Bali Aktual

Jumat, 9 Oktober 2026

BPBD Bali Soroti Perubahan Iklim di Poltekpar Bali

BPBD Bali menekankan penguatan ketangguhan bencana dan perhatian pada dampak perubahan iklim dalam kegiatan di Poltekpar Bali pada 7 Oktober 2026.

Oleh

· 2 menit baca

Buka foto ukuran besar. Ilustrasi: Bibit tanaman kecil tumbuh di dalam pot tanah liat dengan latar belakang hijau.
Ilustrasi: Bibit tanaman kecil tumbuh di dalam pot tanah liat dengan latar belakang hijau. · Foto: Ylanite Koppens / Pexels

Badung — Pada 7 Oktober 2026, Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Bali mewakili Wakil Gubernur Bali dalam kegiatan peringatan Hari Pengurangan Risiko Bencana 2026 di Politeknik Pariwisata (Poltekpar) Bali. Kegiatan itu menekankan penguatan ketangguhan bencana sebagai gerakan bersama di Bali.

Dalam kegiatan tersebut, BPBD Provinsi Bali menyoroti dampak perubahan iklim dan pentingnya kesiapsiagaan di sektor pariwisata. Poltekpar Bali menjadi ruang pendidikan untuk memperkuat pemahaman mahasiswa mengenai keberlanjutan, lingkungan, dan mitigasi bencana.

BPBD Bali juga mengaitkan pengurangan risiko bencana dengan pengelolaan lingkungan. Langkah yang dibahas mencakup pengelolaan sampah dari rumah tangga hingga ruang publik, pemilahan sampah, serta pemanfaatan limbah organik menjadi pupuk. Upaya itu dipandang sebagai bagian dari menjaga keberlanjutan pariwisata Bali.

Ketangguhan bencana perlu masuk ke ruang pendidikan dan pariwisata

Bagi pembaca di Badung dan kabupaten/kota lain di Bali, pesan kegiatan ini berarti kesiapsiagaan tidak hanya dikerjakan saat bencana terjadi. Kampus, desa wisata, pengelola destinasi, banjar, pecalang, dan krama dapat berperan sesuai tanggung jawab masing-masing. Desa adat, yaitu komunitas hukum adat di Bali, juga memiliki awig-awig sebagai aturan bersama yang dapat mendukung pengurangan risiko bila diterapkan selaras dengan kebijakan kebencanaan.

BPBD Bali menyebut sejumlah program kesiapsiagaan, antara lain Desa Tangguh Bencana (Destana), Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB), dan Sertifikasi Kesiapsiagaan Bencana (Si-Kencana) untuk sektor pariwisata. Program tersebut diarahkan untuk meningkatkan ketahanan kawasan wisata terhadap bencana dan dampak perubahan iklim.

Kegiatan di Poltekpar Bali juga mendorong kampus menjadi Kampus Siaga Bencana. Dengan begitu, mahasiswa tidak hanya menerima materi, tetapi diharapkan ikut dalam upaya mitigasi perubahan iklim dan pengurangan risiko bencana.

Perubahan bagi pembaca hari itu adalah bertambahnya penekanan resmi BPBD Bali bahwa ketangguhan bencana harus dibangun bersama, termasuk melalui pendidikan pariwisata dan pengelolaan lingkungan. Tidak ada perubahan tarif, jadwal, atau jalur layanan publik yang disebut dalam laporan.

Sumber

Baca berikutnya

  1. Lanjutan topik ini

  2. Terbaru di Pariwisata

Baca juga

‹ Kembali ke beranda

Bagikan artikel

Bagikan sebagai gambar

Untuk Story Instagram, Status WhatsApp, atau TikTok. Tautan artikel ikut disalin supaya bisa ditempel di stiker Tautan.

Pratinjau kartu Story / Status untuk artikel ini
Story / Status · 9:16
Simpan gambar
Pratinjau kartu Feed untuk artikel ini
Feed · 4:5
Simpan gambar

Alat baca

Normal

Contoh ukuran teks isi artikel. Pilihan ini tersimpan di perangkat Anda.