Bali Aktual

Selasa, 22 September 2026

BPBD Bali Catat 217 Kebakaran pada 11 April–6 September 2026

BPBD Provinsi Bali mencatat 217 kejadian kebakaran pada 11 April–6 September 2026. Kebakaran gedung dan permukiman menimbulkan estimasi kerugian sekitar Rp2,63 miliar, sementara karhutla berdampak pada 196,68 hektare lahan.

Oleh

Editor: Mursyid Sonsang

· Peristiwa: · 3 menit baca

Denpasar — Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Bali mencatat sedikitnya 217 kejadian kebakaran sepanjang periode pemantauan 11 April hingga 6 September 2026, terdiri atas 173 kebakaran gedung dan permukiman serta 44 kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Data ini disampaikan BPBD Bali dan dimuat dalam laporan yang dikutip sejumlah media pada 8–9 September 2026. Estimasi kerusakan akibat 173 kebakaran gedung dan permukiman mencapai Rp2.631.550.000 atau sekitar Rp2,63 miliar.

Kebakaran gedung dan permukiman tersebut tersebar di seluruh kabupaten/kota di Bali. Buleleng mencatat jumlah kejadian terbanyak, yakni 47 kasus. Disusul Denpasar 41 kasus, Badung 24 kasus, Karangasem 15 kasus, Jembrana 12 kasus, Klungkung 12 kasus, Bangli 9 kasus, Gianyar 8 kasus, dan Tabanan 5 kasus.

Angka 217 kejadian ini merujuk pada rekap khusus periode 11 April hingga 6 September 2026, berbeda dari rekap lebih luas yang menggunakan periode 1 Januari hingga 9 September 2026 dan menghasilkan angka 225 atau 269 kebakaran gedung dan permukiman. Dalam periode 11 April–6 September, BPBD Bali menempatkan kebakaran gedung dan permukiman sebagai salah satu dampak utama musim kemarau yang lebih panjang dan kering.

Kebakaran hutan dan lahan 196,68 hektare

Dalam periode yang sama, BPBD Bali mencatat 44 kejadian karhutla dengan total luas wilayah terdampak mencapai 196,68 hektare. Luas terdampak terbesar berada di Kabupaten Buleleng, dengan luasan sekitar 159,07 hektare menurut laporan yang dikutip media.

Karhutla juga terjadi di Nusa Penida, Kabupaten Klungkung, dengan dampak sekitar 15 hektare lahan. Di Kabupaten Karangasem, kebakaran melanda sekitar 6,63 hektare lahan pertanian dan lahan kosong di Kecamatan Kubu serta sekitar 2,10 hektare lahan kosong di Kecamatan Abang.

Di Jembrana, kebakaran hutan dan lahan tercatat seluas sekitar 8,05 hektare, sedangkan di Kintamani, Bangli, sekitar 3,83 hektare. Di Kecamatan Gunaksa, Klungkung, karhutla berdampak pada sekitar 2 hektare lahan.

Kebakaran fasilitas pengelolaan sampah

Selain permukiman dan lahan, kebakaran juga terjadi di fasilitas pengelolaan sampah. Laporan media menyebut kebakaran di TPST 3R Culik di Kecamatan Abang, Karangasem, dengan area terdampak sekitar 10 are. Kebakaran juga terjadi di TPST 3R Tejakula di Buleleng dan di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Suwung di Denpasar Selatan.

TPA Suwung yang berada di kawasan Jalan Bypass Ngurah Rai, Desa Serangan, dilaporkan mengalami kebakaran dengan area terdampak sekitar 2 are. Kebakaran di fasilitas pengelolaan sampah ini masuk dalam rekap kejadian kebakaran yang dipantau BPBD Bali sepanjang musim kemarau 2026.

Rangkuman angka utama

Berdasarkan rekap BPBD Bali periode 11 April hingga 6 September 2026, angka utama yang dicatat adalah:

  • Total kejadian kebakaran: 217 kasus.
  • Kebakaran gedung dan permukiman: 173 kasus.
  • Kebakaran hutan dan lahan (karhutla): 44 kasus.
  • Estimasi kerusakan gedung dan permukiman: Rp2.631.550.000.
  • Luas area karhutla terdampak: 196,68 hektare.

Imbauan menghadapi kemarau panjang

Sejumlah laporan media yang merujuk data BPBD Bali dan penjelasan pejabatnya menyebut musim kemarau 2026 diperkirakan berlangsung lebih panjang, lebih kering, dan dengan suhu relatif lebih tinggi dibandingkan kondisi normal. Kondisi ini dinilai meningkatkan potensi kekeringan, karhutla, dan kebakaran permukiman.

BPBD Bali mengimbau masyarakat merawat instalasi listrik secara berkala, menghindari penggunaan colokan dan kabel yang menumpuk atau tidak memenuhi standar, serta tidak melakukan pembakaran terbuka di lahan kering. BPBD juga merekomendasikan penyediaan alat pemadam api ringan (APAR) di lingkungan permukiman dan fasilitas publik sebagai upaya kesiapsiagaan menghadapi potensi kebakaran selama puncak kemarau.

Dalam rekap khusus periode 11 April–6 September 2026 ini tidak dijelaskan rinci jumlah korban jiwa atau luka, karena data korban lebih banyak muncul dalam rekap terpisah untuk periode 1 Januari hingga 9 September 2026.

Sumber

Baca berikutnya

  1. Lanjutan topik ini

  2. Terbaru di Data Bali

  3. Berita utama hari ini

Baca juga

‹ Kembali ke beranda

Bagikan artikel

Bagikan sebagai gambar

Untuk Story Instagram, Status WhatsApp, atau TikTok. Tautan artikel ikut disalin supaya bisa ditempel di stiker Tautan.

Pratinjau kartu Story / Status untuk artikel ini
Story / Status · 9:16
Simpan gambar
Pratinjau kartu Feed untuk artikel ini
Feed · 4:5
Simpan gambar

Alat baca

Normal

Contoh ukuran teks isi artikel. Pilihan ini tersimpan di perangkat Anda.