Bali Aktual

Minggu, 20 September 2026

Unud Temukan Puluhan Senyawa Hidrokarbon di Tanah Mangrove Benoa

Tim Rumah Sakit Pertanian Universitas Udayana menggunakan uji GC-MS pada akhir Februari 2026 dan menemukan puluhan senyawa hidrokarbon mirip bahan bakar minyak di tanah mangrove Benoa.

Oleh

Editor: Mursyid Sonsang

· 3 menit baca

Denpasar — Tim peneliti Rumah Sakit Pertanian Universitas Udayana menemukan puluhan senyawa hidrokarbon mirip bahan bakar minyak dalam sampel tanah mangrove di Benoa, Denpasar, Bali, berdasarkan uji laboratorium dengan metode Gas Chromatography-Mass Spectrometry (GC-MS) pada akhir Februari 2026.

Pengujian dilakukan terhadap sampel tanah di kawasan mangrove yang terdampak kematian massal sejak awal Februari 2026. Menurut laporan tim yang dikoordinasi Dr Dewa Gede Wiryangga Selangga, hasil uji GC-MS menunjukkan sampel tanah positif tercemar limbah minyak bumi, dengan dominasi karakteristik bahan bakar diesel atau solar.

Uji GC-MS di mangrove Benoa

Sejumlah laporan media menyebutkan, tim RS Pertanian Unud mengambil sampel tanah dari area mangrove di Benoa yang berada di sekitar jalur pelabuhan dan infrastruktur pendukung, lalu mengujinya pada 24–26 Februari 2026 menggunakan metode GC-MS.

GC-MS digunakan untuk mengidentifikasi dan menentukan komposisi senyawa kimia, terutama senyawa volatil dan semivolatil. Dari pengujian tersebut, tim peneliti melaporkan terdeteksi 45 senyawa volatil dalam sampel tanah, dengan 41 di antaranya merupakan senyawa hidrokarbon yang umum ditemukan dalam bensin, minyak tanah, dan solar.

Dalam paparan yang dikutip sejumlah media, Dewa Gede Wiryangga Selangga menyatakan bahwa berdasarkan hasil analisis GC-MS, sampel tanah mangrove di Benoa positif tercemar limbah minyak bumi, terutama diesel atau solar. Ia menautkan profil senyawa yang didominasi rentang karbon menengah dengan karakteristik bahan bakar diesel.

Profil senyawa hidrokarbon

Hasil uji GC-MS yang diberitakan menyebutkan beberapa senyawa hidrokarbon dengan persentase dominan, antara lain n-hexadecane, n-heptadecane, pentadecane 2,6,10-trimethyl, pentadecane 2,6,10,14-tetramethyl, dan n-eicosane. Senyawa-senyawa ini termasuk dalam rentang rantai karbon C15–C24 yang lazim dikaitkan dengan fraksi minyak bumi jenis diesel.

Menurut penjelasan Dewa Gede Wiryangga Selangga yang dikutip media, dominasi hidrokarbon C15–C24 menjadi dasar penilaian bahwa sampel tanah mengandung cemaran bahan bakar minyak jenis solar. Namun laporan yang tersedia belum memuat penetapan pihak tertentu sebagai sumber pencemaran.

Kajian strategis tim RS Pertanian Unud yang dirujuk Dinas Kehutanan dan Lingkungan Hidup (DKLH) Bali menyimpulkan bahwa kematian massal mangrove di Bali Selatan diduga kuat terkait kontaminasi hidrokarbon atau bahan bakar minyak, di samping faktor logam berat sebagai pemicu penyakit abiotik pada tanaman.

Dampak terhadap mangrove dan respons pemerintah

Dalam sejumlah keterangan, tim peneliti menyatakan bahwa kontaminasi hidrokarbon di sedimen dapat mengganggu kemampuan mangrove menyerap air dan unsur hara, sehingga menimbulkan gejala daun menguning, rontok, dan pada kasus berat menyebabkan kematian pohon.

Ratusan pohon mangrove di kawasan Benoa dilaporkan mati sejak awal Februari 2026, terutama di wilayah hutan mangrove yang dikelola KSOP dan Pelindo. DKLH Bali menegaskan bahwa area tersebut tidak termasuk dalam batas administratif Taman Hutan Raya Ngurah Rai, tetapi tetap menjadi perhatian karena kondisi ekosistemnya.

Laporan mengenai hasil kajian Unud menjadi dasar sejumlah lembaga swadaya masyarakat menyampaikan pengaduan dugaan pencemaran solar ke Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan maupun aparat penegak hukum. Pemerintah daerah dan instansi terkait menyatakan masih menelaah lebih lanjut temuan tersebut dan melakukan koordinasi untuk penanganan lanjutan.

Sejauh yang diberitakan, data laboratorium yang dipublikasikan ke media berfokus pada jenis dan profil senyawa, sementara informasi rinci tentang konsentrasi hidrokarbon per massa tanah atau volume air belum disampaikan secara terbuka. Penelusuran sumber cemaran dan pemulihan ekosistem mangrove Benoa masih menjadi agenda sejumlah pihak.

Sumber

Berita berikutnya

Baca juga

‹ Kembali ke beranda

Bagikan artikel

Bagikan sebagai gambar

Untuk Story Instagram, Status WhatsApp, atau TikTok. Tautan artikel ikut disalin supaya bisa ditempel di stiker Tautan.

Pratinjau kartu Story / Status untuk artikel ini
Story / Status · 9:16
Simpan gambar
Pratinjau kartu Feed untuk artikel ini
Feed · 4:5
Simpan gambar

Alat baca

Normal

Contoh ukuran teks isi artikel. Pilihan ini tersimpan di perangkat Anda.