Bali Aktual

Minggu, 20 September 2026

Dinkes Bali Catat 14 Kematian DBD hingga September 2025

Dinas Kesehatan Bali mencatat 9.704 kasus demam berdarah dengue (DBD) dan 14 kematian di Provinsi Bali sepanjang Januari hingga September 2025. Pemerintah menargetkan nol kasus kematian dengan memperkuat pencegahan dan deteksi dini.

Oleh

Editor: Mursyid Sonsang

· 3 menit baca

Denpasar — — Dinas Kesehatan Provinsi Bali mencatat 14 kematian akibat demam berdarah dengue (DBD) sepanjang Januari hingga September 2025, bukan 2026, dengan total 9.704 kasus pada periode yang sama menurut data resmi instansi tersebut.

Kepala Dinas Kesehatan Bali Nyoman Gede Anom menyatakan tujuan program pengendalian DBD di provinsi itu adalah mencapai nol kasus kematian, sehingga upaya pencegahan terus diperkuat melalui berbagai intervensi kesehatan masyarakat.

Menurut Anom, 14 kematian akibat DBD tercatat sepanjang Januari–September 2025. Rinciannya, dua kasus pada Januari, lima kasus pada Februari, tiga kasus pada Maret, satu kasus pada April, dan tiga kasus pada Mei.

Sejak Juni hingga September 2025, tidak ada kematian DBD yang dilaporkan di Bali. Meski angka kematian menurun, kasus DBD tetap tinggi sehingga pemerintah daerah meminta masyarakat waspada terutama pada musim hujan.

Data Dinas Kesehatan Bali menunjukkan total 9.704 kasus DBD hingga September 2025. Puncak kasus terjadi pada Februari dengan 1.841 kasus, bertepatan dengan periode curah hujan tinggi.

Kasus tertinggi tercatat di Kabupaten Badung dengan 1.922 kasus DBD sepanjang Januari–September 2025. Kepala Dinas Kesehatan Bali menjelaskan peningkatan kasus di awal musim hujan mengikuti pola tahunan yang dipengaruhi curah hujan.

Sebaran kasus dan kematian

Berdasarkan data Dinas Kesehatan Bali yang dikutip media lokal, jumlah kematian tertinggi terjadi di Kota Denpasar dengan empat kasus. Gianyar dan Tabanan masing-masing mencatat tiga kematian.

Kabupaten Klungkung melaporkan dua kematian akibat DBD, sedangkan Karangasem dan Buleleng masing-masing mencatat satu kematian. Dengan demikian, 14 kematian DBD sepanjang Januari–September 2025 tersebar di enam kabupaten/kota.

Data tahunan yang dirilis pada awal 2026 menunjukkan bahwa sepanjang 2025 Bali mencatat 10.391 kasus DBD dengan 14 kematian. Angka tersebut menurun dibanding 2024 yang mencapai sekitar 15,5 ribu kasus dengan 25 kematian.

Sementara itu, data hingga 15 Mei 2026 menunjukkan 1.167 kasus DBD dengan dua kematian di Bali, masing-masing di Buleleng dan Denpasar. Kasus tertinggi pada periode itu terjadi di Gianyar, disusul Badung, Karangasem, Buleleng, Denpasar, dan Klungkung.

Upaya pencegahan dan deteksi dini

Dinas Kesehatan Bali menyebut upaya menekan kematian akibat DBD dilakukan dengan memperkuat deteksi dini, promosi kesehatan, dan surveilans epidemiologi. Pemerintah menyediakan sarana diagnosis, seperti pemeriksaan laboratorium dan tes cepat, di fasilitas layanan dasar untuk menemukan kasus lebih awal.

Pejabat Dinas Kesehatan Bali dan kabupaten mengingatkan masyarakat untuk melakukan pemberantasan sarang nyamuk melalui gerakan 3M plus, menjaga kebersihan lingkungan, dan segera memeriksakan diri bila mengalami gejala demam tinggi. Masyarakat juga diimbau mewaspadai lonjakan kasus pada masa peralihan ke musim hujan.

Dinas kesehatan menggarisbawahi bahwa setiap kematian akibat DBD tetap menjadi perhatian, sehingga target nol kematian menjadi salah satu sasaran utama program pengendalian penyakit di Bali.

Sumber

Berita berikutnya

Baca juga

‹ Kembali ke beranda

Bagikan artikel

Bagikan sebagai gambar

Untuk Story Instagram, Status WhatsApp, atau TikTok. Tautan artikel ikut disalin supaya bisa ditempel di stiker Tautan.

Pratinjau kartu Story / Status untuk artikel ini
Story / Status · 9:16
Simpan gambar
Pratinjau kartu Feed untuk artikel ini
Feed · 4:5
Simpan gambar

Alat baca

Normal

Contoh ukuran teks isi artikel. Pilihan ini tersimpan di perangkat Anda.