lokal dan penjelasan Sukadana, titik alternatif akan ditentukan berdasarkan kajian teknis dan ketersediaan air.
Salah satu lokasi yang disiapkan sebagai titik sumur bor adalah Munduk Beng, Subak Buangga, di Desa Getasan. Upaya ini diproyeksikan menjadi penyangga pasokan air bagi jaringan irigasi yang selama ini mengairi lahan sawah di enam subak terdampak.
Pemerintah kabupaten menyatakan pembangunan sumur bor menjadi bagian dari strategi jangka menengah untuk mengurangi ketergantungan pada debit irigasi yang fluktuatif, terutama saat terjadi gangguan distribusi air di hulu. Namun pelaksanaan teknis dan jumlah sumur bor yang akan dibangun belum dirinci dalam keterangan resmi yang dikutip media.
Dampak terhadap petani dan musim tanam
Kekeringan di enam subak Petang berisiko mengganggu pemenuhan kebutuhan air tanaman padi di lahan hilir. Pemerintah kabupaten berharap suplai air irigasi darurat melalui truk tangki dan pompa dapat mencegah kerusakan tanaman lebih luas dan menjaga keberlanjutan aktivitas budidaya di musim tanam berjalan.
Menurut keterangan Diperpa Badung yang dimuat media, penanganan dilakukan dengan menyesuaikan pola distribusi air irigasi serta menambah sarana penyediaan air agar petani tetap dapat melanjutkan usaha tani di tengah tekanan kekeringan. Rencana sumur bor disebut sebagai langkah antisipasi menghadapi potensi kekurangan air pada periode berikutnya.
Sumber
Berita berikutnya
RUU Perubahan Iklim: Bali Dorong Kerangka Adaptasi dan Pendanaan
RUU Pengelolaan Perubahan Iklim di DPR RI mulai menyentuh kebutuhan daerah. Bali yang menghadapi abrasi pesisir dan kenaikan muka laut membutuhkan ker…
Baca juga


