Barantin Siapkan Tim Protokol Ekspor Salak Bali ke Vietnam
Badan Karantina Indonesia menyiapkan tim khusus untuk merumuskan protokol karantina antarpemerintah antara Indonesia dan Vietnam bagi ekspor salak Bali.
Oleh Pandi Muktar
Editor: Mursyid Sonsang
· 3 menit baca
Badung — Badan Karantina Indonesia menargetkan pembukaan akses ekspor salak Bali ke Vietnam melalui pembentukan tim khusus yang akan menyiapkan protokol karantina antarpemerintah. Komitmen itu disampaikan Kepala Badan Karantina Indonesia Abdul Kadir Karding dalam rangkaian pertemuan dengan pelaku ekspor, di tengah potensi nilai ekspor komoditas karantina asal Bali yang telah mencapai sekitar Rp6,9 triliun hingga Juli 2026.
Menurut laporan salah satu media lokal, pelaku usaha buah di Bali menyampaikan bahwa permintaan salak gula pasir dari Vietnam terus meningkat sejak 2022. Mereka meminta pemerintah mempercepat penyusunan protokol karantina antara Indonesia dan Vietnam agar pengiriman dapat dilakukan dengan dasar hukum yang jelas.
Barantin siapkan tim untuk protokol RI–Vietnam
Dalam sebuah sarasehan dengan eksportir, Abdul Kadir Karding menyatakan akan membentuk tim khusus untuk mempercepat pembukaan akses ekspor salak Indonesia ke Vietnam melalui mekanisme kerja sama antarpemerintah atau government to government (G2G). Pernyataan tersebut disampaikan menanggapi keluhan eksportir yang selama ini belum memiliki protokol karantina khusus untuk salak.
Menurut Karding, potensi ekspor komoditas karantina asal Bali cukup besar. Hingga Juli 2026, nilai ekspor berbagai komoditas yang melalui proses sertifikasi karantina, seperti ikan, buah-buahan, dan tanaman hias, tercatat sekitar Rp6,9 triliun. Ia menyebut angka itu menunjukkan bahwa produk asal Bali memiliki peluang untuk memperluas pasar ke berbagai negara tujuan.
Karding menambahkan, pemerintah perlu menyiapkan komoditas agar memenuhi persyaratan negara tujuan ekspor. Ia mendorong pelaku usaha memperkuat kualitas produk, sementara Barantin berupaya menyederhanakan layanan dan memastikan prosedur karantina sesuai dengan kesepakatan internasional.
Permintaan salak Bali ke Vietnam
Eksportir yang menangani salak gula pasir Bali menyampaikan bahwa permintaan dari Vietnam mulai muncul sekitar 2022 dan terus berlanjut. Mereka menyebutkan mampu mengirim beberapa ton salak per hari melalui jalur udara sesuai permintaan pembeli.
Pengiriman tersebut dilakukan dengan memanfaatkan peluang pasar, tetapi eksportir menyatakan belum memiliki kepastian terkait protokol karantina khusus untuk salak ke Vietnam. Karena itu, mereka khawatir pengiriman sewaktu-waktu dapat terkendala kebijakan, meskipun petani telah merasakan manfaat ekonomi dari penjualan ke luar negeri.
Eksportir juga menyebutkan bahwa harga salak yang dijual ke pasar ekspor membantu meningkatkan penyerapan produksi petani di sentra-sentra salak Bali. Mereka berharap adanya protokol resmi dapat memberikan kepastian jangka panjang bagi usaha tani dan kegiatan ekspor.
Ekspor komoditas karantina Bali
Data yang disampaikan Barantin menunjukkan bahwa Bali menjadi salah satu daerah dengan aktivitas ekspor komoditas karantina yang tinggi. Hingga pertengahan 2026, nilai ekspor komoditas yang melewati sertifikasi karantina mencapai sekitar Rp6,9 triliun.
Komoditas tersebut mencakup berbagai produk perikanan seperti benih bandeng, benih kerapu, ikan konsumsi, ikan hias, hingga produk olahan laut. Selain itu, dari sektor tumbuhan, Bali mengekspor bunga potong, manggis, vanili, daun pakis, biji kopi, dan kakao ke sejumlah negara di Asia, Australia, dan Eropa.
Dalam beberapa tahun terakhir, Barantin dan kantor karantina di Bali intensif mengawal ekspor manggis dari Bali ke Tiongkok. Pengiriman manggis telah mengikuti protokol karantina yang disepakati kedua negara, sehingga menjadi contoh kerja sama teknis yang diharapkan dapat diterapkan pada komoditas lain, termasuk salak.
Eksportir dan Barantin sama-sama menilai bahwa penyusunan protokol karantina RI–Vietnam untuk salak akan menjadi langkah penting. Kesepakatan tersebut diharapkan dapat memperkuat posisi petani dan pelaku usaha Bali dalam memanfaatkan permintaan buah tropis di pasar regional.
Sumber
- detikBali - Permintaan Salak dari Vietnam Besar, Ekspor RI Masih Terganjal Protokol
- Baliekbis.com - Refleksi Tahun 2025: Karantina Bali Sertifikasi Kegiatan Ekspor 37.350 Sertifikat dengan Nilai Rp4,07 Triliun
- Badan Karantina Indonesia - Jelang Imlek, Ekspor Manggis Bali ke Tiongkok Meningkat Signifikan
Berita berikutnya

Pendamping PLUT Buleleng Minta UMKM Siapkan Stok dan Legalitas sebelum Go Digital
Pendamping PLUT KUMKM Buleleng, Mubayyinudin, mengingatkan pelaku UMKM menyiapkan kapasitas produksi, stok, kemasan, dan legalitas sebelum memperluas…

