Ekonomi Bali-Nusra Tumbuh 6,10 Persen pada Triwulan II 2026
BPS mencatat kelompok provinsi Bali dan Nusa Tenggara (Bali-Nusra) mencetak pertumbuhan ekonomi tertinggi secara nasional pada triwulan II 2026, mencapai 6,10 persen year on year dan melampaui laju pertumbuhan Indonesia maupun Pulau Jawa.
Oleh Pandi Muktar
Editor: Mursyid Sonsang
· 3 menit baca
Jakarta — Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat kelompok provinsi Bali dan Nusa Tenggara (Bali-Nusra) mengalami pertumbuhan ekonomi sebesar 6,10 persen year on year pada triwulan II 2026, tertinggi di antara seluruh kawasan Indonesia pada periode itu.
Pertumbuhan Bali-Nusra melampaui pertumbuhan ekonomi nasional yang sebesar 5,29 persen yoy pada triwulan II 2026. Menurut data BPS yang dikutip berbagai laporan, Pulau Jawa tumbuh 5,65 persen dan Sulawesi 5,53 persen pada periode yang sama.
BPS menyampaikan data tersebut dalam rilis resmi dan konferensi pers di Jakarta mengenai perkembangan Produk Domestik Bruto triwulan II 2026. Deputi Bidang Neraca dan Analisis Statistik BPS M. Edy Mahmud menjelaskan bahwa pertumbuhan di Bali-Nusra, Jawa, dan Sulawesi berada di atas pertumbuhan nasional.
Data utama pertumbuhan
- Bali-Nusra: 6,10 persen yoy
- Jawa: 5,65 persen yoy
- Sulawesi: 5,53 persen yoy
- Nasional: 5,29 persen yoy
Angka 6,10 persen mencerminkan pertumbuhan gabungan kawasan Bali dan Nusa Tenggara, bukan hanya Provinsi Bali. Dalam pemaparan BPS yang dikutip media, Bali disebut sebagai provinsi dengan kontribusi terbesar terhadap pertumbuhan kawasan Bali-Nusra, dengan sumbangan sumber pertumbuhan sebesar 2,77 persen.
Kontribusi tersebut diikuti Nusa Tenggara Barat dengan 2,21 persen dan Nusa Tenggara Timur dengan 1,12 persen. Besarnya kontribusi Bali terhadap pertumbuhan kawasan menunjukkan peran ekonomi daerah itu dalam mendorong kinerja Bali-Nusra secara keseluruhan.
Sektor penopang Bali-Nusra
Laporan media yang merujuk data BPS mencatat bahwa pertumbuhan ekonomi Bali-Nusra pada triwulan II 2026 ditopang oleh beberapa lapangan usaha utama, antara lain sektor jasa terkait pariwisata, perdagangan, serta kegiatan pemerintahan. Di Bali, struktur ekonomi masih didominasi oleh lapangan usaha penyediaan akomodasi dan makan minum dengan kontribusi sekitar 21,91 persen terhadap PDRB triwulan II 2026.
Dari sisi pengeluaran, konsumsi rumah tangga menjadi komponen terbesar dalam perekonomian Bali, dengan pangsa sekitar 51,14 persen pada triwulan II 2026. Kondisi ini sejalan dengan karakteristik ekonomi daerah yang bergantung pada aktivitas wisata, konsumsi masyarakat, dan layanan terkait.
Di tingkat nasional, BPS mencatat kelompok provinsi di Pulau Jawa tetap mendominasi struktur dan kinerja ekonomi Indonesia, dengan kontribusi sekitar 56,47 persen terhadap PDB nasional dan pertumbuhan 5,65 persen yoy pada triwulan II 2026. Sumatra menyusul dengan kontribusi sekitar 22,50 persen. Sementara itu, pertumbuhan ekonomi terendah terjadi di kelompok provinsi Maluku dan Papua yang hanya mencapai 1,36 persen.
Meski kontribusi Bali-Nusra terhadap perekonomian nasional relatif kecil, yakni sekitar 2,84 persen, kawasan ini menjadi wilayah dengan laju pertumbuhan tertinggi pada triwulan II 2026. Data tersebut menempatkan Bali dan Nusa Tenggara sebagai salah satu kantong pertumbuhan ekonomi yang penting di Indonesia, terutama pada periode pemulihan dan penguatan kembali sektor pariwisata.
Secara keseluruhan, BPS melaporkan pertumbuhan ekonomi Indonesia triwulan II 2026 sebesar 5,29 persen yoy, lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Capaian Bali-Nusra yang mencapai 6,10 persen menunjukkan bahwa kawasan ini bergerak lebih cepat dibandingkan rata-rata nasional.
Sumber
- DetikFinance - "BPS: Ekonomi Tumbuh 5,29%, Penduduk Miskin Turun Jadi 22,93 Juta Orang"
- CNBC Indonesia - "Ekonomi RI Tumbuh 5,29%, Manufaktur dan Investasi Makin Bergairah"
- Liputan6 - "Bali-Nusa Tenggara Jadi Wilayah dengan Pertumbuhan Ekonomi Tertinggi"
- GoodStats - "Pertumbuhan Ekonomi Bali Triwulan II-2026"
- Kementerian Keuangan - "Siaran Pers: Ekonomi Triwulan II 2026 Tumbuh Kuat Ditopang ..."
Berita berikutnya

Pendamping PLUT Buleleng Minta UMKM Siapkan Stok dan Legalitas sebelum Go Digital
Pendamping PLUT KUMKM Buleleng, Mubayyinudin, mengingatkan pelaku UMKM menyiapkan kapasitas produksi, stok, kemasan, dan legalitas sebelum memperluas…

