Bali Aktual

Selasa, 22 September 2026

BWS Bali-Penida Catat Penurunan TMA Sungai, Data Buleleng Belum Spesifik

Data BWS Bali-Penida dan prakiraan BMKG menunjukkan penurunan tinggi muka air sungai serta curah hujan rendah di sejumlah wilayah Bali pada musim kemarau 2026.

Oleh

Editor: Mursyid Sonsang

· Peristiwa: · 4 menit baca

Buka foto ukuran besar. Ilustrasi. Gambar dibuat dengan kecerdasan buatan, bukan foto peristiwa.
Ilustrasi. Gambar dibuat dengan kecerdasan buatan, bukan foto peristiwa. · Foto: Ilustrasi AI

Buleleng — Balai Wilayah Sungai (BWS) Bali-Penida mencatat penurunan tinggi muka air (TMA) di 20 titik sungai pada enam kabupaten di Bali hingga Agustus 2026, dengan penyusutan terdalam terjadi di Tukad Yeh Mawa, Tabanan, yang turun sekitar 98 persen dibanding musim hujan. Namun, dalam data yang dipublikasikan, belum terdapat laporan khusus mengenai kondisi TMA sungai di Buleleng maupun layanan air minum daerah di kabupaten tersebut.

Data hidrologi BWS Bali-Penida yang disampaikan pada 8–9 September 2026 membandingkan rata-rata TMA musim hujan dan musim kemarau di titik pemantauan di Gianyar, Tabanan, Jembrana, Karangasem, Klungkung, dan Badung. Informasi ini menggambarkan tekanan kemarau pada tingkat regional Bali, bukan secara spesifik pada jaringan pelayanan air di Buleleng.

Kondisi pasokan air rumah tangga bergantung bukan hanya pada TMA sungai, melainkan juga pada kapasitas sumber baku, sistem distribusi, serta pengelolaan perusahaan air minum di masing-masing daerah. Karena itu, penurunan TMA di kabupaten lain tidak dapat langsung disamakan dengan kondisi debit sungai dan layanan air di Buleleng.

Penurunan TMA di enam kabupaten

Menurut pemberitaan media lokal yang merujuk data BWS Bali-Penida, penurunan paling tajam terjadi di Tukad Yeh Mawa, Kabupaten Tabanan. Rata-rata TMA sungai ini turun dari sekitar 0,409 meter pada musim hujan menjadi 0,008 meter pada musim kemarau, atau penurunan sekitar 98 persen.

Beberapa titik lain juga mengalami penurunan signifikan. Di Jembrana, Tukad Yeh Embang dilaporkan turun sekitar 72 persen, dari 0,757 meter menjadi 0,212 meter. Tukad Yeh Sumbul turun sekitar 63 persen, dari 0,416 meter menjadi 0,152 meter. Di Badung, Tukad Badung Hulu menyusut sekitar 58 persen, dari 0,296 meter menjadi 0,125 meter.

Penurunan sedang tercatat pada Tukad Yeh Otan di Tabanan, dengan TMA musim hujan 0,930 meter turun menjadi 0,551 meter pada musim kemarau, atau sekitar 41 persen. Di sisi lain, penurunan di beberapa sungai lain relatif kecil, misalnya Tukad Pakerisan di Gianyar yang hanya turun sekitar 1 persen.

Perbedaan angka penurunan ini menunjukkan bahwa setiap daerah aliran sungai memiliki karakteristik hidrologi berbeda, dipengaruhi kondisi geologi, penggunaan lahan, dan pola hujan setempat. Data tersebut dapat digunakan sebagai indikator tekanan kemarau regional, namun belum cukup untuk menggambarkan debit sungai di Buleleng.

Kemarau, prakiraan hujan, dan kekeringan

BWS Bali-Penida menyatakan penurunan TMA sejalan dengan masih berlangsungnya musim kemarau di Bali dan meminta pemerintah daerah serta masyarakat mewaspadai ketersediaan air. Himbauan tersebut mencakup penghematan penggunaan air untuk kebutuhan domestik dan pertanian.

Stasiun Klimatologi Bali BMKG memprediksi curah hujan bulan September 2026 di Provinsi Bali umumnya berada pada kisaran 1–50 milimeter, dengan sifat hujan dominan bawah normal. Dalam buletin iklim, BMKG juga menyebut sebagian wilayah Buleleng memiliki peluang curah hujan 0–20 milimeter dan 21–50 milimeter pada September, dengan sifat hujan bawah normal.

Analisis iklim nasional BMKG menunjukkan bahwa pada September 2026 curah hujan rendah, di bawah 50 milimeter per dasarian, diprakirakan mendominasi Bali dan sejumlah wilayah lain di Indonesia. Kondisi ini membuat periode kering diprediksi berlanjut hingga Oktober, sebelum hujan mulai meningkat secara bertahap.

BPBD Provinsi Bali, melalui peringatan dini cuaca dan iklim untuk Dasarian II September 2026, menyatakan bahwa wilayah Bali masih berada dalam periode musim kemarau dan terdapat peringatan dini kekeringan meteorologis untuk 11–20 September 2026. Peringatan tersebut menjadi dasar penyiapan langkah antisipasi, termasuk penyediaan air bersih ke wilayah terdampak.

Dampak terhadap Buleleng belum terukur

Dalam data TMA sungai yang dirilis BWS Bali-Penida, Buleleng tidak termasuk enam kabupaten yang dicatat mengalami penurunan di 20 titik pemantauan. BMKG memang memprediksi curah hujan rendah dan sifat hujan bawah normal untuk beberapa kecamatan di Buleleng, namun informasi mengenai perubahan debit sungai di kabupaten tersebut belum dipublikasikan dalam bahan yang sama.

BPBD Bali menyebutkan prakiraan hujan ringan di seluruh kabupaten, termasuk Buleleng, pada 11–20 September 2026, tetapi tidak merinci data penyaluran air bersih per kabupaten. Keterangan mengenai volume bantuan air, jumlah penerima, dan lokasi distribusi di Buleleng belum tersedia dalam dokumen peringatan dini tersebut.

Tanpa data debit sungai, kondisi sumber air baku, dan kapasitas produksi perusahaan air minum daerah, hubungan langsung antara penurunan TMA regional dan kemungkinan gangguan layanan air di Buleleng belum dapat dijelaskan. Warga Buleleng masih perlu mengandalkan informasi resmi dari pemerintah daerah, BWS Bali-Penida, dan BMKG mengenai perkembangan kemarau dan pengelolaan sumber air.

Sumber

Baca berikutnya

  1. Lanjutan topik ini

  2. Terbaru di Kabupaten/Kota

Baca juga

‹ Kembali ke beranda

Bagikan artikel

Bagikan sebagai gambar

Untuk Story Instagram, Status WhatsApp, atau TikTok. Tautan artikel ikut disalin supaya bisa ditempel di stiker Tautan.

Pratinjau kartu Story / Status untuk artikel ini
Story / Status · 9:16
Simpan gambar
Pratinjau kartu Feed untuk artikel ini
Feed · 4:5
Simpan gambar

Alat baca

Normal

Contoh ukuran teks isi artikel. Pilihan ini tersimpan di perangkat Anda.