Bali Aktual

Minggu, 20 September 2026

TKPSDA Bali-Penida Bahas Gerakan Penyelamatan Air di DAS Unda

Sidang Pleno II TKPSDA Wilayah Sungai Bali-Penida pada 30 Juli 2026 membahas penguatan kelembagaan pengelolaan air dan Gerakan Penyelamatan Air berbasis Sad Kerthi di DAS Unda seluas sekitar 233 kilometer persegi yang melintasi Bangli…

Oleh

Editor: Mursyid Sonsang

· 4 menit baca

Denpasar — Balai Wilayah Sungai (BWS) Bali-Penida dan Tim Koordinasi Pengelolaan Sumber Daya Air (TKPSDA) memperkuat tata kelola sumber daya air di Bali melalui Sidang Pleno II TKPSDA Wilayah Sungai Bali-Penida yang digelar di Denpasar pada Kamis, 30 Juli 2026. Sidang membahas isu strategis pengelolaan air, keberlanjutan Gerakan Penyelamatan Air berbasis filosofi Sad Kerthi di Daerah Aliran Sungai (DAS) Unda, serta monitoring dan evaluasi kelembagaan pengelolaan sumber daya air.

Menurut Direktorat Jenderal Sumber Daya Air Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, BWS Bali-Penida berkantor di Jalan Kapten Tjok Agung Tresna Nomor 9, Denpasar, dan memiliki wilayah kerja Wilayah Sungai Bali-Penida sebagai wilayah sungai strategis nasional yang mencakup seluruh kabupaten dan kota di Bali.

DAS Unda menjadi salah satu fokus gerakan karena berperan penting sebagai sumber air untuk irigasi, kebutuhan domestik, dan sektor lain. Penelitian di jurnal Ecotrophic Universitas Udayana menyebut luas DAS Unda sekitar 233,1 kilometer persegi dan secara administratif melintasi Kabupaten Bangli, Karangasem, dan Klungkung. Data ensiklopedia daring yang merangkum informasi pengelolaan DAS di Indonesia mencatat luas Tukad Unda sekitar 233 kilometer persegi dengan BWS Bali-Penida sebagai otoritas wilayah sungai.

Menguatkan koordinasi kelembagaan

Dalam sidang pleno, Kepala Sekretariat TKPSDA Wilayah Sungai Bali-Penida Bima Anjasmoro menjelaskan pengelolaan sumber daya air di Bali menghadapi tekanan akibat perubahan tata guna lahan dan konversi kawasan. Tekanan tersebut berdampak pada daerah tangkapan air, debit mata air, serta meningkatkan risiko intrusi air laut, sehingga memerlukan penguatan koordinasi lintas sektor.

Kepala BWS Bali-Penida Gunawan Suntoro menyatakan bahwa peningkatan kebutuhan air, perubahan penggunaan lahan, dan dampak perubahan iklim membuat pengelolaan air di wilayah sungai Bali-Penida semakin kompleks. Menurut dia, kondisi ini memerlukan kelembagaan dan tata kelola yang terpadu dengan melibatkan pemerintah, sektor usaha, perguruan tinggi, organisasi masyarakat, dan komunitas peduli lingkungan.

TKPSDA berfungsi sebagai forum koordinasi pemangku kepentingan dalam pengelolaan sumber daya air di wilayah sungai. Tugas TKPSDA mencakup pembahasan rancangan pola dan rencana pengelolaan, program, rencana kegiatan, alokasi air, sistem informasi hidrologi, dan pendayagunaan kelembagaan, serta pemberian pertimbangan kepada menteri terkait pelaksanaan pengelolaan sumber daya air. Ketua TKPSDA yang juga pejabat perencanaan daerah Bali menyampaikan bahwa rekomendasi sidang diharapkan menjadi bahan tindak lanjut bagi instansi dan kelompok yang berkepentingan.

Hasil evaluasi kelembagaan yang disampaikan dalam sidang menunjukkan kelompok masyarakat peduli sungai di Bali telah banyak terbentuk dan aktif melakukan kegiatan di lapangan. Namun, koordinasi kelembagaan lain yang terlibat dalam pengelolaan air masih perlu diperkuat, antara lain terkait legalitas, kapasitas sumber daya manusia, dan keberlanjutan pembiayaan.

DAS Unda dan Gerakan Penyelamatan Air

DAS Unda di Bali menjadi salah satu lokasi prioritas Gerakan Penyelamatan Air berbasis Sad Kerthi. TKPSDA dan BWS Bali-Penida menempatkan kawasan ini sebagai bagian penting dalam penyediaan air bagi irigasi subak, kebutuhan rumah tangga, dan kegiatan ekonomi di wilayah hilir.

Menurut paparan BWS Bali-Penida, Gerakan Penyelamatan Air di DAS Unda dilaksanakan melalui beberapa pendekatan. Langkah yang dibahas meliputi rehabilitasi lahan kritis, pembangunan infrastruktur konservasi air seperti embung, sumur resapan, dan biopori, perlindungan mata air, pengendalian banjir, serta penguatan kelembagaan masyarakat melalui sosialisasi dan peningkatan kapasitas.

Pendekatan ini mengaitkan pengelolaan air dengan filosofi Sad Kerthi, khususnya Danu Kerthi, yaitu upaya menjaga dan memuliakan sumber-sumber air. BWS Bali-Penida menilai kearifan lokal dapat memperkuat kerja sama antara pemerintah, masyarakat, akademisi, dunia usaha, dan komunitas lingkungan dalam menjaga kelestarian air di DAS Unda dan Wilayah Sungai Bali-Penida.

Beberapa data penting dari pembahasan dan kajian tentang DAS Unda dan Wilayah Sungai Bali-Penida antara lain:

  • Luas DAS Unda sekitar 233–233,1 kilometer persegi berdasarkan data teknis BWS Bali-Penida dan kajian akademik.
  • Secara administratif, DAS Unda melintasi Kabupaten Bangli, Karangasem, dan Klungkung.
  • BWS Bali-Penida memiliki wilayah kerja Wilayah Sungai Bali-Penida yang mencakup seluruh kabupaten dan kota di Bali.

Antisipasi kekeringan dan infrastruktur air

Di luar agenda sidang pleno, BWS Bali-Penida juga menjalankan program penguatan ketahanan air melalui pembangunan dan pengelolaan infrastruktur seperti bendungan, jaringan irigasi, dan embung, serta dukungan penyediaan air baku untuk pertanian. Kebijakan pengendalian daya rusak air dan konservasi diarahkan untuk melindungi permukiman dan lahan pangan dari banjir serta memulihkan ekosistem yang terdampak.

Dokumen prakiraan musim kemarau 2024 dari Stasiun Klimatologi Bali BMKG menunjukkan puncak musim kemarau di sebagian besar wilayah Bali diperkirakan terjadi pada Juni hingga September 2024, dengan banyak zona musim di Jembrana dan Buleleng yang mengalami puncak kemarau pada Agustus. Informasi ini menjadi salah satu dasar bagi instansi pengelola air di Bali untuk menyiapkan langkah antisipasi kekeringan, termasuk optimalisasi jaringan irigasi dan infrastruktur konservasi air.

Dalam konteks pertumbuhan penduduk dan kegiatan pariwisata di berbagai kabupaten, tantangan pengelolaan air di Bali bukan hanya penambahan infrastruktur. Ketersediaan air juga bergantung pada perlindungan daerah tangkapan, kejelasan peran antarinstansi, dan keberlanjutan pembiayaan kelembagaan yang mengelola sumber daya air di Wilayah Sungai Bali-Penida.

Sumber

Berita berikutnya

Baca juga

‹ Kembali ke beranda

Bagikan artikel

Bagikan sebagai gambar

Untuk Story Instagram, Status WhatsApp, atau TikTok. Tautan artikel ikut disalin supaya bisa ditempel di stiker Tautan.

Pratinjau kartu Story / Status untuk artikel ini
Story / Status · 9:16
Simpan gambar
Pratinjau kartu Feed untuk artikel ini
Feed · 4:5
Simpan gambar

Alat baca

Normal

Contoh ukuran teks isi artikel. Pilihan ini tersimpan di perangkat Anda.