Debit Air Perumda Buleleng Turun 20 Persen Saat Kemarau Panjang
Perumda Air Minum Tirta Hita Buleleng mencatat penurunan debit sekitar 20 persen sejak Agustus 2026 akibat kemarau panjang.
Oleh Arsyid Muhamad
Editor: Mursyid Sonsang
· Peristiwa: · 3 menit baca
Singaraja — Debit air yang dikelola Perumda Air Minum Tirta Hita Buleleng turun sekitar 20 persen sejak Agustus 2026 akibat musim kemarau panjang di Kabupaten Buleleng. Penurunan ini disampaikan Direktur Utama Perumda Air Minum Tirta Hita Buleleng, I Made Lestariana, pada peringatan hari ulang tahun ke-40 perusahaan pada Kamis, 10 September 2026.
Menurut Lestariana, penurunan debit berdasarkan hasil monitoring dan evaluasi bagian produksi perusahaan. Dalam kondisi normal, debit air yang dikelola Perumda Tirta Hita Buleleng berada di kisaran sekitar 840 liter per detik. Ia menyebut penurunan debit tersebut masih berpotensi bertambah karena musim kemarau belum berakhir.
"Penurunan debit air berdasarkan hasil monitoring dan evaluasi dari bagian produksi kami, memang terjadi penurunan di kisaran 20 persen sejak Agustus 2026," kata Lestariana, seperti diberitakan RRI Singaraja.
Pelayanan pelanggan masih terkendali
Lestariana menyatakan penurunan debit saat ini belum mengganggu pelayanan secara luas. Menurut dia, layanan kepada sekitar 69.000 sambungan pelanggan masih terkendali hingga 10 September 2026. Perusahaan memetakan sejumlah wilayah yang berpotensi mengalami gangguan pelayanan selama musim kemarau, antara lain Banyuning, Sambangan, Baktiseraga, Jalak Putih, dan Padang Keling.
Lestariana menjelaskan, potensi gangguan di kawasan tersebut tidak seluruhnya berkaitan dengan berkurangnya debit air. Pekerjaan atau perbaikan pada jaringan pipa transmisi dan distribusi juga dapat memengaruhi layanan di beberapa titik.
Perumda Air Minum Tirta Hita Buleleng menyiapkan pasokan air menggunakan mobil tangki ke sejumlah booster untuk menjaga pelayanan selama kemarau. Distribusi air bersih dengan mobil tangki juga dilakukan langsung kepada masyarakat ketika terjadi penutupan aliran sementara akibat pekerjaan perbaikan jaringan. Lestariana menegaskan pelayanan air minum kepada masyarakat masih terkendali dan perusahaan siap membantu warga yang kesulitan air bersih melalui koordinasi dengan BPBD Kabupaten Buleleng.
Data utama penurunan debit
Berdasarkan keterangan Lestariana, data pokok kondisi debit air saat ini meliputi:
- Debit normal sekitar 840 liter per detik.
- Penurunan sejak Agustus 2026 sekitar 20 persen dari kondisi normal.
- Pelanggan yang dilayani sekitar 69.000 sambungan.
- Wilayah berpotensi terganggu: Banyuning, Sambangan, Baktiseraga, Jalak Putih, dan Padang Keling.
Risiko jika kemarau berlanjut
Lestariana menyebut kemarau tahun ini diperkirakan berlangsung lebih lama sehingga penurunan debit air masih berpotensi berlanjut. Meski demikian, penurunan sekitar 20 persen pada musim kemarau 2026 belum menjadi kondisi terburuk yang pernah dialami perusahaan.
Dalam kemarau panjang sebelumnya, termasuk ketika fenomena El Nino terjadi, penurunan debit air disebut pernah mencapai sekitar 30 persen. Pada beberapa tahun terakhir, penurunan debit di sejumlah sumber juga mendorong perusahaan menghentikan pemanfaatan dua sumber mata air yang dianggap tidak lagi efektif karena debit tinggal 2–3 liter per detik, dan mengganti pasokan dari jaringan SPAM Burana Bendungan Titab Ularan.
Perumda berharap musim hujan segera datang agar debit air kembali membaik dan pelayanan tetap berjalan normal. Masyarakat di wilayah yang telah dipetakan sebagai area berpotensi terganggu diimbau memaksimalkan penampungan air ketika aliran masih lancar, serta mengikuti informasi resmi perusahaan terkait pekerjaan jaringan dan pengaturan distribusi.
Konteks kemarau panjang di Buleleng
Penurunan debit mulai tercatat pada Agustus 2026, ketika musim kemarau masih berlangsung di Buleleng. Pada 10 September 2026, penurunan mencapai sekitar 20 persen dari debit normal 840 liter per detik. Pemerintah Kabupaten Buleleng dan Perumda Air Minum Tirta Hita Buleleng sebelumnya beberapa kali bekerja sama menangani dampak kemarau berkepanjangan, termasuk penyaluran air bersih dengan mobil tangki ke desa-desa yang mengalami krisis air.
Strategi teknis yang ditempuh perusahaan untuk mengantisipasi kemarau panjang antara lain mengoptimalkan sumber air yang dikelola dan menjaga tekanan jaringan distribusi, disertai langkah nonteknis berupa koordinasi dengan pemerintah daerah untuk pelayanan air bersih di wilayah terdampak.
Sumber
- Tribun-Bali.com
- RRI Singaraja - HUT ke-40, Perumda Air Minum Tirta Hita Buleleng Pastikan Layanan Air Tetap Terjaga
- Prokompim Setda Kabupaten Buleleng - BPBD dan PDAM Bahu Membahu Tangani Krisis Air
- Pos Bali - Lima Desa di Buleleng Kesulitan Air Bersih, Ini Yang Dilakukan BPBD
- NusaBali.com - Buleleng 'Matikan' Dua Sumber Mata Air
Baca berikutnya
Lanjutan topik ini
Pariwisata
Kolam di Air Terjun Toya Bulan, Banyu Wana Amertha, dan Taman Sari
Sejumlah air terjun di Bali, seperti Toya Bulan di Bangli, Banyu Wana Amertha di Buleleng, dan Taman Sari di Gianyar, menawarkan kolam berendam bagi w…
Terbaru di Kabupaten/Kota
Baca juga




