BPBD Bali: Erupsi Gunung Api Picu Gempa Vulkanik, Bukan Megathrust
BPBD Provinsi Bali menegaskan aktivitas erupsi gunung api memicu gempa vulkanik lokal, bukan gempa tektonik megathrust di zona subduksi.
Oleh Mukmin John
Editor: Mursyid Sonsang
· Peristiwa: · 3 menit baca
Denpasar — Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Bali menegaskan aktivitas erupsi gunung api tidak berkaitan langsung dengan potensi gempa megathrust di sekitar Bali, dan menekankan bahwa erupsi terutama memicu gempa vulkanik, bukan gempa tektonik megathrust.
Kepala Pelaksana BPBD Provinsi Bali I Gede Agung Teja Bhusana Yadnya menjelaskan, gempa vulkanik berkaitan dengan pergerakan magma dan tekanan di dalam tubuh gunung api. Menurut dia, mekanisme ini berbeda dengan gempa tektonik yang terjadi akibat pergeseran atau patahan batuan pada kerak bumi yang dipicu pergerakan lempeng tektonik.
Teja menyatakan anggapan bahwa erupsi gunung api dapat dijadikan penanda langsung akan terjadinya gempa megathrust tidak tepat. Ia menekankan erupsi gunung bisa memicu gempa vulkanik di sekitar tubuh gunung, namun tidak berkaitan langsung dengan gempa megathrust yang bersumber di zona subduksi tektonik.
Aktivitas erupsi dan kekhawatiran megathrust
Menurut Teja, kekhawatiran sebagian masyarakat terhadap potensi gempa megathrust meningkat setelah sejumlah gunung api di Indonesia mengalami erupsi dalam waktu berdekatan. Salah satu yang menjadi sorotan publik adalah aktivitas Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda.
Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mencatat Anak Krakatau mengalami satu episode erupsi menerus selama sekitar 25 jam, yang dimulai pada Jumat, 4 September 2026 pukul 23.07 WIB dan berakhir pada Minggu, 6 September 2026 pukul 00.04 WIB. Setelah episode erupsi menerus tersebut, terekam beberapa letusan bertipe Strombolian.
Badan Geologi menjelaskan, erupsi menerus selama 25 jam tersebut merupakan bagian dari dinamika aktivitas vulkanik Anak Krakatau yang masih berada pada Level III atau Siaga. Pemantauan kegempaan menunjukkan dominasi gempa vulkanik, seperti gempa erupsi, hembusan, low frequency, dan gempa hybrid/fase banyak, yang mencerminkan pergerakan magma dan gas di dalam tubuh gunung api.
Membedakan gempa vulkanik dan tektonik
Pakar kebencanaan Daryono dari Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI) menjelaskan kepada media bahwa gempa tektonik adalah guncangan yang dipicu pergeseran atau patahan lapisan batuan pada kerak bumi akibat pergerakan lempeng tektonik. Adapun gempa vulkanik terjadi karena pergerakan magma atau pelepasan gas di dalam tubuh gunung api.
Menurut Daryono, gempa vulkanik pada dasarnya memiliki cakupan tekanan yang lokal di sekitar gunung api. Energi dan skala tekanannya tidak cukup besar untuk memicu gempa tektonik utama di zona megathrust, sehingga hubungan pemicu antara aktivitas vulkanik dan gempa tektonik bekerja satu arah: gempa tektonik besar dapat memengaruhi sistem vulkanik, tetapi aktivitas vulkanik tidak memicu runtuhnya zona megathrust.
Penjelasan tersebut sejalan dengan sikap BPBD Bali yang menyatakan bahwa peningkatan aktivitas erupsi di sejumlah gunung api tidak dapat dijadikan indikator bahwa gempa megathrust akan segera terjadi. Keberadaan zona megathrust di selatan Jawa–Bali tetap menjadi potensi bencana yang perlu diwaspadai, namun waktu terjadinya gempa besar tidak dapat diprediksi dari pola erupsi gunung api.
Konteks ancaman geologi Indonesia
Indonesia memiliki ratusan gunung api aktif dan berada pada pertemuan beberapa lempeng tektonik besar, sehingga menghadapi dua karakter ancaman geologi: aktivitas vulkanik dan aktivitas tektonik dari zona subduksi dan patahan. Di Selat Sunda, zona megathrust menjadi salah satu sumber potensi gempa besar dan tsunami, sementara Anak Krakatau menjadi salah satu pusat aktivitas vulkanik yang dipantau ketat Badan Geologi.
BPBD Bali mengingatkan masyarakat untuk tetap waspada dan meningkatkan kesiapsiagaan tanpa menghubungkan setiap erupsi gunung api dengan ancaman megathrust. Kesiapsiagaan bencana perlu dilakukan dengan mengikuti informasi resmi dari BMKG, Badan Geologi, dan lembaga pemerintah terkait, serta memahami perbedaan karakter ancaman agar langkah mitigasi sesuai dengan jenis bahaya yang dihadapi.
Sumber
Baca berikutnya
Lanjutan topik ini
Berita Bali
BMKG Peringatkan Gelombang hingga 4 Meter di Perairan Bali
BMKG Wilayah III Denpasar memperingatkan potensi gelombang 2,5–4 meter di perairan selatan Bali, Selat Bali selatan, dan Selat Lombok selatan pada 19–…
Terbaru di Berita Bali
Berita utama hari ini

Baca juga





