Bali Aktual

Selasa, 22 September 2026

Mafindo: Lansia Perlu Pendampingan Hadapi Hoaks dan AI

Mafindo menilai lansia perlu pendampingan menghadapi hoaks dan konten AI. Data APJII, IMDI, serta catatan OJK dan contoh kasus di Denpasar menunjukkan risiko digital pada kelompok usia lanjut.

Oleh

Editor: Mursyid Sonsang

· Peristiwa: · 3 menit baca

Buka foto ukuran besar. Ilustrasi. Gambar dibuat dengan kecerdasan buatan, bukan foto peristiwa.
Ilustrasi. Gambar dibuat dengan kecerdasan buatan, bukan foto peristiwa. · Foto: Ilustrasi AI

Denpasar — Masyarakat Anti Fitnah Indonesia (Mafindo) menilai lansia perlu pendampingan agar tidak mudah menjadi korban hoaks, penipuan digital, dan manipulasi berbasis kecerdasan artifisial. Sejumlah sumber juga menunjukkan lansia termasuk kelompok pengguna internet dan telepon seluler yang besar, sementara literasi digital mereka belum selalu sejalan dengan penggunaan perangkat.

Data APJII 2025 yang dikutip oleh media menyebut penggunaan telepon seluler pada kelompok lansia mencapai 91,13 persen. Pada saat yang sama, Kementerian Komunikasi dan Digital melalui Indeks Masyarakat Digital Indonesia (IMDI) 2025 mencatat skor 44,53, naik 1,19 poin dari tahun sebelumnya, tetapi pilar literasi digital turun 8,97 poin menjadi 49,28.

Dalam pemberitaan lain, Otoritas Jasa Keuangan menyebut Indonesia Anti-Scam Centre (IASC) menerima 637.055 laporan sejak beroperasi pada 22 November 2024 sampai 31 Juli 2026. Dari laporan itu, 1.179.881 rekening diverifikasi, 607.210 rekening diblokir, dana terkait penipuan sekitar Rp724,1 miliar diblokir, dan Rp204,3 miliar dikembalikan kepada korban.

Kerentanan lansia

Peneliti dan pegiat literasi digital Mafindo, Heni Mulyati, menilai lansia yang belum siap beradaptasi dengan perubahan teknologi lebih mudah menjadi sasaran manipulasi informasi. Ia menyoroti bahwa konten palsu kini kerap memanfaatkan gambar, video, suara, dan teknik AI yang sulit dikenali oleh publik awam.

Di Indonesia, Mafindo juga mencatat deepfake dan scam menjadi bagian dari pola hoaks yang makin sering muncul. Organisasi itu menyebut dari 1.593 hoaks yang dipetakan selama periode Oktober 2024 hingga Oktober 2025, sebanyak 202 konten atau 12,7 persen dibuat menggunakan AI.

Kerentanan lansia tidak hanya datang dari sisi teknologi. Dalam kajian dan program literasi digital yang dibahas Mafindo, kelompok ini sering membutuhkan waktu lebih lama untuk menyesuaikan diri dengan perubahan cara berkomunikasi di platform digital, sementara pesan berantai, tautan, dan gambar yang tampak meyakinkan kerap diterima tanpa verifikasi.

Karena itu, pendampingan keluarga menjadi penting. Praktiknya bukan melarang lansia memakai media sosial, melainkan membantu mereka memeriksa sumber, mengenali tanda pesan mencurigakan, dan menunda keputusan ketika menerima ajakan transfer uang, pembaruan data, atau tautan yang mengatasnamakan lembaga resmi.

AI memperumit pemeriksaan informasi

Komdigi pada September 2025 mengingatkan platform digital agar menyediakan fitur pengecekan untuk konten buatan AI guna membantu masyarakat menangkal hoaks dan deepfake. Ketua Mafindo Septiaji Eko Nugroho dalam agenda yang sama menilai deepfake semakin sering dipakai untuk penipuan digital.

Contoh risiko itu muncul pada kasus foto yang beredar tentang pocong di kawasan Monang Maning, Denpasar, pada 2026. Pemberitaan lokal menyebut polisi memeriksa foto tersebut setelah memicu keresahan, lalu mengungkap bahwa gambar itu dibuat dengan bantuan AI oleh seorang pelajar SMP di Denpasar.

Kasus lain datang dari warga Denpasar Barat, Darmawati, 63 tahun, yang hampir mentransfer uang setelah menerima pesan kemenangan undian perbankan. Keluarga kemudian mengingatkannya bahwa pesan itu merupakan penipuan. Peristiwa semacam ini menunjukkan bahwa unsur yang paling sering dipakai pelaku adalah tekanan untuk segera merespons.

Langkah yang disarankan

Mafindo mendorong tiga kebiasaan dasar: menahan diri sebelum bereaksi, memeriksa kebenaran pesan, lalu mengonfirmasi ke pihak yang relevan. Langkah itu dapat dilakukan dengan membandingkan isi pesan pada sumber resmi, meminta bantuan anggota keluarga, atau menunggu klarifikasi sebelum menyebarkan ulang informasi.

Pendampingan juga bisa dijalankan lewat komunitas warga, sekolah lansia, dan kelompok keagamaan. Dengan pola berulang, lansia mendapat ruang untuk berlatih mengenali ciri hoaks, deepfake, dan penipuan daring tanpa merasa dihakimi.

Dalam konteks Bali, kebutuhan ini bertemu dengan tingginya penggunaan perangkat digital dan makin rapinya modus penipuan. Karena itu, literasi digital bagi lansia tidak cukup hanya mengajari cara memakai gawai, tetapi juga membangun kebiasaan memeriksa sebelum percaya dan mengonfirmasi sebelum meneruskan.

Sumber

Baca berikutnya

  1. Lanjutan topik ini

  2. Terbaru di Data Bali

  3. Berita utama hari ini

Baca juga

‹ Kembali ke beranda

Bagikan artikel

Bagikan sebagai gambar

Untuk Story Instagram, Status WhatsApp, atau TikTok. Tautan artikel ikut disalin supaya bisa ditempel di stiker Tautan.

Pratinjau kartu Story / Status untuk artikel ini
Story / Status · 9:16
Simpan gambar
Pratinjau kartu Feed untuk artikel ini
Feed · 4:5
Simpan gambar

Alat baca

Normal

Contoh ukuran teks isi artikel. Pilihan ini tersimpan di perangkat Anda.