Bali Aktual

Selasa, 22 September 2026

AirNav-Boeing Incar 34–40 Pergerakan per Jam di Bandara Ngurah Rai

AirNav Indonesia dan Boeing meneken Letter of Intent untuk studi optimasi pergerakan pesawat di Bandara I Gusti Ngurah Rai, Bali.

Oleh

Editor: Mursyid Sonsang

· Peristiwa: · 3 menit baca

Buka foto ukuran besar. Foto arsip: Bandara I Gusti Ngurah Rai, Bali.
Foto arsip: Bandara I Gusti Ngurah Rai, Bali. · Foto: File:Bali Airport (DPS) I Gusti Ngurah Rai International Airport.jpg : Pinterpandai.com de / Wikimedia Commons, CC BY-SA 3.0

TangerangAirNav Indonesia dan The Boeing Company menandatangani Letter of Intent (LoI) pada Selasa, 15 September 2026, untuk melakukan studi optimasi operasional pergerakan pesawat di Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai, Bali. Direktur Utama AirNav Indonesia Capt Avirianto Suratno menyebut kapasitas layanan di bandara tersebut saat ini sekitar 33 pergerakan pesawat per jam.

Menurut Avirianto, studi bersama Boeing ditujukan untuk mengurangi kepadatan pergerakan pesawat di darat, meningkatkan pemanfaatan landas pacu, serta memperkuat keselamatan dan ketepatan waktu penerbangan. Ia menyatakan bahwa kolaborasi ini ditargetkan dapat mengoptimalkan pergerakan pesawat dari sekitar 33 menjadi 34–40 pergerakan per jam, terutama pada jam sibuk.

AirNav menjelaskan bahwa Bandara I Gusti Ngurah Rai belum memiliki taxiway paralel, sehingga pesawat yang hendak berangkat dan pesawat yang baru mendarat berada pada jalur pergerakan yang saling beririsan. Keterbatasan ini membuat urutan dan koordinasi pergerakan di darat menjadi krusial untuk menjaga kelancaran arus pesawat.

Fokus studi dan pemodelan operasi

AirNav Indonesia menyatakan bahwa fokus utama studi adalah memetakan kondisi operasi saat ini dan menguji berbagai opsi peningkatan melalui pemodelan digital. Kajian diarahkan untuk mencari cara praktis berbasis data guna mengurangi antrean dan kepadatan pergerakan pesawat di darat, serta meningkatkan kapasitas pemanfaatan landas pacu tanpa bergantung terlebih dahulu pada pembangunan infrastruktur baru.

Menurut penjelasan AirNav, analisis akan dilakukan menggunakan Total Airspace and Airport Modeler (TAAM) milik Boeing. Model dasar (baseline) akan merepresentasikan operasi normal selama 24 jam dengan mempertimbangkan konfigurasi arah pergerakan pesawat, kemudian divalidasi menggunakan data operasional AirNav sebelum skenario alternatif disusun dan diuji.

Direktur Operasi AirNav Indonesia Setio Anggoro menyebut proyek kolaborasi ini diproyeksikan berlangsung sekitar satu tahun. Masa uji coba di lapangan untuk penerapan konsep manajemen lalu lintas udara yang baru direncanakan hingga Januari mendatang.

Tiga skenario dan perluasan ke bandara lain

Sejumlah laporan menyebut Boeing akan memodelkan hingga tiga skenario operasi untuk mengoptimalkan pergerakan pesawat di Ngurah Rai, dengan AirNav menyediakan data dan pengetahuan operasional navigasi penerbangan. Setiap opsi akan diuji melalui pemodelan dan simulasi sehingga rekomendasi yang dihasilkan memiliki dasar analisis yang kuat sebelum dipertimbangkan untuk diterapkan.

Jika konsep manajemen pergerakan pesawat yang dikembangkan bersama Boeing berhasil diimplementasikan di Bali, AirNav berencana mengadaptasi pendekatan serupa di bandara-bandara lain di Indonesia yang juga tidak memiliki taxiway paralel. Langkah ini dimaksudkan untuk membantu mengurai antrean pesawat di darat serta meningkatkan kapasitas pergerakan tanpa mengorbankan standar keselamatan.

Dampak bagi keselamatan, emisi, dan penumpang

AirNav dan Boeing menyatakan bahwa studi optimasi ini ditujukan untuk meningkatkan keselamatan penerbangan dan efisiensi operasional di darat maupun di ruang udara sekitar Bali. Penggunaan teknologi pemodelan digital dan pengaturan lalu lintas udara yang lebih efisien diharapkan dapat menghemat bahan bakar dan menekan emisi, meski besaran penghematan belum dijelaskan secara rinci.

Bagi penumpang, pengurangan antrean pesawat di darat dan peningkatan kapasitas pergerakan berpotensi mendukung ketepatan waktu penerbangan dari dan menuju Bali. Namun, dampak aktual terhadap waktu tunggu, kenyamanan penumpang, serta kebisingan di sekitar bandara akan bergantung pada skenario operasi yang akhirnya dipilih dan hasil uji coba hingga awal 2027.

Kerja sama ini merupakan kelanjutan dari Nota Kesepahaman (MoU) yang ditandatangani AirNav Indonesia dan Boeing pada 2023, yang membentuk kerangka kerja sama di bidang manajemen ruang udara, pelatihan teknis, dan perencanaan strategis manajemen lalu lintas udara. AirNav berharap hasil studi di Bandara Ngurah Rai dapat menjadi rujukan bagi peningkatan layanan navigasi penerbangan di bandara lain yang menghadapi keterbatasan serupa.

Sumber

Baca berikutnya

  1. Lanjutan topik ini

  2. Terbaru di Pariwisata

  3. Berita utama hari ini

Baca juga

‹ Kembali ke beranda

Bagikan artikel

Bagikan sebagai gambar

Untuk Story Instagram, Status WhatsApp, atau TikTok. Tautan artikel ikut disalin supaya bisa ditempel di stiker Tautan.

Pratinjau kartu Story / Status untuk artikel ini
Story / Status · 9:16
Simpan gambar
Pratinjau kartu Feed untuk artikel ini
Feed · 4:5
Simpan gambar

Alat baca

Normal

Contoh ukuran teks isi artikel. Pilihan ini tersimpan di perangkat Anda.