Art & Bali 2026 Hadirkan 23 Galeri dan 300 Seniman di Nuanu
Art & Bali 2026 menghadirkan 23 galeri dan lebih dari 300 seniman di Nuanu Creative City, Beraban, Tabanan, pada 11–13 September 2026.
Oleh Asyinta Sastra
Editor: Mursyid Sonsang
· 4 menit baca
Tabanan — Art & Bali 2026 menghadirkan 23 galeri dan ruang seni serta lebih dari 300 seniman di Nuanu Creative City, Beraban, Tabanan, Bali, pada 11–13 September 2026. Pameran seni, desain, dan budaya ini mengusung tema besar “What the Body Remembers” dan menempatkan karya Indonesia dalam dialog dengan praktik kreatif dari India, Asia Tenggara, dan sejumlah negara lain.
Menurut laporan Balihbalihan, seluruh rangkaian acara tersebar di area terbuka kawasan Nuanu seluas kurang lebih 44 hektare, bukan di dalam gedung konvensi. Presentasi galeri berlangsung berdampingan dengan instalasi khusus, pertunjukan, serta program publik di berbagai titik ruang terbuka.
Dalam pernyataannya, Direktur Art & Bali Kelsang Dolma menyebut platform ini menghadirkan 23 presentasi galeri dan ruang seni serta lebih dari 300 seniman dari sedikitnya tujuh negara. Sekitar 70 persen karya yang ditampilkan berfokus pada seni Indonesia. Rangkaian diskusi publik tahun ini mencakup enam sesi percakapan yang menghadirkan lebih dari 20 pembicara dari dunia seni, mode, dan budaya.
Data yang disampaikan RRI Denpasar dan Voice of Indonesia mencatat penyelenggaraan Art & Bali 2026 di Nuanu Creative City menarik sekitar 10 ribu pengunjung selama tiga hari pelaksanaan, dengan hampir 300 karya terjual dari 23 exhibitor. Kolektor yang hadir tidak hanya berasal dari Indonesia, tetapi juga dari Singapura, Malaysia, Australia, Korea Selatan, dan India.
- Galeri dan ruang seni: 23
- Seniman: lebih dari 300
- Negara peserta: sedikitnya tujuh
- Desainer dan perajin dalam pameran utama: 26
- Durasi acara utama: 11–13 September 2026
Ingatan tubuh dalam praktik material
Pameran utama bertajuk “What the Body Remembers” dikuratori Bandana Tewari dengan Brina Paska sebagai asisten kurator. Menurut Balihbalihan dan Dewi, pameran ini mempertemukan 26 desainer dan kreator dari Indonesia serta India dengan gagasan bahwa teknik dan keterampilan tangan merupakan bentuk ingatan, dan tangan pembuat menyimpan pengetahuan bahkan sebelum pengetahuan tersebut dirumuskan melalui bahasa.
Eksplorasi itu diwujudkan melalui kain, teknik pewarnaan, tenun, dan berbagai gestur dalam proses penciptaan. Praktik tersebut dipahami sebagai pengetahuan material yang terus bergerak ketika diulangi oleh pembuat yang berbeda di lintas generasi.
Bandana Tewari menjelaskan, fokus pameran bukan untuk membandingkan Indonesia dengan India, melainkan membuka dialog melalui memori budaya, pengetahuan material, kerajinan, tekstil, serta tindakan membuat. Konsep “tangan sebagai arsip” menjadi salah satu pintu masuk kuratorial, mengajak pengunjung melihat jejak masa lalu sekaligus mempertanyakan bagaimana pengetahuan yang disimpan tubuh dapat digunakan pada masa kini.
Nama kreator yang terlibat antara lain A. Sebastianus, Cinta Bumi Artisans, Iyonono, Lulu Lutfi Labibi, Tex Saverio, dan TOTON The Label dari Indonesia, serta 11.11 / eleven eleven, Ateev Anand of re-ceremonial, Chanakya School, Gaurav Gupta, dan Raw Mango x Sanjay Garg dari India.
Pameran “What the Body Remembers” dibuka pada 11 September 2026 dan, menurut Balihbalihan serta informasi penyelenggara, dijadwalkan tetap dapat dikunjungi di Labyrinth Art Gallery, Nuanu Creative City hingga 29 November 2026. Perpanjangan tersebut membuat pameran utama berlangsung jauh lebih lama daripada agenda Art & Bali yang berakhir pada 13 September.
Platform seni dan akses pasar
Art & Bali mengusung tema berkelanjutan “Bridging Dichotomies”, yang mempertemukan tradisi dan modernitas, alam dan teknologi, serta kriya dan pasar. Menurut Kementerian Ekonomi Kreatif, program tahun ini dirancang sebagai wadah pertemuan lintas disiplin yang menghadirkan pameran, instalasi, diskusi, lokakarya, pertunjukan, serta pasar seni dalam satu ekosistem.
CEO Nuanu Creative City Lev Kroll menempatkan kawasan Nuanu sebagai platform bagi seniman dan kreator untuk menemukan gagasan, berkolaborasi, serta membangun proyek berkelanjutan melalui koneksi dan rasa ingin tahu. Dalam pembukaan, Wakil Menteri Ekonomi Kreatif Irene Umar menegaskan Indonesia memiliki potensi besar dalam seni, mode, kriya, dan desain, dengan tantangan utama memperkuat hubungan antara praktik kreatif, audiens, dan pasar yang lebih luas.
Rangkaian peserta mencakup galeri dan ruang seni dari Bali, Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Malang, Kuala Lumpur, Singapura, Barcelona, Swiss, dan Amerika Serikat. Sejumlah nama yang tampil antara lain Agung Rai Museum of Art, G13 Gallery, Sangkring Art Space, Santrian Art Gallery, RUANG//, serta Wianta by Wianta Art Studio.
Laporan Tatkala dan Balihbalihan juga menyoroti penggunaan instalasi media dan material daur ulang di kawasan Nuanu, termasuk Labyrinth Dome yang menawarkan pengalaman imersif 360 derajat dan menjadi salah satu ruang utama untuk sesi diskusi Nuanu Future Talks: Fashion & Art.
Sumber
Berita berikutnya

Ratusan Krama Songan Ikuti Melasti di Tepi Danau Batur
Ratusan krama Desa Adat Songan mengikuti upacara Melasti di Pura Segara, tepi Danau Batur, Jumat, 18 September 2026. Prosesi ini menjadi bagian awal K…
Baca juga



