BRIN: Subak Bali Jadi Contoh Global Pertanian Berkelanjutan Rendah Emisi
BRIN menilai sistem subak di Bali sebagai contoh global pengelolaan pertanian berkelanjutan yang memadukan produktivitas, pengurangan emisi, kelestarian lingkungan, dan nilai budaya.
Oleh Pandi Muktar
Editor: Mursyid Sonsang
· 3 menit baca
Bali — — Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menilai sistem subak di Bali sebagai salah satu contoh global pengelolaan pertanian berkelanjutan yang mampu menjaga keseimbangan antara produktivitas, upaya penurunan emisi, kelestarian lingkungan, dan nilai budaya masyarakat setempat.
Pandangan itu disampaikan Kepala Organisasi Riset Pertanian dan Pangan BRIN, Puji Lestari, dalam forum pertukaran pengetahuan di Bali yang diikuti delegasi internasional pada 24 Juni 2026.
Menurut keterangan BRIN yang dikutip liputan media nasional, subak sebagai warisan budaya masyarakat Bali dinilai dapat menjadi contoh kreativitas bagi negara lain dalam mengembangkan pertanian berkelanjutan.
Subak adalah sistem irigasi dan kelembagaan tradisional yang mengatur pengelolaan air, jadwal tanam, dan kerja sama antarpetani. Di Jatiluwih, Tabanan, sistem ini memanfaatkan jaringan saluran air berbasis gravitasi tanpa pompa modern, dengan pengambilan air dari beberapa sumber yang mengaliri sawah berundak di kaki Gunung Batukaru.
Subak sebagai contoh pertanian rendah emisi
Dalam forum tersebut, BRIN mendorong peserta dari berbagai negara untuk mempelajari subak sebagai model pertanian rendah emisi dan berkelanjutan yang memadukan produktivitas, pengelolaan sumber daya alam, dan pelestarian budaya.
Penelitian tentang pertanian cerdas iklim di kawasan subak Bali menunjukkan bahwa praktik subak sejalan dengan prinsip climate smart agriculture (CSA): meningkatkan produktivitas, mendukung adaptasi terhadap perubahan iklim, dan berkontribusi pada mitigasi emisi.
Analisis itu menyoroti efisiensi penggunaan air, diversifikasi tanaman, serta praktik pertanian ramah lingkungan sebagai unsur penting sistem subak. Kajian lain menyebut sistem irigasi macak-macak atau kering-basah bergantian yang diterapkan di sebagian subak dapat mengurangi emisi metana sekaligus menghemat air.
Di Jatiluwih, sebagian sawah dikelola secara organik tanpa pupuk kimia dan pestisida sintetis, sehingga emisi dari produksi beras dapat ditekan. Inisiatif pelestarian subak yang mendorong pertanian organik menyebut pengurangan emisi karbon sekitar 1,7 kilogram CO2e per kilogram beras organik dibanding pola budidaya konvensional.
Nilai budaya dan pengakuan internasional
Subak tidak hanya berfungsi sebagai sistem teknis irigasi, melainkan juga lembaga sosial dan spiritual. Setiap subak adalah organisasi demokratis yang mengatur pembagian air, jadwal tanam, dan pemeliharaan saluran secara kolektif.
Salah satu bentuk pengakuan internasional terhadap sistem ini adalah penetapan lanskap subak Bali, termasuk persawahan Jatiluwih, sebagai warisan budaya dunia oleh UNESCO pada 2012.
Dalam kunjungan delegasi G20 ke Jatiluwih pada 2022, Kementerian Pertanian memperlihatkan praktik pertanian tradisional yang dinilai tangguh menghadapi dampak perubahan iklim. Pejabat kementerian menekankan peran irigasi subak dalam menjaga ketersediaan air sepanjang tahun sehingga memungkinkan intensitas tanam tinggi di kawasan persawahan terasering.
Tantangan keberlanjutan subak
Meski mendapat pengakuan sebagai model pertanian berkelanjutan, subak Bali menghadapi tekanan keberlanjutan. Artikel kebijakan dan kajian tentang subak menyoroti ancaman alih fungsi lahan, perubahan pola tanam, serta tekanan hidrologis akibat perubahan iklim sebagai faktor yang dapat memengaruhi kelangsungan sistem.
Kearifan lokal subak yang sejalan dengan konsep pertanian cerdas iklim menjadi dasar berbagai upaya pelestarian, termasuk program adat dan inisiatif masyarakat sipil untuk mempertahankan lahan sawah, mendorong pertanian organik, dan memperkuat posisi petani dalam jaringan subak.
Menurut sejumlah kajian, keberlanjutan subak bergantung pada kemampuan menjaga fungsi pertanian, lingkungan, dan budaya secara bersamaan, termasuk melalui kebijakan tata ruang, pengelolaan air terpadu, dan dukungan ekonomi bagi petani yang tetap menggarap sawah dalam sistem subak.
Sumber
- Liputan6
- RRI.co.id
- Analisis Potensi Implementasi Pertanian Cerdas Iklim di Kawasan Pertanian Subak Bali (Scribd, naskah ilmiah)
- Desa Adat Jatiluwih - Official Portal
- Kementerian Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (Polkam.go.id)
- Sistem Subak dalam Pengelolaan Air secara Berkelanjutan (csdt.org)
- Save Subak
- Medcom.id
- Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya - Materi Pertanian Berlanjut
Berita berikutnya
DPRD Bali Kawal Rencana Kelola Sampah Organik Denpasar di Klungkung
DPRD Bali mengawasi rencana pengelolaan sampah organik dari Denpasar di Klungkung sebagai tindak lanjut pembatasan pembuangan sampah organik ke TPA Su…
Baca juga


